Roadshow “Jualan” BUMN Terkait Defisit APBN?

NERACA

Jakarta—Langkah tujuh BUMN melakukan roadshow ke Hongkong kembali dipertanyakan. Apalagi roadshow ditargetkan mencari dana sekitar US$210 miliar dari investor asing, lalu untuk apa dana tersebut? Karena ada indikasi kemungkinan pencarian dana tersebut terkait upaya menutup defisit transaksi berjalan.

“Ekspor Indonesia sedang lesu dan tren impor meningkat. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menggenjot BUMN. Toh selama ini BUMN sering dijadikan alat untuk menutup berbagai kebijakan buruk pemerintah,” kata ekonom Fuad Bawazier kepada Neraca, Senin (27/8).

Menurut mantan Menkeu itu, kegiatan tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan. Karena masih memungkinkan bagi BUMN untuk mencari dana di dalam negeri. Sebab itu, Fuad mengecam langkah roadshow tersebut. Setidaknya pemerintah harus mengoptimalkan peran BUMN dan berani mengerem penjualan saham BUMN ke pihak asing.

Menurut Fuad, pemerintah harus memegang penuh kepemilikan saham-saham BUMN. Hal ini terkait bagi percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Pemerintah harus membuktikan ucapannya untuk mendayagunakan BUMN dengan tidak lagi menjual saham BUMN.” jelasnya.

Dia menilai, BUMN sebenarnya bisa menjadi pemain utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi, tergantung bagaimana mengelolanya. “Swastanisasi bukan berarti menjual saham-saham BUMN ke luar. Akan tetapi BUMN mau saja dijadikan tumbal asalkan bisa menjadi direksi,” ungkapnya.

Tak beda jauh dengan pendapat Kepala LPEM UI Eugenia Mardanugraha. Dia menilai tak semua BUMN perlu ekspansi usaha. “Saya melihat, dari 7 BUMN itu tidak semuanya perlu melakukan ekspansi. Karena rata-rata BUMN tersebut sudah cukup mandiri,” ucapnya

Oleh karena itu, kata Eugenia, langkah roadshow BUMN ke Hongkong ini tidak terlalu jelas manfaatnya. “Kalau pun mau meningkatkan kinerjanya seharusnya BUMN tersebut membuat rencana kerja yang jelas terutama untuk mendukung perkembangan ekonomi negara,” tambahnya.

Bahkan Eugenia mengingatkan, jika roadshow tersebut terkait privitasasi ataupun penjualan obligasi, maka penggunaan dana dari investor tersebut harus cermat dan hati-hati. “Apalagi kalau nantinya berupa obligasi yang ditawarkan, maka dapat membebankan negara. Kalau mereka bisa mengembalikan nilai investasinya, kalau tidak akhirnya negara juga yang kena imbasnya,” tegasnya.

Sementara itu, Adi Setianto, Direktur Bank BNI, mengatakan bahwa pihaknya ditunjuk sebagai host atau tuan rumah dalam acara tersebut, karena memang acaranya akan diadakan di Kantor Cabang BNI di Hongkong. ”Sebagai host, kita berusaha untuk menjembatani bisnis antara BUMN dan investor di Hongkong. Kalau ada informasi dari investor, kita bisa sampaikan kepada pihak di Indonesia. Kita juga ingin memperkenalkan BNI cabang Hongkong, supaya makin dekat dengan investor di sana untuk membuka peluang bisnis. Bahkan akan semakin baik jika transaksi dilakukan lewat cabang kita di sana,” paparnya.

Adi mengatakan tujuan BNI menjadi host di acara ini adalah supaya investor yang mau bertransaksi bisa lewat BNI cabang Hongkong ”Harapan kami, investor-investor luar negeri yang mau beli barang, misal obligasi atau share kredit, lewat BNI. Karena kita kan anggota Euro Grade dan kita punya custody kan,” ujarnya.

Selain itu, menurut Adi, BNI juga ingin menambah fee based income-nya setelah acara itu berlangsung. Namun ia belum bisa menyebutkan berapa, karena belum ada perhitungannya. ”Lebih banyak fee based income (yang kita harapkan) sambil memberi informasi mengenai perkembangan ekonomi di Indonesia, dibantu juga oleh BKPM, nah, itu kita berharap memberi value kepada investor. Masa kita punya BNI di sana, tidak ada sesuatu yang bisa kita sampaikan kepada investor. Harapannya kalau itu sukses, orang investasi di sini, akan lewat BNI Hongkong, kan lumayan dapat transaksinya," ujarnya.

Menurut Destry Damayanti, Chief Economist Bank Mandiri, dengan mengikuti acara tersebut, Bank Mandiri ingin memperluas basis investornya, khususnya investor dari luar negeri. ”Kita ingin memperluas investor based kita di luar negeri, supaya lebih bervariasi. Jadi investor kita terdiri dari investor lokal dan luar negeri. Ini akan lebih bagus karena tidak hanya akan berkonsentrasi pada sedikit investor saja,” jelasnya.

Menurut dia, Bank Mandiri tidak akan menjual saham di sana. ”Karena saham yang dijual hanya ada di market. Kalau investor tertarik, mereka akan cari di market, dan harga saham Mandiri akan naik,” katanya.

Destry menambahkan bahwa ini akan menguntungkan emiten, khususnya BUMN, karena kapitalisasi pasarnya naik. ”Maka ini akan mempengaruhi pasar modal agar lebih likuid. Dengan banyak investor, (harga) saham kita akan stabil,” tuturnya.

Ketika ditanya, apakah acara ini akan digunakan pemerintah untuk menjual saham perusahaan BUMN agar defisit neraca berjalannya tertutupi, menurut dia, tidak ada hubungannya. ”Itu tidak ada hubungannya. Karena pertama, itu untuk mmemperkenalkan perusahaan domestik di luar negeri, untuk memberikan gambaran mengenai potensi Indonesia. Dan kedua, untuk meng-attract dana-dana asing masuk ke Indonesia, sehingga pasar modal akan lebih likuid,” imbuhnya.

Di tempat yang sama Parikesit Suprapto, Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian BUMN, mengatakan Echopulence – Indonesia Investor Day akan diadakan di Hongkong, pada tanggal 30-31 Agustus 2012. Acara ini adalah yang pertama dari Kementerian BUMN. “Andaikata ini berhasil, kita akan membuat annual event yang sama tapi tempatnya (di negara) berbeda-beda. Kita memang kalau roadshow akan berkeliling ke negara-negara seperti Singapura, Hongkong, Eropa, dan Amerika Serikat,” katanya.

Ada tujuh BUMN yang diajak berpatisipasi dalam acara ini, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Semen Gresik (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, dan PT Pegadaian (Persero). Enam BUMN yang disebut pertama, kecuali Pegadaian, adalah perusahaan-perusahaan yang masuk daftar 2000 perusahaan global versi Majalah Forbes.

Parikesit menambahkan ada 50 investor papan atas dari Hongkong yang akan berpartisipasi, dengan perkiraan nilai Assets Under Management (AUM) lebih dari US$210 miliar. ”Dalam acara ini kita akan menyampaikan Indonesia economy outlook supaya bisa menarik investor sekaligus memperlihatkan budaya Indonesia ke luar negeri,” jelasnya.

Saham BUMN yang bisa dilepas ke pasar modal, menurut Parikesit, maksimal 40%. ”Yang (perusahaan BUMN) Tbk itu sudah 40% sahamnya dilepas di pasar. Namun tidak mungkin lebih dari itu yang dilepas ke swasta atau investor asing. Untuk siapa yang membeli, kita tidak bisa membatasi, karena menjualnya ke pasar,” pungkasnya. ria/novi/lia/cahyo

BERITA TERKAIT

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…

Genjot Belanja APBN Alkes Dalam Negeri - Tekan Kebutuhan Impor Alkes

NERACA Jakarta - Ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan (alkes) impor masih relatif tinggi. Berdasarkan data izin edar yang diterbitkan oleh…

BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien? - PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…

DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED - BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25%

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI - BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien?

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…