Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding perolehan 2017 yang sebesar Rp20,6 triliun. Direktur Utama PT. Bank Mandiri Persero Tbk Kartika Wirjoatmodojo mengatakan target laba tersebut akan sangat bergantung dari marjin pendapatan baik non-bunga maupun bunga, serta proses pemulihan pertumbuhan ekonomi domestik. "Kami lihat 10-20 persen, laba tahun ini tumbuh," ujar dia.

Di 2017, laba Mandiri melejit 49,5 persen (yoy) menjadi Rp20,6 triliun. Hal itu karena membaiknya kualitas aset, terindikasi dari menurunnya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) ke 3,4 persen dan juga meningkatnya pendapatan berbasis komisi Mandiri.

Tiko, sapaan akrab Kartika, melihat, rasio biaya kredit (cost of credit) Mandiri tahun ini tidak akan turun signifikan. Dia memprediksi "cost of credit" hanya akan turun dari 2,3 persen ke 2 persen. Oleh karena itu, pertumbuhan laba juga tidak akan setajam pada 2017. "Kita lebih normal lagi tahun ini di 10-20 persen," ujar dia.

Selain itu, Tiko juga memperkirakan NPL akan dapat ditekan ke 2,8 persen (gross) pada tahun ini. Sehingga biaya pencadangan Mandiri dapat dikurangi dan menambah pundi-pundi pendapatan.

Tiko menjelaskan sumbangan laba Mandiri di 2018, kata Tiko, akan berasal dari masih menggeliatnya pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) dan juga pendapatan komisi.

Dia memprediksi NII Mandiri tumbuh 5-6 persen (yoy) dibanding 2017 yang hanya tumbuh 0,6 persen. Begitu juga dengan pendapatan komisi yang diprediksi akan tumbuh melebihi pencapaian 2017 yang sebesar 16 persen. Secara keseluruhan, Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit di 2018 sebesar 10-12 persen (yoy).

Bank Mandiri juga mendongkrak laba bersih sebesar 49,5 persen (tahun ke tahun/yoy) menjadi Rp20,6 triliun sepanjang 2017, ditopang menurunnya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dan meningkatnya pendapatan berbasis komisi. "Memang dari pendapatan bunga tidak begitu, karena ada penurunan suku bunga, namun laba naik karena biaya pencadangan yang menurun, dan pendapatan non bunga yang naik," kata Kartika.

Pertumbuhan laba 2017 oleh Mandiri berkebalikan dengan kinerja 2016, dimana perseroan mencatat perlambatan pertumbuhan laba atau laba minus hingga 32,1 persen.

Sumbangan untuk laba Mandiri di 2017, antara lain dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang sebesar 0,6 persen (yoy) menjadi Rp54,8 triliun dan peningkatan pendapatan atas jasa (fee based income) sebesar 16,4 persen (yoy) menjadi Rp23,3 triliun.

Selain itu, musabab perlambatan bisnis Mandiri di 2016 yakni rasio kredit bermasalah (NPL) juga berhasil diperbaiki di 2017.

NPL Mandiri turun 0,54 persen dari 4 persen pada 2016 menjadi 3,46 persen. Alhasil biaya pencadangan perseroan turun menjadi Rp16,0 triliun dari Rp24,6 triliun, sehingga pendapatan Mandiri kian gemuk. Adapun total kredit yang disalurkan sebesar Rp729,5 triliun pada akhir tahun lalu, atau naik 10,2 persen secara year on year, dimana kontribusi pembiayaan produktif sebesar 74,7 persen dari total portofolio," kata Tiko.

Penopang sumber intermediasi dari Mandiri adalah Dana Pihak Ketiga yang tumbuh di kisaran 7 persen (yoy) menjadi Rp815 triliun. Rinciannya antara lain, ditopang penghimpunan dana murah (CASA) perseroan yang naik Rp50,9 triliun, setara dengan kenaikan 10,4 persen (yoy) menjadi Rp540,3 triliun. Pertumbuhan itu ditopang oleh peningkatan tabungan sebesar Rp34,6 triliun menjadi Rp337,0 triliun, dan kenaikan giro sebesar Rp16,3 triliun menjadi Rp203,4 triliun.

Adapun biaya dana (cost of fund) Mandiri turun menjadi 2,73 persen dari posisi 2016 yang sebesar 2,93 persen. Dengan kredit dan DPK tersebut, aset Mandiri terkumpul Rp1.124,7 triliun.

Akuisisi Bank

Sementara itu, Bank Mandiri memutuskan untuk menunda pembelian bank di Filipina yang sebelumnya direncanakan awal 2018, hingga perseroan mampu memperbaiki rasio kredit bermasalah ke 2,5 persen secara gross dari level saat ini di 3,4 persen. "Jadi kemarin kami diminta 'slowdown' untuk bisnis anorganik, agar fokus ke penurunan NPL bisa di bawah tiga persen. Jadi nanti kalau NPL sudah 2,5 persen baru kita prtimbangkn lagi," kata Kartika.

Sebelumnya, Mandiri menargetkan ekspansi ke Filipina bisa terealisasi pada semester pertama 2018. Pada Agustus 2017, Direktur Distribusi Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan perseroan sedang mempersiapkan uji tuntas kepada dua perusahaan di Filipina.

Rencana ekspansi Mandiri itu merupakan hasil penandatanganan letter of intent (LOI) antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bank sentral Filipina, Bangko Sentral Ng Pilipinas.

Ekspansi luar negeri Mandiri terdekat adalah untuk mengoptimalkan sebuah kantor cabang di sana. Proses ekspansi saat ini sudah memasuki tahap perizinan.

Selain ekspansi di Filipina, Bank Mandiri juga berencana menumbuhkan bisnis secara anorganik dengan memproses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) untuk dua anak usahanya, yakni PT. Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT. Mandiri Tunas Finance (MTF) pada 2019.

Kartika mengungkapkan, untuk MTF, pihaknya ingin mendorong agar kapitalisasi pasarnya bisa meningkat menjadi Rp 2,5-3 triliun sebelum melakukan IPO.

Sementara untuk BSM, kemungkinan untuk bank syariah tersebut adalah IPO dan penjajakan mitra strategis. Kedua opsi ini akan dipilih dengan memperhatikan valuasi dari BSM. "Opsi untuk BSM bisa IPO dan juga mitra strategis, investor yang mendekati sudah banyak terutama dari Timur Tengah," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Laba Bank Sampoerna Melonjak 78%

      NERACA   Jakarta - Bank Sampoerna mencatat laba bersih sebesar Rp 52,3 miliar pada kuartal III 2018.…

KKP Optimistis Produksi Pakan Mandiri Dapat Ditingkatkan

NERACA Jakarta – Salah satu tantangan perikanan budidaya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pakan ikan yang efisien dan berkualitas, namun dengan…

BI: CAD Triwulan III-2018 Capai 3,37% PDB - MENKEU IMBAU MASYARAKAT KURANGI KEGIATAN KE LUAR NEGERI

Jakarta-Bank Indonesia mengungkapkan, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit-CAD) pada triwulan III-2018 mencapai US$8,8 miliar atau 3,37% terhadap PDB,…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…