Obligasi Rupiah Tetap Memikat, Tapi Perlu Selektif

Kamis, 13/09/2012

NERACA

Jakarta – Penerbitan obligasi rupiah dinilai masih prospektif di tengah kewaspadaan tinggi di tengah pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur yang telah berkembang hingga hampir mencapai US$ 6 triliun.

Namun kalangan pengamat mengingatkan, para pembuat kebijakan di kawasan ini harus mempersiapkan diri untuk guncangan dan volatilitas yang akan terjadi dari pasar keuangan global setiap saat tidak terduga.

"Pasar obligasi mata uang lokal kita (rupiah) muncul sebagai alternatif yang aman di tengah krisis yang terjadi, namun kita tidak boleh lengah," kata Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional Prof. Dr. Iwan J. Azis dalam rilisnya kepada pers, pekan ini

Namun ekonom EC Think Indonesia,Telisa Aulia Falianty, mengingatkan Indonesia harus berhati –hati dengan obligasi rupiah yang banyak dimiliki asing. Pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) sebagai regulator, menurut dia, harus mempunyai early warning sytem yang baik,menyiapkan dana untuk buy back dan mempersiapkan kemampuan membayar bunga.

Telisa mengtakan, pemerintah juga harus menyusun kerangka stabilisasi pasar obligasi yaitu kerangka kerja yang menyediakan sumber pendanaan untuk menstabilkan pasar obligasi serta mekanisme koordinasi antara pihak terkait. Seperti menyiapkan standard operating procedures (SOP) dan mekanisme pertukaran informasi serta jadwal untuk pengambilan keputusan dan tindakan secara cepat dan tepat.

Langkah preventif lainnya, adalah penyediaan pinjaman siaga, yaitu fasilitas pembiayaan kontinjensi. Saat ini sejumlah negara dan lembaga internasional sudah memberikan komitmen pinjaman siaga sedikitnya US$5 miliar.

Layak Investasi

Secara terpisah, guru besar FE Univ. Satya Wacana Salatiga Prof. Dr. Hendrawan Supratikno mengungkapkan, obligasi rupiah masih menarik bagi Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan keadaan pertumbuhan ekonomi yang seimbang di angka 6%. Bahkan obligasi rupiah ini bisa menarik bagi investor asing, karena Indonesia masuk dalam radar investor global dan layak untuk investasi. ”Tetapi manajemen keuangan yang dilakukan haruslah sehat sehingga utang obligasi dapat dikendalikan,” katanya kepada Neraca, kemarin.

Dia mengingatkan kepada pemerintah Indonesia supaya dapat mengendalikan utangnya, jangan sampai utang banyak tetapi hanya sedikit yang bermanfaat. Dia juga melihat komitmen utang bisa membebani APBN, dan jangan membuat Indonesia menjadi kecanduan akan utang.”Utang obligasi harus dilakukan secara selektif sehingga utang itu tidak membebani ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Saat ini total emisi obligasi, sukuk, dan efek beragun aset (EBA) yang tercatat di BEI berjumlah 198 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 170,89 triliun dan US$80 juta yang diterbitkan oleh 98 emiten. Adapun Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 90 seri dengan nilai nominal Rp 791,18 triliun dan empat EBA senilai Rp 1,25 triliun.

Penerbitan surat utang korporasi dalam rupiah bakal banjir karena biaya dana (cost of fund) rendah akibat naiknya peringkat utang Indonesia. Bunga obligasi kecenderungannya akan rendah seiring kebijakan bank sentral menjaga BI Rate tetap rendah 5,75%.

Selain itu, penerbitan obligasi korporasi marak karena besarnya permintaan. Di sisi lain, perbankan bisa meningkatkan loan to deposit ratio (LDR)- nya lebih dari 100% dengan masuk ke pasar obligasi dan pendanaan jangka panjang. Ini sekaligus memperbaiki mismatch dalam hal maturitas antara sumber dana dengan penyaluran kredit.

Hanya saja, sejumlah sentimen negatif global yang salah satunya adalah sentimen negatif dari Federal Reserve, AS, diperkirakan akan menekan pergerakan pasar utang Indonesia. Sentimen dari pasar global ini diperkirakan akan menjadi fokus pelaku pasar di tengah minimnya sentimen dari dalam negeri. Sentimen itu muncul di tengah potensi investor yang cenderung mengamankan posisinya.

Sebagai contoh pada perdagangan pekan lalu, di mana pasar surat utang atau obligasi negara (SUN) di Indonesia bergerak mixed dalam rentang yang terbatas. Pasar sempat melemah terbatas pada awal perdagangan, sebelum kembali naik dan ditutup di level yang tidak banyak berubah dari penutupan sebelumnya. Yield SUN bertenor pendek dan menengah rata-rata turun 3 basis poin dan 2 basis poin, sementara yield tenor panjang rata-rata naik sebesar 1 basis poin.

Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, obligasi rupiah masih berpeluang dibandingkan dengan obligasi mata uang asing, karena dengan growth yang mencapai 6% serta current depression hanya 0,5% tentu masih lebih menguntungkan dibandingkan dengan obligasi mata uang asing. Dibandingkan seperti Filipina dimana current depression mencapai 3%, obligasi rupiah masih lebih menarik dibandingkan yang lainnya.

Destry mengakui, defisit anggaran masih di kisaran 1,5%, dan rasio pembayaran utang sudah lebih baik ketimbang tahun sebelumnya, ini tentunya pemerintah pasti akan memanfaatkan utang untuk menunjang perekonomian yang lebih produktif di masa depan.

Walau prospek obligasi masih menarik, kupon obligasi korporasi menunjukkan tren kenaikan. Ini terjadi karena investor mengacu pada yield Surat Utang Negara (SUN) yang pada awal tahun naik di angka 4% menjadi 6% (Mei 2012). "Akibatnya, kupon obligasi korporasi pun mengalami kenaikan, yakni yang semula pada awal tahun rata-rata 7% hingga 8%, kini menjadi 9% dan 10% persen," ujarnya. iwan/novi/mohar/fba