Kompor Jelantah, Keunggulan dan Harapan - Presiden Director PT Fajar Surya Lestari : Giovanni A Widjaja

Neraca. Melambungnya harga gas dan kelangkaan tabung ukuran 3 kg yang terjadi di pelbagai daerah di Indonesia, nampaknya tak kunjung surut. Salah satunya di Kabupaten Ciamis, warga harus merogoh kocek lebih dalam dari Rp 14.000 menjadi Rp 17.000 di tingkat pengecer. Bahkan sebagian besar justru beralih menggunakan kayu bakar.

Realitas inilah yang mendorong Presiden Director PT Fajar Surya Lestari Giovanni A Widjaja tergerak untuk membantu masyarakat mencari energi alternatif yang murah dan mudah didapat. “Kami berpikir untuk membuat kompor berbahan bakar minyak goreng bekas atau jelantah, dan minyak nabati lainnya (seperti minyak biji jarak, minyak goreng curah, atau minyak kopra), untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor yang efektif dan efisien,” ungkapnya.

PT Fajar Surya Lestari adalah sebuah perusahaan pabrikan yang menggeluti bidang assembly part, manufacture dan general suppliers, yang juga memproduksi kompor dengan merk dagang, “Jelantah,” dan dipasarkan melalui bendera PT Sumber Matahari Abadi selaku Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) kompor Jelantah.

Menurut Jojo, ia akrab disapa dengan nama ini, sejak teknologi kompor Jelantah ditemukan oleh Hendra Hadiwijaya, sosialisasi kompor Jelantah di tengah masyarakat terus dilakukan. “Saat ini kami sudah memiliki distributor di empat provinsi, yakni Bangka Belitung, Lampung, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara,” ujarnya menjelaskan.

Namun ia menyayangkan, lambannya tingkat penjualan produk yang menawarkan segudang keuntungan. Bukan saja bagi pengguna (masyarakat) namun bagi pemerintah dalam mengentaskan persoalan energi, khususnya memenuhi kebutuhan energi bagi masyarakat melalui pemanfaatan limbah sebagai energi alternatif yang efektif dan efisien.

“Banyak yang sudah kita lakukan untuk menarik perhatian banyak kalangan dalam mendorong penggunaan kompor minyak Jelantah, namun selalu menemui jalan buntu,” ungkap Jojo. Konon ia sudah menemui sejumlah menteri, petinggi dan pejabat terkait, bahkan telah mempresentasikan keunggulan kompor Jelantah di hadapan mereka. “Saya tidak tahu, mengapa sulit sekali menawarkan solusi terbaik yang sudah tersertifikasi keunggulannya,” ungkapnya yang mengaku tetap optimistis.

Pengujian yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahkan menunjukkan bahwa kompor minyak Jelantah memiliki api dengan panas dua kali lipat dari kompor minyak tanah bahkan kompor gas, bebas polusi karena tidak menghasilkan asap hitam, dan aman karena tidak mungkin meledak, dan yang pasti sangat irit.

“Dalam satu liter minyak jelantah, api akan bertahan selama 4,5 jam. Sedangkan minyak tanah hanya 2 jam. Kita memiliki keuntungan dua kali lipat. Panas yang dihasilkan juga dua kali lipat karena kalori dari minyak jelantah sangat tinggi,” ungkapnya. Untuk memasak air saja hanya butuh 12 menit, berbeda dengan kompor minyak tanah yang membutuhkan lebih dari 20 menit untuk ukuran air yang sama.

Produk yang baru diluncurkan April 2011 lalu dan diikutikan dalam Pameran Teknologi dan Inovasi yang digelar ITB-Bandung, bahkan sukses meraih penghargaan untuk kategori Produk Kreatif Terbaik. “Produk ini sudah diakui keunggulannya, dan kita berharap pemerintah dapat memberi perhatian dalam memberdayakannya kompor Jelantah sebagai salah satu alternatif dari solusi ketersediaan energi di tengah masyarakat,” ungkapnya menilai.

Produk yang dibandrol seharga Rp 300.000 per unit ini, dinilai menjadi pilihan tepat dalam menekan melambungnya subsidi pemerintah di bidang energi. Sebagai ilustrasi; bila penduduk Kepulauan Riau saja 733.986 KK, dan kebutuhan minyak tanah bersubsidi rata-rata Rp 5000 per liter (harga eceran non subsidi Rp 8.000-Rp 11.000 di tingkat nasional), sedangkan tiap KK membutuhkan 20 liter minyak tanah per bulan, maka subsidi bagi 733.986 KK mencapai Rp 73, 398 miliar per bulan.

Atau subsidi untuk gas 3 kg Rp 3.500 per kg, dengan kebutuhan tiap KK mencapai 12 kg per bulan, maka subsidi pemerintah mencapai Rp 30,827 miliar per bulan di Kepulauan Riau. Nah dengan asumsi 50% jumlah KK masing-masing menggunakan minyak tanah dan gas, maka rata-rata penghematan subsidi per bulan mencapai Rp 52,113 miliar per bulan. Maka total investasi yang dikeluarkan pemerintah pusat atau daerah hanya Rp 217,993 miliar dapat dikembalikan dalam jangka waktu hanya sekitar 4 bulan. Luar biasa.

Jika program konversi ini dilakukan pemerintah, kata Jojo, maka semua pihak akan mendapat keuntungan. Disisi lain beban Pemerintah Pusat akan berkurang dengan melambungnya biaya subsidi bagi bahan bakar setiap bulannya, dan bagi Pemerintah Daerah juga membantu menjaga kelestarian lingkungan dan menggairahkan ekonomi masyarakat demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Bagi petani setempat, lanjut Jojo, akan pula memetik keuntungan dengan menanam dan mengolah minyak nabati sebagai penyedia pasokan bahan bakar bagi kompor Jelantah. Sesuai program pemerintah tentang pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, sesuai Inpres No.1 tahun 2006.

Dan masyarakat sebagai pengguna akan pula memperoleh keuntungan dari efisiensi dan efektifitas keunggulan kompor Jelantah, “Baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun dalam mengembangkan usaha, sebagai salah satu pendorong perekonomian nasional,” ungkap penuh harap.

BERITA TERKAIT

Presiden Jokowi Direncanakan Kembali Kunjungi Sukabumi - Resmikan Groundbreaking Jalur Ganda KA Sukabumi-Bogor

Presiden Jokowi Direncanakan Kembali Kunjungi Sukabumi Resmikan Groundbreaking Jalur Ganda KA Sukabumi-Bogor NERACA Sukabumi - Presiden Joko Widodo dikabarkan akan…

Sektor Teknologi dan Manajemen Risiko

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis     Korporasi Alibaba segera akan mengganti para akuntannya…

AdhiKarya dan PPD Integrasikan Sistem Transportasi - Kawasan LRT City

      NERACA   Jakarta - PT AdhiKarya (Persero) Tbk, melalui Departemen Transit Oriented Development (TOD) & Hotel menawarkan…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…

Tanto Darmawan Sutjipto Pemilik, PT Metro Taruna Agency - Menuai Sukses Dimulai Dari Tukang Antar Koran

Sejatinya hiruk pikuk dan branding sebuah media tidak lepas dari jasa para pengecer, loper, hingga agen sebuah surat kabar. Oleh…

Ade Sudrajat Usman, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) - Industri Tekstil Siap Bersaing di Pasar Global

Industri tekstil mengaku yang paling siap menyongsong Indonesia kembali bergabung dalam perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP). Namun, ada beberapa…