Tingkatkan Produktivitas Supply Chains - Managing Consultant, The Big Five Consulting (TB5C): Hendy M Sitompul

NERACA

Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang mendalam dibidang supply chain, membuat dirinya tergerak untuk terlibat dalam peningkatan value pelbagai perusahaan di Indonesia. Bersama koleganya, berlima, dengan semangat KITA BISA, mereka mendirikan sebuah perusahaan konsultan dibidang supply chain (rantai suplai), The Big Five Consulting (TB5C).

“Pengelolaan supply chains yang baik akan meningkatkan produktivitas yang tentu berkontribusi langsung pada performa perusahaan. Ini jelas merupakan bagian dari solusi atas persaingan di era globalisasi,” ujar Hendy akrab ia disapa.

Hendy M Sitompul, pria asal Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, bertekad mewujudkan harapan banyak perusahaan dalam meningkatkan produktivitasnya, melalui pengelolaan supply chain (supply chain management) yang terpadu, dengan sinergi kekuatan, sinkronisasi kegiatan dan optimalisasi pengunaan asset antar perusahaan, baik industri sejenis (horizontal) maupun industri yang berhubungan (vertical), dengan demikian, maka dapat dilakukan peningkatan profit masing-masing perusahaan.

Hendy menuturkan bahwa bisnis konsultan adalah bisnis knowledge dan experience. Karena itu ia telah mempersiapkan dengan memperkaya pengetahuan dibidang supply chain melalui aneka ragam literature, sebelum ia memutuskan untuk berkarir dibidang konsultan.

Peraih gelar Master of Business Administration di Rochville University, Sarasota Florida, USA (2005), yang memiliki 8 Graduate Credits pada finance dan accounting di Harvard University, Boston, USA, serta pendidikan management di Alexander Hamilton Institute of Management, New Jersey, USA dan Pendidikan Leadership di Dale Carnegie Foundation (peserta terbaik angkatan) di Jakarta, memang sarat dengan pengetahuan seputar supply chain.

Kariernya dipelbagai perusahaan diawali setelah ia merampungkan kuliahnya ITB tahun 1990 dan bergabung dengan perusahaan Jepang dibidang industri petrokimia di Cilegon. Setelah itu pelbagai perusahaan pun ia jalani yang kini menjadi pengalaman yang berharga.

Ia pernah bekerja pada perusahaan asal Inggris dibidang industri gas di Jakarta, perusahaan asal Amerika (Industri Consumer Goods) di Jakarta, perusahaan Swedia (Industrial Goods) di Jakarta, perusahaan nasional (industri Crude Palm Oil) di Pontianak, hingga akhirnya mendirikan sebuah firma dibidang konsultan dengan nama, The Big Five Consulting.

Selama bekerja, Hendy banyak mengikuti pelatihan profesi dibidang supply chain, termasuk di Jepang dan Amerika (3 Bulan), Amerika (1,5 tahun di The Gillette Corporate HQ, Boston), Thailand, Mexico, Singapore dan Austalia. Bahkan Hendy merupakan anggota pada lembaga profesi Supply Chain Asia, Singapore dan Council of Supply Chain Management Professionals, USA.

Dalam realita, kata Hendy, berbekal pengetahuan akademik nampaknya belum cukup untuk memahami supply chains, apalagi untuk mencapai harapan perusahaan dalam meningkatkan produktivitasnya. Karena itu ia dan teamnya memadukan teori dan kematangan pengalaman untuk berkiprah membantu perusahaan-perusahan yang membutuhkan bantuan dalam meningkatkan produktivitas supply chains. “Kami memadukan teori dan praktek sebagai kekuatan dalam membangun TB5C,” ujarnya.

Fokus Pada Supply Chain

Mengelola supply chain (supply chain management), jelas Hendy, bukan tanpa tantangan, karena perlu melibatkan banyak pihak didalam dan luar perusahaan. Untuk itu perusahaan perlu membangun kerjasama antara fungsi dalam suatu organisasi dengan fungsi lain dalam organisasi, atau industri yang berbeda, baik secara horizontal maupun secara vertical.

Ia mengamati bila pemahaman tentang supply chains dikalangan sebagian akademisi dan praktisi, ternyata terdegradasi menjadi logistik atau transportasi, bahkan trucking atau hanya pada fungsi tertentu saja, seperti procurement.

“Sesungguhnya, Logistik, yaitu gabungan fungsi-fungsi inventory, pergudangan dan transportasi, yang terkadang termasuk procurement dan perencanaan, hanya menempati sekitar 15-20% dari seluruh kegiatan supply chain. Banyak fungsi lain, seperti perencanaan, produksi, penjualan (sales), perawatan peralatan (maintenance), bahkan quality assurance terlibat didalamnya,” jelasnya.

Idealnya bila kita mampu membangun supply chain yang handal, maka akan terlihat dengan penurunan harga produk kepada konsumen. Dengan membangun supply chains dari hulu ke hilir maka akan tercipta produktivitas. “Nah, nilai produktivitas ini, selain untuk meningkatkan keuntungan perusahaan juga akan menurunkan harga ke konsumen,” ungkapnya.

Karena itu kemampuan mengelola supply chain sangat penting untuk survive dan berkembang dalam persaingan global. “Ambisi untuk menjadi pemenang dalam persaingan global hanya dapat diwujudkan dengan membangun supply chain yang handal,” ujarnya.

Menurut Hendy banyak perusahan di Indonesia tidak mampu menurunkan biaya dan meningkatkan pelayanan. Akibatnya? Untuk survive mereka harus menaikkan harga yang dapat menurunkan kemampuan bersaing. Hasilnya? perusahaan akan keok dan tidak bisa tumbuh, “Kalau tidak terlilit hutang. Hasilnya, diambil alih perusahaan lain, yang umumnya adalah perusahaan asing,” jelas ayah seorang anak, Dara Swandana, buah pernikahannya dengan Devita Fitri.

Karena itu TB5C telah mengembangkan platform supply chain berbasis aktivitas dan penciptaan nilai tambah, yaitu AVBSC (Activity, Value-Based Supply Chain) Platform yang juga mengukur kinerja supply chain, yang disesuaikan dengan keperluan masing-masing jenis industri dan perusahaan. “AVBSC Platform kami rancang untuk meningkatkan performa perusahaan,” ujarnya menjelaskan.

Related posts