Solvitur Ambulando

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.

Direktur Climate Reality Indonesia

Gelombang masalah yang terus melanda manusia tidak selalu dapat diatasi hanya dengan ketajaman intelektual maupun wacana rasional. Ketika kebuntuan mengemuka, di situlah solvitur ambulando berperan.  Sebuah frasa berbahasa Latin yang mulai digunakan sejak 2500 tahun lalu, solvitur ambulando bermakna “diselesaikan dengan berjalan kaki” (it is solved by walking).

Telah terbukti bahwa berjalan kaki sangat berfaedah bagi kesehatan, di antaranya mencegah penyakit jantung, diabetes, dan darah tinggi; menurunkan berat badan atau mempertahankannya jika sudah stabil; memperkuat sendi dan tulang; serta memperbaiki sirkulasi darah.

Juga tercatat bagaimana para pemikir ternama bidang sastra, filsafat, seni, dan sains menemukan wawasan, dan mendapatkan inspirasi penting bagi mahakarya mereka, saat berjalan kaki seorang diri di lingkungan alam.

Seperti tulis Blake Minor untuk media Flaneur, ilmuwan Albert Einstein biasa berjalan beberapa kilometer setiap harinya saat menyempurnakan pemikiran dan teorinya tentang mekanika kuantum. Komposer Ludwig van Beethoven di sela pekerjaannya berjalan kaki untuk menjernihkan pikiran, sambil membawa kertas dan pena, untuk mencatat kalau-kalau terbersit buah pikiran baru.

Filsuf Yunani kuno, Aristoteles berprinsip bahwa berjalan kaki harus diterapkan dalam proses belajar dan mengajar. Baginya, berjalan kaki memudahkan untuk berbicara dan berpikir. Sedangkan Virginia Woolf, feminis dan penulis ternama Inggris merupakan pejalan kaki rutin yang acapkali melafalkan dengan keras karya yang sedang dikerjakannya sambil berjalan.

Apa studi menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di ruang hijau seperti kebun, taman, dan hutan dapat meremajakan mental manusia yang telah jenuh menghadapi lingkungan buatan. Ini karena, meskipun kehidupan modern telah memutuskan manusia dari alam sekitarnya, manusia tetap merupakan satu kesatuan dengan semesta. Dekat dengan alam meningkatkan ingatan dan pengamatan, serta dapat menjawab sebuah persoalan, disamping juga memahami diri sendiri.

Berjalan kaki juga membantu mengatasi masalah lingkungan, seperti krisis iklim penyebab berbagai bencana dengan korban manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sebuah studi menyimpulkan bahwa berjalan 2,5 kilometer akan melepaskan 75% lebih sedikit gas rumah kaca pemicu perubahan iklim, dibandingkan dengan berkendara dalam jarak yang sama.

Fridays for Future (Jumat untuk Masa Depan) merupakan gerakan jutaan para pemuda di seluruh dunia yang mogok sekolah dan melaksanakan berbagai kegiatan, utamanya dengan berjalan kaki. Tekad gerakan yang dimulai oleh Greta Thunberg di Swedia ini adalah menggugah para pemimpin dunia agar peduli dalam mengatasi krisis iklim dan menciptakan masyarakat yang hidup selaras dengan sesama dan lingkungannya.

Di Indonesia, Fridays for Future dilaksanakan melalui aksi “Jeda untuk Iklim” serentak di berbagai kota. Dua remaja Jakarta, Shakira Fella dan Ghazi Izzaldin, misalnya, mulai ikut gerakan ini tiga tahun lalu, dengan berjalan kaki, ketika masing-masing berusia 15 dan 12 tahun. Kini mereka menjadi climate reality leader yang aktif berkampanye tentang krisis iklim.

Berjalan kaki di daerah perkotaan maupun perdesaan yang masih alami, sama-sama menawarkan keunikan bagi jalan pikiran manusia. Kota memberikan rangsangan yang lebih cepat karena banyaknya variasi sensasi yang dapat diolah pikiran. Tetapi, jika sudah jenuh di perkotaan, maka waktunya bagi pejalan kaki beralih ke daerah yang lebih hijau dan mendengarkan suara alam. (W)

 

BERITA TERKAIT

Pemberlakuan PSSA

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Pemerintah akan memberlakukan particularly sensitive sea area atau PSSA…

Pembiayaan Syariah Startup, Relevan kah?

 Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah  Kebangkitan iklim kewirausahaan di Tanah Air saat ini di warnai dengan maraknya para pelaku…

Kontroversi Utang, Antara Risiko dan Kemanfaatan

  Oleh: Marwanto Harjowiryono Widyaiswara Ahli Utama, Pemerhati Kebijakan Fiskal   Tidak dapat dipungkiri, utang seringkali menjadi polemik. Ada sebagian …

BERITA LAINNYA DI

Pemberlakuan PSSA

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Pemerintah akan memberlakukan particularly sensitive sea area atau PSSA…

Pembiayaan Syariah Startup, Relevan kah?

 Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah  Kebangkitan iklim kewirausahaan di Tanah Air saat ini di warnai dengan maraknya para pelaku…

Kontroversi Utang, Antara Risiko dan Kemanfaatan

  Oleh: Marwanto Harjowiryono Widyaiswara Ahli Utama, Pemerhati Kebijakan Fiskal   Tidak dapat dipungkiri, utang seringkali menjadi polemik. Ada sebagian …