Tersandung Masalah PKPU - Indofarma Belum Bayar Gaji Karyawan

NERACA

Jakarta –Krisis keuangan menjadi alasan emiten farmasi, PT Indofarma Tbk (INAF) yang belum mampu memenuhi kewajiban pembayaran keuangan bagi karyawannya mulai Maret 2024. Hal inipun diakui Direktur Utama INAF, Yeliandriani dalam jawabannya atas pertanyaan regulator bursa terkait kondisi emiten farmasi BUMN itu, Rabu (17/4).

Dirinya beralasan, INAF terjerat PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) Sementara per 29 Februari 2024. Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 28 Maret 2024 mewajibkan perseroan berkoordinasi dengan tim pengurus yang ditunjuk pengadilan sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.

Namun, karyawan Indofarma telah menerima THR per 5 April 2024 secara penuh sesuai dengan Perjanjian Kerja Bersama. Selain karyawan, nasib piutang kreditur kepada INAF masih belum jelas, karena Yeliandriani belum dapat menyampaikan informasi terkait kesiapan dana untuk melunasi tagihan pemohon PKPU. Nasib BUMN Farmasi itu kian tertekan karena auditor negara, yakni BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) tengah melakukan audit investigasi indikasi fraud pada perseroan.

Perseroan juga mengungkapkan, salah satu faktor pendorong penurunan kas bersih paling dipengaruhi oleh negatifnya arus kas aktivitas operasi sebesar Rp188,66 miliar berasal dari tingginya pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan sebesar Rp611,52 miliar dan pembayaran bunga sebesar Rp20,58 miliar, tidak sebanding dengan penerimaan kas dari pelanggan yang hanya tercatat sebesar Rp443,45 miliar.

Turunnya penerimaan kas pelanggan yang tak sebanding dengan tingginya beban-beban menjadi pendorong signifikan penurunan kas perseroan. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong penundaan pembayaran gaji karyawan perseroan. Adapun, penurunan kas dari pelanggan didorong dari anjloknya penjualan perseroan pada 30 September 2023 sebesar 50,75% menjadi Rp445,7 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp904,89 miliar.

Perseroan memproyeksikan kinerja akan tumbuh signifikan di tahun 2023. INAF menargetkan pendapatan sebesar Rp 1,86 triliun atau tumbuh 63,36% di tahun ini. Sementara, target laba bersih sebesar Rp 5,1 miliar hingga akhir tahun 2023. Untuk mengejar target tersebut, Indofarma akan melakukan perubahan strategi atau shifting strategy dengan mengubah cara pendekatan dari hanya Business to Consumer (B to C) menjadi Business to Business (B to B) dengan pola partnership dalam proses produksi dan pemasaran.

BERITA TERKAIT

Elitery Dinobatkan Sebagai Google Cloud MSP di Indonesia

Elitery penyedia solusi dan layanan berbasis cloud terkemuka, mengumumkan telah menjadi Google Cloud Managed Services Provider (MSP). Direktur Utama Elitery,…

Bank Neo Commerce Balikkan Rugi Jadi Laba

Di kuartal pertama 2024, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) berhasil membalikkan rugi jadi laba. Disebutkan, laba perseroan tercatat Rp14,23…

Pacu Revolusi Lewat AI - BTN Transformasi Digital dan Fokus Customer-Centric

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) telah menerapkan Artificial Intelligence (AI) dengan memberdayakan teknologi Big Data dan Machine Learning…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Elitery Dinobatkan Sebagai Google Cloud MSP di Indonesia

Elitery penyedia solusi dan layanan berbasis cloud terkemuka, mengumumkan telah menjadi Google Cloud Managed Services Provider (MSP). Direktur Utama Elitery,…

Bank Neo Commerce Balikkan Rugi Jadi Laba

Di kuartal pertama 2024, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) berhasil membalikkan rugi jadi laba. Disebutkan, laba perseroan tercatat Rp14,23…

Pacu Revolusi Lewat AI - BTN Transformasi Digital dan Fokus Customer-Centric

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) telah menerapkan Artificial Intelligence (AI) dengan memberdayakan teknologi Big Data dan Machine Learning…