NERACA
Jakarta – Di tengah tekanan global dan ketidakpastian ekonomi akibat perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, Pemerintah Indonesia tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2025 dapat mencapai angka 5 persen. Keyakinan ini muncul meskipun lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1 persen menjadi 4,7 persen.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menjelaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia yang lebih bertumpu pada pasar domestik membuatnya lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
“Ketergantungan kita pada ekonomi global tidak setinggi negara lain. Konsumsi domestik, terutama konsumsi rumah tangga, memiliki peran besar dalam pertumbuhan PDB kita. Ini jadi modal penting menghadapi dinamika global,” ujar Susiwijono.
Susiwijono juga menyoroti bahwa koreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF sebesar 0,4 persen masih jauh lebih rendah dibandingkan koreksi terhadap negara lain seperti Thailand (1,1 persen), Vietnam (0,9 persen), dan Meksiko (1,7 persen).
“Outlook kita masih jauh lebih baik. Bahkan dibandingkan AS dan China yang sama-sama terlibat langsung dalam perang tarif, proyeksi Indonesia tetap tergolong stabil,” tegas Susiwijono.
Pemerintah juga terus berupaya meminimalkan dampak tarif balasan dari AS yang saat ini tengah dalam proses negosiasi. Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang diterima dalam pembahasan teknis dengan AS terkait pengenaan tarif impor yang ditetapkan sebesar 32 persen.
“Kita punya waktu 60 hari dan proses negosiasinya cukup progresif. Ini membuka ruang bagi penyelesaian yang lebih menguntungkan Indonesia,” jelas Susiwijono.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut menguatkan optimisme pemerintah. Sri Mulyani menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga pada kuartal pertama 2025 berkat kuatnya konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah untuk THR dan bantuan sosial, serta kelanjutan proyek strategis nasional (PSN).
“Kinerja investasi juga meningkat, didukung oleh impor alat-alat berat dan keyakinan pelaku usaha,” kata Sri Mulyani.
Sementara itu, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan bahwa target pertumbuhan 5 persen bukan sesuatu yang otomatis tercapai.
“Butuh strategi yang tepat, eksekusi kebijakan yang adaptif, serta antisipasi terhadap dinamika eksternal. Tanpa itu, peluang bisa berubah menjadi tantangan,” ungkap Syafruddin.
Di tengah penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3,2 persen menjadi 2,8 persen oleh IMF, Indonesia tetap menampilkan resiliensi. Kinerja ekspor diprediksi tetap positif, terutama dari komoditas utama seperti CPO (crude palm oil), besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik.
Pemerintah menilai ini sebagai momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik sekaligus menjaga kepercayaan investor dan dunia usaha. Pemerintah juga tengah menjajaki ekspansi pasar ekspor ke kawasan ASEAN+3, BRICS, dan Eropa untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS.
Sehingga dengan pendekatan hati-hati namun optimis, pemerintah yakin bahwa angka 5 persen masih dalam jangkauan, menjadikan Indonesia salah satu negara yang mampu bertahan dalam badai ekonomi global tahun ini.
Lebih lanjut, kolaborasi antara pemerintah, pemasok barang, dan peritel merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih, tantangan yang kini dihadapi di sektor ritel semakin beragam dan kompleks.Dengan kolaborasi yang solid, setiap tantangan yang muncul diyakini akan lebih mudah diatasi.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti mengungkapkan selain sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi, sektor ritel turut menciptakan lapangan kerja dan mendorong inovasi iklim usaha. Oleh karenanya, kebersamaan di antara pelaku industri ritel, asosiasi pemasok, dan pemerintah sangat diperlukan karena tantangan yang dihadapi oleh sektor ritel semakin kompleks,” ujar Roro.
Roro menjelaskan, kontribusi yang dilakukan para peritel dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa dilakukan oleh peritel sendiri. Mereka membutuhkan dukungan dari para mitra bisnisnya, terutama para pemasok barang.Pemasokdan peritel, dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Mei 2025, Harga Referensi Biji Kakao Sebesar USD8.383,76/MT Harga Referensi (HR) biji kakao periode Mei 2025 ditetapkan sebesar USD8.383,76/MT. Nilai …
Ekspor Perdana Gula Kelapa Produksi BUMDes ke Hungaria Banyumas — Produk gula kelapa asal di Desa Langgongsari, Kabupaten Banyumas produksi…
Hilirisasi Rumput Laut Non-Hidrokoloid Terus Didorong Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengembangan produk olahan rumput laut non-hidrokoloid.…
Mei 2025, Harga Referensi Biji Kakao Sebesar USD8.383,76/MT Harga Referensi (HR) biji kakao periode Mei 2025 ditetapkan sebesar USD8.383,76/MT. Nilai …
Ekspor Perdana Gula Kelapa Produksi BUMDes ke Hungaria Banyumas — Produk gula kelapa asal di Desa Langgongsari, Kabupaten Banyumas produksi…
Pemerintah Optimis Pertumbuhan 5 Persen Efektif Cegah Pelemahan Ekonomi Jakarta – Di tengah tekanan global dan ketidakpastian ekonomi akibat perang…