Saham Perusahaan Yang Berinduk ke Jepang Mulai Dihindari

Dampak Gempa Dan Tsunami Jepang

Rabu, 16/03/2011

NERACA

Jakarta – Enam hari pasca gempa dan tsunami melanda Jepang, lambat tapi pasti perekonomian negeri Sakura tersebut mulai kedodoran. Tidak heran kalau kemudian dampaknya memberikan sentimen negatif di pasar modal Asia dan termasuk Indonesia.Bahkan dampak tersebut mulai merambah ke pasar bursa di daratan Eropa.

Selasa kemarin dilaporkan, saham-saham di bursa Eropa jatuh jatuh pada awal perdagangan akibat kekhawatiran akan adanya krisis nuklir yang terjadi di Jepang dan juga dampak kerugian yang dialami Jepang akibat tsunami.

Direktur Mandiri Investasi Andreas M. Gunawidjaja mengatakan, kondisi buruk perekonomian Jepang dan kabar bocornya radiasi nuklir menjadi alasan utama investor menghindari saham-saham yang berkaitan dengan industri Jepang atau perusahaan yang produknya diekspor ke sana. “Saham-saham Jepang untuk sementara waktu kita tahan dulu karena trennya akan negatif,” katanya di Jakarta, Selasa (15/3).

Pertimbangan historikal menjadi landasan utama bagi investor pasar modal untuk tidak mengkoleksi saham-saham produsen Jepang. Sebut saja PT. Astra Internasional Tbk (ASII) atau seperti PT United Tractor Tbk (UNTR). Pasalnya, di tengah krisis ekonomi akibat musibah gempa industri Jepang perlu waktu untuk recovery kinerja keuangan. Oleh karena itu, saat ini banyak investor mulai mengamankan portofolionya ke sana.

Menurut Andreas, Mandiri Investasi dalam mengkoleksi saham sangat mempertimbangkan faktor fundamental perusahaan, likuiditas dan juga teknikal. Semua faktor tersebut akan menjadi acuan saham-saham yang layak dikoleksi untuk mendapatkan return (keuntungan) yang baik.

Maka atas dasar pertimbangan tersebut, saham-saham di sektor komoditas diperkirakan trennya akan mengalami kenaikan. Seperti baja dan batubara, karena di Jepang akan banyak membutuhkan untuk membangun infrastruktur.

Dalam penjelasannya, Andreas menyampaikan, pascabencana dan tsunami, negeri Sakura itu lebih fokus ke restrukturisasi pembangunan, khususnya infrastruktur. “Selain komoditas, harus dilihat juga bijih besi dan nikel. Karena Jepang sedang membutuhkannya jadi ekspor kesana tinggi. Komoditas ini kan harganya sama dengan global. Permintaan naik, otomatis harga tinggi. Kalau normal, ya harga turun,” ujarnya.

Dia melihat, perekonomian Jepang normal kalau produksi pabrik mulai beroperasi kembali. “Tiga bulan kondisinya masih seperti sekarang. Butuh waktu memang untukrecoverykembali. Tapi saya yakin, Jepang akan cepat. Kita akan pantau terus situasinya,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan ekonom Danareksa Purbaya Yudi Sadewa. Menurutnya langkah investor untuk menahan sementara emiten-emiten industri Jepang atau emiten yang produknya diekspor ke sana sangat tepat. “Untuk jangka pendek ini langkah tepat untuk menunda beli saham-saham industri Jepang,” tuturnya.

Hanya saja, Purbaya menilai, kondisi recovery ekonomi Jepang pasca gempa dan tsunami tidak akan berlangsung lama. Maka tidak tepat juga, menghindari saham-saham industri Jepang untuk jangka panjang dan berlarut-larut. Alasannya, tidak semua industri Jepang terganggu akibat krisis bencana dan diyakini permintaan ekspor disana untuk beberapa komoditas bakal meningkat.

Selain itu, dia juga mengungkap, perekonomian Jepang diprediksi akan cepat bangkit karena kondisi tersebut tidak memberikan dampak menyeluruh terhadap perekonomian negeri matahari tersebut. Kemudian belajar dari pengalaman gempa Kobe tahun 1995, perekonomian Jepang cepat pulih dan permintaan pasar di sana tidak terganggu.

Purbaya juga membantah, analisis potensi terjadinya penarikan dana besar-besaran investor Jepang dari Indonesia untuk memulihkan perekonomian disana. “Tidak semua industri Jepang menarik dananya di Indonesia, karena yang kena gempa dan rusak perekonomian hanya sebagian dan bukan seluruhnya kota-kota di Jepang,” tegasnya.

Meskipun demikian, dia mengakui, dampak krisis ekonomi Jepang membuat beberapa investor menarik dananya di Indonesia. Namun kondisi tersebut tidak memberi pengaruh signifikan. Alasannya fundamental ekonomi Indonesia masih bagus dan terlebih suku bunga disini cukup besar dibandingkan di Jepang. “Kalau bicara menanamkan dana yang aman, Indonesia tempatnya karena masih memberikan return besar,” tandasnya.

Pandangan berbeda disampaikan Direktur Capital Brigde Indonesia, Aji Martono, terkoreksinya saham-saham produsen asal Jepang seperti Toyota Motor menjadi kesempatan baik untuk menambah produksinya danbahan-bahannya bisa diambil dari pabrik yang ada di Indonesia. “Kalau saya malahtidak melihat untuk menghidari saham-saham yang berkaitan dengan Jepang. Justru ini kesempatan baik dan momentum dimana untuk memperbaiki infrastukturnyamembutuhkan bahan-bahan dari kita, seperti kebutuhan baja, semen dan lainsebagainya,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN, Mustafa Abubakar pernah bilang, gelombang tsunami Jepang diakui memberikan dampak buruk terhadap investasi perusahaan-perusahaan BUMN."Saya kira sebagian perusahaan seperti Pertamina akan terganggu bisnis minyaknya," katanya.

Investasi Pertamina di Jepang memiliki cabang-cabang fasilitas pendukung. Selain itu, pembeli terbesar minyak Pertamina adalah Jepang dan Korea.

Asal tahu saja, pada perdagangan Selasa (15/3), bursa saham di London, Paris, dan Milan terjun lebih dari 3%. Sementara bursa di Frankfurt jatuh 4,5% akibat jatuhnya saham-saham perusahaan Eropa sebagai imbas kerontokan bursa Jepang sebesar lebih dari 10% Selasa kemarin. Jepang seperti berlutut setelah Nikkei ambruk dan ini ikut berimbas pada penurunan saham-saham di bursa Eropa yang juga diakibatkan karena dampak nuklir karena gempa di Jepang.

Sementara kondisi dalam negeri tidak jauh berbeda, menutup perdagangan Selasa sore, IHSG ditutup turun 45,356 poin (1,28%) ke level 3.524,483. Sementara Indeks LQ 45 terkoreksi 8,809 poin (1,39%) ke level 629,303. Indeks belum mampu keluar dari tekanan aksi jual akibat bencana Jepang. Namun aksi beli di saham-saham tambang dan konsumer bisa sedikit menahan pelemahan indeks. Kepanikan pasar terhadap penurunan lebih dalam ekonomi Jepang dan spekulasi terjadinya arus balik modal ke Jepang mengakibatkan tekanan jual di Asia.

Indeks Nikkei 225 jatuh 1.015,34 poin (10,55%) ke level 8.605,15 dan sebelumnya diawal pekan kemarin, Nikkei 225 anjlok 633,94 poin (6,18%) ke level 9.620,49. Akibatnya, indeks Nikkei menjadi faktor penentu pergerakan bursa-bursa regional pada perdagangan kemarin, ditutup terkoreksi 1.015,34 poin (10,55%) ke level 8.605,15. Bursa Jepang anjlok ke titik terendahnya Selasa (15/3), pasar sudah kehilangan nilai perdagangannya sampai seperlima, dihitung sejak gempa dan tsunami melanda Jepang akhir pekan lalu.