Sukses dengan Kerja keras dan Pantang Menyerah

Pengusaha Jamur Tiram : Kaiman

Sabtu, 07/07/2012

NERACA

Kesulitan hidup pria asal Kota Surabaya akhirnya terbayar sudah. Bisnis jamur tiram yang digelutiya sejak 8 tahun lalu, kini berbuah manis. Kaiman namanya, pria dengan pendidikan akhir kelas V sekolah dasar ini, mampu membuktikan, bila kerja keras dan semangat pantang menyerah telah mengantarnya menjadi pengusaha sukses.

Bisnis pembudidayaan jamur tiram mampu membalikkan keadaan. Tengok saja bisnis yang kini beromzet ratusan juta rupiah. Konon dari Rp 300 juta penghasilan kotornya per bulan, ia mendulang sekitar 30%-35%.

Derajat hidup pun terangkat dengan segenap kemuliaan. Kaiman bahkan mampu membeli lahan seluas lebih dari 1 hektar, rumah sebanyak tiga buah, dan mobil sebanyak empat buah. Kelimpahan harta yang kini dinikmati Kaiman dan keluarganya tak menjauhkannya dari rasa syukur. Setiap bulan, ia mengucurkan bantuan sosial ke masyarakat antara Rp 2,5 juta-Rp 3 juta, sebagai wujud rasa terima kasihnya.

Saya tidak berubah, kata Kaiman, “Saya masih menjadi sopir, karena dari sanalah saya berasal,” kata Kaiman menghindari sikap sombong.

Kisah sukses pria yang sempat menjadi preman di Kota Surabaya ini, berawal dari bisnis jamur tiram yang tanpa diduga berkembang luar biasa.

Melalui Pusat Pengembangan Kewirausahaan Sampoerna (PPK Sampoerna), Kaiman turut bergabung untuk mendapatkan pelatihan dan membuka kesempatan belajar. Dari sinilah perubahan Kaimandan keluarganya bermula. Saat mengikuti pelatihan, ia merasa mendapat pengetahuan baru yang jauh lebih mendalam dibandingkan sebelumnya.

Lokasinya pelatihan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, mempermudah Kaiman melakukan konsultasi pabila ia menemui kendala dalam pelaksanaan. “Saya banyak bertanya, dan itu kuncinya,” ujar Kaiman mengenang.

Pria yang memiliki tiga rumah produksi bisnis budidaya jamur di Desa Bulukandang Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan ini bertutur, bahwa awalnya ia tidak memiliki cukup seputar keahlian teknis, karena itu ia memilih menjalani profesi sopir truck gandeng. “Jika ada muatan,” kenang kaiman, ia menjelah dengan truck gandeng hingga ke Bali. Dan sebaliknya, bila muatan kosong tak ada pekerjaaan lain selain menganggur, “Terus terang, saya selalu dalam kondisi kekurangan,” ucap Kaiman melihat kembali kondisi yang dialami delapan tahun lalu .

Karena terus menerus mengalami kekurangan, Kaiman bahkan pernah terjun ke dunia kelam menjadi preman. Meski Kaiman sempat mengangkat kondisi ekonomi keluarga, namun tidak berlangsung lama. “Justru pekerjaan itu hampir merusak kondisi kelurga,” ujar Kaiman memetik pelajaran.

Ditengah kehidupannya yang tidak menentu, beruntung ia cepat bangkit. Perlahan ia melihat dengan seksama wajah lingkungan desanya, Bulukandang Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Ia tertegun menyadari begitu melimpahnmya limbah serbuk gergaji kayu hasil yang terbuang sia-sia. Ketika itu terbetik gagasan untuk memanfaatkanlimbah kayu agar lebih bernilai.

Terlebih ia teringat sang sahabat, Fauzi Bakar yang sukses membudidayakan jamur di Kota Bandung dengan menggunakan media bekas gergajian kayu, ia pun bertekad menyusuri jejak kesuksesan sang sahabat.

Kaiman pun mengikuti program binaan bisnis jamur tiram yang digelar PT HM Sampoerna Tbk, selain pelatihan, ia mendapat bantuan peralatan, manajemen serta promosi.

Pada 2005, Kaiman mengikuti pelatihan usaha di PPK Sampoerna selama 14 hari, ia dibimbing seputar pengetahunan pengadaan bibit, sistem kultur jaringan, metode pembudidayaan dan proses pembuatan media tanam jamur.

Berbekal pengetahuan tersebut, dan modal 1.000 unit baglog, Kaiman memulai usaha budidaya jamur tiram dengan penuh keseriusan, “Jamur tiram tergolong tanaman yang cepat tumbuh dan setiap unit baglog dapat menghasilkan panenan hingga 1 kg selama 5 bulan, lalu diganti media tanam baru. Tetapi saat panen perdana saya kesulitan mencari pasar,” ucap Kaiman menerangkan.

Dengan ketekunan, Kaiman mampu memasarkan jamur tiram ke para pengepul maupun restoran untuk bahan masakan. Bahkan ia sempat berkeliling menjajakan produk jamur tiramnya ke pelbagai restoran dan swalayan di Surabaya, hingga akhirnya ia dibantu PPK Sampoerna untuk mempromosikan produk jamur dengan mengikuti beberapa ajang pameran yang disponsori PPK Sampoerna.

Berkat ketekunan dalam memperluas pasar, Kaiman berhasil mendapatkan order dari para pengepul maupun restoran dipelbagai kota. Seiring semakin besarnya daya serap pasar, Kaiman pun dapat meningkatkan volume usahanya.

Kini ia telah memiliki beberapa kumbung yang digunakan membudidayakan puluhan ribu unit baglog, “Saya Ingin terus memperluas usaha dan bisa mengajak warga sekitar untuk bekerja di usaha ini, agar dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar,” tambah dia.

Perlahan tapi pasti, budidaya jamur tiram Kaiman mulai dikenal dan dipercaya pasar. Sesuai tuntutan pasar, Kaiman harus menyiapkan jamur dan baglog dalam jumlah yang cukup. Untuk itu Kaiman tidak sendirian dalam menggerakkan roda budidaya jamur. Sebanyak 40 orang tenaga kerja yang berasal dari tetangga sekitarnya direkrut dan dijadikan tenaga kerja.

Produksi jamur pun melonjak berkali-kali lipat. Rata-rata mampu memanen 1 kuintal jamur tiram per hari. Belum lagi penjualan baglog yang nyatanya menjadi sumber pendapatan tak terduga, karena tiap hari sebanyak 3000 buah bag log mampu diproduksi dan diserap pasar dengan baik.

Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya jamur tiram dan produksi baglog, Kaiman kini benar-benar mampu menikmati hasilnya. Dari jerih payahnya, kini keadaan ekonomi keluarganya jauh lebih baik, itu pun hanya dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah.