Infeksi Covid-19 Juga Bisa Sebabkan Diabetes

Diabetes disebut sebagai komorbid bagi Covid-19. Namun beberapa penyintas Covid-19 menyebut gula darah mereka meningkat pesat usai terinfeksi dan berisiko diabetes. Diabetes juga ternyata bisa menyerang seseorang setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Dengan kata lain, infeksi Covid-19 bisa menyebabkan diabetes kepada beberapa orang.

Martha Rosana, staff divisi endokrin, metabolik dan diabetes, Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI, mengatakan hl ini mungkin saja terjadi. Ada beberapa alasan kemungkinan ini bisa terjadi. Salah satu alasannya adalah penyintas Covid-19 memang menjadi 'carrier' atau sebelumnya sudah memiliki diabetes hanya belum parah dan belum terdeteksi.

Selain itu, kemungkinan covid-19 juga menyebabkan diabetes terjadi karena serangan virus corona ke beberapa sel dan organ di tubuh, salah satunya pankreas yang bertugas menghasilkan insulin. Oleh karena itu gula darah menjadi tinggi, terutama setelah sembuh dari Covid-19."Covid-19 bisa memperburuk gula darah, karena si virus ini sangat unik dan bisa menyerang sel di tubuh termasuk sel insulin di pankreas," kata Martha.

Oleh karena itu, mendeteksi kemungkinan ada bakal calon diabetes di tubuh sangatlah penting, Terutama bagi mereka yang memiliki risiko tinggi. Misalnya orang tua memiliki riwayat diabet, memiliki berat badan tidak ideal atau obesitas hingga pola hidup tidak seimbang. "Karena bisa saja terpapar Covid-19 tanpa tahu Anda punya diabet dan baru meningkat setelah menjadi penyintas," kata dia.

Dikutip dari akun instagram resmi pandemictalks, beberapa studi juga menunjukan virus Covid-19 bisa menginfeksi sel-sel lemak dalam jaringan tubuh. Hal ini bisa menyebabkan produksi adiponektin menurun yang membuat sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Ini berakibat pada tingginya gula darah, sehingga berpotensi menyebabkan diabetes. Covid-19 memang menjadi penyakit yang sangat kompleks, efeknya bukan hanya menyebabkan diabetes tapi beberapa penyakit lain yang kemudian dikenal dengan istilah long covid-19.

Sementara itu, Martha mengatakan sebaiknya menjaga kesehatan diri agar tidak terpapar Covid-19 dan sekaligus terkena diabetes sangatlah penting. Misalnya dengan mulai menjalani hidup sehat dan menghindari konsumsi gula berlebihan. "Dimulai dari sekarang, karena memang tak ada kata terlambat," kata dia.

Diabetes sering dianggap sama dengan penyakit jantung dan kolesterol, sama-sama dianggap penyakit orang tua. Namun kenyataannya, diabetes dan penyakit lainnya juga bisa dialami anak muda, di usia 15 atau 20 tahun

Martha Rosana mengatakan, beberapa waktu ke belakang diabetes memang banyak terdeteksi pada orang usia lanjut, namun seiring berjalannya waktu diabetes juga banyak dialami anak muda bahkan di usia 15 tahun sudah terdiagnosis terkena diabetes yang bukan bawaan.

"Makin ke sini, di Indonesia banyak (anak muda yang terkena diabetes) seperempat dari total penderita diabetes di Indonesia itu usia muda bahkan ada yang 15 tahun," kata Martha

Saat ini, kata Martha, ada 10 juta penderita diabetes di Indonesia. Hanya saja ini adalah angka dari penderita yang terdeteksi, sementara itu pihaknya meyakini ada lebih 8 juta penderita diabetes di luar sana yang tak terdeteksi oleh tenaga kesehatan.

"Dan dari angka itu seperempatnya mereka yang usianya bahkan belum 20 tahun. Kita juga memprediksi di 2025 penderita diabetes yang terdeteksi bisa mencapai 18 juta dari keseluruhan warga Indonesia," katanya.

Mengapa makin banyak anak muda yang terkena diabetes? Gaya hidup menjadi faktor utama seseorang terkena diabetes. Tak dimungkiri, pola hidup yang tidak sehat, makan makanan yang tidak sehat dalam jumlah banyak dan jarang bergerak menjadi faktor utama anak muda terkena diabetes.

"Seiring berjalannya waktu karena banyak konsumsi makanan tidak sehat, pankreas tidak bisa memproduksi insulin dengan benar, akibatnya gula di darah meningkat, berakhir jadi diabetes," kata dia.

Selain itu, banyak anak muda yang juga tak menyadari faktor risiko terkena diabetes yang mengancam diri mereka. Misalnya memiliki riwayat orang tua terkena diabetes namun tak menjaga gaya hidup lebih sehat. Padahal kata dia, sangat penting menyadari risiko yang dimiliki diri dengan rutin melakukan pemeriksaan diabetes ke rumah sakit dan tetap aktif bergerak.

"Jarang aktivitas fisik, mager, akhirnya berat badan berlebih, jajan kekinian yang tinggi gula, jadi memang tren makanan saat ini lebih tinggi gula, seharusnya mulai digalakan raising awareness," kata dia.

BERITA TERKAIT

Pakar Pangan : MSG Aman untuk Dikonsumsi

  Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI) yang beranggotakan Ajinomoto, Miwon, dan Sasa menggelar acara Webinar yang…

BPOM Diingatkan Tidak Diskriminatif Buat Aturan Pangan

Rancangan Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tentang Perubahan Kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label…

Manfaat Peregangan Otot Selama WFH

Work from home (WFH) memberikan keuntungan dalam beberapa hal termasuk hemat ongkos transportasi ke kantor. Kekurangannya, tanpa pengaturan tempat kerja…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Pakar Pangan : MSG Aman untuk Dikonsumsi

  Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI) yang beranggotakan Ajinomoto, Miwon, dan Sasa menggelar acara Webinar yang…

BPOM Diingatkan Tidak Diskriminatif Buat Aturan Pangan

Rancangan Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tentang Perubahan Kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label…

Manfaat Peregangan Otot Selama WFH

Work from home (WFH) memberikan keuntungan dalam beberapa hal termasuk hemat ongkos transportasi ke kantor. Kekurangannya, tanpa pengaturan tempat kerja…