Perkembangan Investasi Reksa Dana 2012

NERACA

Reksa dana pasar uang di tahun 2012 sangat ramai di pasar modal, diantara semua jenis reksa dana, produk reksa dana pasar uang telah mencetak peningkatan Nilai Aktiva Bersih (NAB) paling tinggi sepanjang tahun ini, yakni sebesar 49,47%.

Ini bisa dilihat, dari sembilan produk yang diklasifikasikan bersama dengan reksa dana, enam diantaranya mengalami penurunan NAB, sedangkan dua lainnya menemani reksa dana pasar uang menoreh keuntungan. Sebagai catatan bagi yang belum mengetahui, apa yang dimaksud NAB adalah posisi aset kelolaan nasabah. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan posisi portofolio nasabah.

Sedangkan, berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana (PIRD) yang dipublikasikan Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), yang baru saja dibuka kembali setelah ditutup selama dua tahun lebih tanpa alasan yang jelas, nilai kenaikan NAB tertinggi hingga pekan kemarin adalah produk reksa dana pasar uang.

Secara total, “posisi NAB seluruh produk reksa dana per akhir pekan kemarin tercatat sebesar Rp 117,291 triliun, naik tipis 0,47% dari posisi akhir tahun 2009 sebesar Rp 116,732 triliun. Sementara jumlah unit reksa dana yang dibeli hingga pekan kemarin sebanyak 71,350 miliar unit, meningkat 1,96% dari posisi akhir tahun lalu sebanyak 69,978 miliar unit.”

Melihat rasio pertumbuhan unit penyertaan yang jauh lebih tinggi ketimbang peningkatan NAB yang hanya naik tipis, menunjukkan kalau sebagian besar aset kelolaan banyak mengalami penurunan.

Untungnya, kenaikan NAB lainnya berhasil mengangkat seluruh total NAB produk dana kelolaan, terutama ditopang oleh kenaikan NAB produk reksa dana pasar uang yang menjadi jawara. Sedangkan produk reksa dana saham dan dana kelolaan syariah ikut menyumbangkan kenaikan NAB, meskipun tidak sebesar reksa dana pasar uang.

Kenaikan NAB reksa dana pasar uang, baik dari persentase maupun nilai nominalnya sukses menopang kenaikan seluruh NAB produk dana kelolaan, setidaknya hingga pekan kemarin. Sebagai catatan,” posisi NAB seluruh produk dana kelolaan saat ini sebesar Rp 117,291 triliun merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia”. Lantas, kenapa produk reksa dana pasar uang begitu menoreh kemilau besar tahun ini?

“Reksa dana pasar uang merupakan produk dana kelolaan yang penempatan dananya dialokasikan sebagian besar (80%) pada produk tabungan, deposito dan sertifikat Bank Indonesia (SBI), sedangkan sisanya pada instrumen-instrumen surat utang jangka pendek kurang dari setahun.”

Secara sederhana dapat disimpulkan, bahwa kenaikan NAB produk reksa dana pasar uang terjadi karena adanya dana masuk cukup besar produk ini serta peningkatan nilai portofolio nasabah pada instrumen-instrumen tersebut.

Pertanyaannya kemudian, mengapa terjadi minat besar-besaran menanamkan investasi pada instrumen tabungan, deposito, SBI dan surat utang jangka pendek?

Jawabannya sederhana. Proyeksi ekonomi terkini mengindikasikan adanya pemulihan ekonomi global yang dijadwalkan akan dimulai pada semester II-2010.

Pemulihan ekonomi, biasanya diiringi oleh adanya permintaan atau daya beli yang berselisih dengan penawaran atas produksi atau yang dikenal dengan istilah inflasi. Semakin besar rasio inflasi, dalam konteks pemulihan ekonomi berarti terjadi peningkatan permintaan ketimbang posisi penawaran.

Nah, proyeksi terjadinya peningkatan inflasi selalu mengindikasikan akan terjadinya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Sebab, secara etika ilmu ekonomi, nilai suku bunga acuan bank tidak bisa lebih rendah dari inflasi.

Oleh sebab itu, mudah disimpulkan bahwa rekomendasi pemulihan ekonomi memunculkan ekspektasi atas adanya kenaikan BI Rate pada semester II-2010, sebagaimana telah diproyeksikan banyak analis, bahkan pejabat BI sekalipun bernada sama.

Kenaikan BI Rate, sudah barang tentu akan membuat suku bunga tabungan dan deposito bank serta SBI mengalami kenaikan. Dan ini dapat dipastikan akan memberikan peningkatan selisih yield pada produk-produk tersebut.

Jadi wajar saja, jika sebagian pelaku pasar kini memburu produk reksa dana pasar uang, didorong oleh ekspektasi kenaikan BI Rate, dengan harapan dapat menuai keuntungan di tengah sentimen pemulihan ekonomi global.

Dampak kenaikan BBM

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang secara tiba-tiba bisa menjadi dampak negatif terhadap pasar modal Indonesia. Secara tidak langsung kondisi tersebut dapat mempengaruhi terhadap pertumbuhan reksa dana saham.

Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, pengusaha disarankan untuk berinvestasi di reksa dana pasar uang. Pengamat pasar modal Ridwan Novayanto mengatakan, dengan ditundanya kenaikan harga BBM bersubsidi dan adanya tambahan pasal baru, pemerintah bisa menaikkan harga BBM bersubsidi kapan saja, dan ini yang menjadi khawatir para investor dengan adanya pasal 7 ayat 6a dalam UU APBPNP 2012, menurutnya, “dengan adanya pasal ini harga BBM bersubsidi akan naik secara tiba-tiba ini yang menjadi pengaruh terhadap pertumbuhan reksa dana saham.”

Tambahnya, kondisi tersebut akan menjadi momok yang menakutkan bagi para investor terutama bagi investor asing yang ingin menanamkan modalnya di pasar modal Indonesia. menurutnya, kenaikan harga BBM bersubsidi yang bisa terjadi sewaktu-waktu ditakutkan bisa mempengaruhi terjadinya pelambatan atau berjalan di tempat pembangunan infrastruktur karena anggaran yang sudah direncanakan sebelumnya yang menggunakan asumsi harga BBM bersubsidi yang sudah dinaikkan.

Sedangkan, dalam jangka pendek kenaikan harga BBM bersubsidi akan memberikan pengaruh negatif terhadap industri reksa dana saham, sedangkan, “laporan keuangan emiten pada tahun 2011 lalu dan kuartal I tahun 2012 yang mendapatkan nilai yang positif, ini menjadi angin segar bagi pasar bursa dan reksa dana, terutama saham. Karena itu, ridwan mengatakan, bagi investor yang akan menanamkan modalnya di pasar modal untuk berhati-hati ketika melakukan transaksi dalam jangka pendek.”

Menurutnya untuk jangka panjang, pasar bursa maupun reksa dana akan masih mengalami kenaikan pada tahun ini. “Pertumbuhan reksadana saham pada tahun ini masih dipengaruhi oleh faktor domestik, seperti dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi.”

Permasalahan yang harus diperhatikan, seperti dampak pelambatan perekonomian China dan potensi perbaikan perekonomian negara adikuasa, juga akan memberi pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. “Industri reksa dana secara keseluruhan dapat tumbuh sebesar 15% dari posisi akhir 2011.”

Related posts