Eksekutif yang Punya Darah Seni - R. Brandjangan, Direktur Operasional PT Karya Cipta Karsa

Darah seni yang mengalir dalam diri R. Brandjangan, seolah tidak bisa dibendung. Dia meraih pendidikan formal di Fakultas Hukum Universitas Udayana. Minat dan bakat seninya itu dituangkannya dalam bentuk lagu kritik sosial, termasuk mengkritik rencana pembangunan Gedung DPR yang marak pada Mei 2011.

R. Brandjangan, Direktur Operasional PT Karya Cipta Karsa mencipta lagu kritik sosial yang diunggahnya di Youtube dan bentuk “perjuangan” berupa lagu Dongeng Rakyat yang ikut andil menggagalkan rencana pembangunan gedung DPR itu.

Ya. Brandjangan sebagai seorang pemain musik aliran Blues mengeritik rencana pembangunan gedung DPR-RI melalui lagunya Dongeng Rakyat di Youtube.

Lagu yang dibuatnya sendiri secara spontanitas, justru sempat mendapat perhatian dari sastrawan dan penulis puisi di Wapress (Warung Apresiasi Seni dan Sastra) Bulungan, Jakarta, salah satu tempat nongkrong seniman besar seperti alm. WS Rendra, Franki Sahilatua, Mbah Surip sampai yang muda seperti Cornelia Agatha.

Brandjangan membawakan lagu-lagu yang diciptakannya sendiri. Lagunya yang sudah diunggah di Youtube a.l. Dongeng Rakyat, Cerite Jakarte, Lelaki, Seringai Senyum, Mr. A & Mr.Ngabur, Harapku, Nostalgia Skalu, dan beberapa lagi.

Dalam lagu Lelaki yang berirama Blues, Brandjangan dengan sangat kocak menyindir kaum lelaki, termasuk dirinya.

“Mengkritisi tidak selalu harus dengan demo, apalagi sampai anarkis yang justru melanggar hak asasi orang lain,” katanya.

“Saya suka Benyamin Sueb yang karyanya nggak ada matinye,” puji Brandjangan yang menggemari lagu-lagu dari penyanyi Betawi tersebut.

“Saya bukan penyanyi dan orang tua saya juga biasa-biasa saja. Suara Briptu Noorman lebih bagus,” ujarnya merendah.

Kiprah Brandjangan di dunia musik mulai terlihat ketika sekolah di SMAN I Denpasar. Ia mengajak beberapa temannya membuat grup Folksong Smansa. Kiprahnya dengan membuat grup Folksong itu mendapat respons positif dari kepala sekolahnya ketika itu, I Ketut Dharmasusila.

“Rasanya baru saat itu ada grup Folksong di Smansa,” kata Brandjangan mengenang tahun 1970-an saat ia bersama beberapa rekannya membuat grup folksong itu. Lagu yang paling disukai ketika itu adalah Don Dapdape (Daun pohon Dapdap).

Menurut dia, pada 1970-an itu kelompok Folksongnya sudah mengikuti berbagai lomba yang diadakan di Bali dan sempat meraih juara.

Brandjangan rupanya sudah lama berkiprah di dunia musik. Pada waktu masih duduk di kelas dua SMA ia pernah ikut lomba cipta lagu Radio Prambors. Ia menjadi finalis, meskipun tidak mendapat juara..

Dari acara itu, ia sempat mengenal musik dari Oding dan Keenan Nuansa Bening Nasution serta Guruh Soekarno Putra.

Setelah itu kesibukannya di kampus Fakultas Hukum Universitas Udayana membuat dia kurang begitu ‘kelihatan’ di dunia musik. Namun bukan berarti tidak ada aktivitas bermusik yang dilakukannya.

Di dalam mobilnya selalu siap sebuah gitar elektrik dan akustik yang bisa dipakainya apabila sewaktu-waktu ada ‘panggilan’ untuk bermain musik. Namun waktunya semakin terbatas ketika ia sibuk dalam rutinitas kerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor dan property di Jakarta. Sebelumnya dia sempat menjadi karyawan Pemprov DKI Jakarta, setelah menyelesaikan kuliahnya pada 1986.

“Ketika itu ada istilah pegawai Honda (honorer daerah,” katanya mengenang pengalamannya. Pada 1987 dia melamar ke PD Pembangunan Sarana Jaya, badan usaha milik daerah dan diterima sebagai karyawan BUMD itu. Pada periode 2002-2004 dia sempat menjadi komisaris Palm Court, mewakili PD Pembangunan Sarana Jaya yang bermitra dengan Bimantara grup.

Brandjangan banyak berkiprah dalam berbagai kelompok kesenian yang ada di Jakarta, seperti Kelompok Pecinta Sastra Indonesia (KPSI) yang bermarkas di Museum Layang-layang, Dapur Olah Kreatif (DOK). Dia juga suka jam session dengan teman-temannya di Hard Rock Cafe Kuta Bali dan Komunitas Blues di Bali dan Sastra Budayawan Bali di DOK di Warung Tresni Renon. Indrawan, pemilik Warung Tresni merupakan temannya sewaktu di SMAN 1 (Smansa) Denpasar.

Brandjangan adalah angkatan pertama di Marching Band Universitas Udayana yang telah mengumpulkan tropi di berbagai kejuaraan. Saat itu sebagai pembina bersama Benyamin Mangkudilaga (mantan Hakim Agung) yang tidak putus-putusnya memberikan motivasi kepada yuniornya . "Sayangnya Pemprov Bali kurang memberi perhatian thdp Marching Band Udayana yang sejak berdiri mengharumkan nama Bali juga karena prestasinya".

Ada yang menarik. R.Brandjangan ternyata sempat mewakili Bali dalam Kejuaraan Nasional Panahan pada 1978 dan dia masuk 10 besar. Pada saat itu bercokol nama besar Donald Pandiangan dkk.

Brandjangan juga bergabung dengan Ina Blues yang pada Desember 2011 sempat mendatangkan musisi terkenal pada era 1970-an, John Mayall..

Brandjangan sering ke Bali untuk jam session dengan komunitas Bali Blues Island bila timbul rasa kangen dengan teman-teman masa mudanya.

Ketika ditanya tentang musisi di Bali, Brandjangan menyatakan banyak yang punya talenta dan bertaraf international, seperti Balawan, Superman is Dead, Ayu Laksmi, Krisna, Tan Yo I dengan Bali Puisi Musiknya.

Bali sebagai tujuan wisata sangat terbuka peluang bagi musisi Bali. Pelopor perpaduan musik Bali dan Barat tentunya Guruh Sukarno Putra (Guruh cukup lama tinggal di rumah orang tua Brandjangan di Jl. Melati). Brandjangan berharap musisi Bali dapat maju dengan karyanya sendiri.

Brandjangan selalu membawakan lagu-lagu kritik sosial dalam tembangnya. Misalnya dalam Dongeng Rakyat ia menyoroti sikap kaku para wakil rakyat yang minus prestasinya, tetapi pada tahun lalu sibuk menggolkan proyek pembangunan fasilitas gedung DPR yang baru senilai Rp 1 triliun.

Lagunya yang sarat dengan kritik sosial itu membuat para demonstran mengidolakan lagunya. Bahkan dia didatangi aktivis LSM untuk minta izin guna memakai lagu Dongeng Rakyat untuk mendemo DPR-RI. Pada akhirnya rencana DPR untuk membangun gedung baru itu dibatalkan.

Dalam Cerite Jakarte,yang berirama reggae, Brandjangan memotret kehidupan keseharian di Ibukota Jakarta yang selalu macet, banjir, kebakaran, tawuran, pembongkaran rumah kumuh dan sebagainya. Dalam lagu ini ia menitipkan pesan dan imbauan untuk penduduk Jakarta yang menjadi ibukota Republik Indonesia.

Lagu-lagunya yang bernuansa Blues, membuatnya ikut aktif dalam Komunitas Blues dan juga Komunitas Sastra Budaya.

Darah seni sebenarnya mengalir dari kedua orang tuanya. Meskipun ayahnya seorang prajurit, namun R. Sutikno cukup sering bermain musik di lingkungan kerjanya. Begitu pula ibunya—Sri Uniati—yang seorang bintang film tahun 1960-an, penggagas berdirinya Parfi di zaman Bung Karno. Setelah berhenti jadi artis, ibunya kemudian berkiprah di sebuah majalah ibukota. (agus)

Related posts