Sensasi Naik Kapal Pinisi dari Dermaga Ancol

Perasaan bahagia terasa saat naik kapal pinisi milik manajemen Augustine Phinisi yang beroperasi di Taman Impian Jaya Ancol. Semilir angin yang menyapu wajah seakan mampu mengusir kepenatan selama pandemi COVID-19.

Wahana wisata tersebut menyediakan sensasi perjalanan tersendiri. Pengunjung bisa berlayar sambil santap siang, disuguhi pemandangan indah laut di Teluk Jakarta. Wisata yang tergolong masih baru di Ancol ini cukup menarik perhatian, terutama bagi turis yang gemar berfoto.Di dek utama, terdapat sebuah meja makan memanjang berbentuk segi empat dengan 12 kursi. Piring dan gelas telah ditata rapi di atas meja yang dihiasi oleh taplak berwarna putih bersih.

Di ruang tersebut juga tersedia televisi pintar dengan layar datar 50 inch serta pengeras suara untuk berkaraoke ria. Dari dek utama, pemandangan laut di kanan dan kiri kapal masih terlihat dengan jelas karena seluruh jendela kecil di sana berwarna bening sehingga masih tembus pandang hingga ke luar.

Tapi jika mau cari angin, kita bisa menuju buritan kapal yang lebih dekat dari ruang makan itu. Di sini sudah tersedia tempat duduk memanjang di kanan dan kiri sehingga bisa diduduki lebih dua hingga tiga orang.

Atau yang lebih menarik adalah pemandangan di geladak utama. Ada bean bag dan sofa panjang empuk berwarna khaki disertai bantal. Bisa juga memilih duduk di sana karena bisa rebahan sambil merasakan gemercik air laut yang mencium dinding kapal saat melaju di bawah langit biru.

Jika ingin tidur, manajemen Augustine Phinisi menyediakan empat kamar VIP yang dilengkapi tempat tidur berkapasitas dua orang, berpendingin udara, serta menghadap ke laut. Di setiap kamar memiliki kamar mandi yang menyediakan shower air panas dan dingin, toilet duduk dan wastafel.

Kreasi anak muda

Ternyata pemilik kapal yang terbuat dari kayu itu adalah gadis manis berusia 26 tahun bernama Diandra Hadi. Ia memiliki cita-cita menjadi pelaut sejak usia belia. Cita-cita itu pun tercapai pada tahun 2020 setelah terbangunnya kapal pinisi milik pribadi yang diberi nama Augustine Phinisi sesuai nama Oma Augustine, nenek Diandra.

Kapal yang pembangunannya memakan waktu kurang lebih setahun itu kini sudah beroperasi pada Maret 2021 di dermaga Hotel Putri Duyung, Taman Impian Jaya Ancol. Diandra mengenang keberangkatannya ke Tana Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dia bertemu dengan "panrita lopi", sebutan ahli kapal bagi warga setempat.

Menurut Diandra, negara kepulauan seperti Indonesia seharusnya lebih mengembangkan kolaborasi pariwisata laut menggunakan kapal. Sudah bukan saatnya lagi masing-masing individu atau organisasi untuk berlomba-lomba menjadi yang paling terbaik. Tapi kini saatnya berlomba-lomba untuk berkolaborasi, terutama di masa sulit seperti saat ini. "Tidak bisa tidak, kita harus bekerja bersama untuk memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat," kata Diandra.

 

Terkait pemilihan jenis kapal, Diandra memilih pinisi karena kekagumannya pada sejarah kapal lincah yang pernah berjaya di Nusantara pada tahun 1.000-an. Sebuah cerita menyebutkan bahwa nama itu diambil dari nama sebuah kota pelabuhan di Italia, Venesia (Venicia). Dalam dialek Konjo, namanya disebut "penisi" yang akhirnya menjadi pinisi.

Versi lain mengungkapkan bahwa pinisi berevolusi dari kata Bugis, panisi, yang artinya menyisipkan. Bentuk lain dari kata ini adalah "mappanisi" yang artinya "menyisipkan" dan "menyesuaikan diri". Kata ini juga sesuai dengan teknik yang digunakan dalam membangun kapal pinisi, yaitu menambal semua sambungan papan dinding dan kapal dengan bahan tertentu sehingga air tidak bisa masuk ke kapal.

Dengan kapal tersebut, para pelaut pedagang Bugis membawa beras berwarna putih dan emas serta menukarnya dengan pakaian dari Cambay, Bengal dan Keling, yang merupakan bagian dari India. Layaknya sistem pelayaran pada masa itu, para pelaut Bugis mengandalkan kemampuan membaca angin muson timur dan barat serta posisi matahari dan rasi bintang untuk membantu mereka dalam navigasi maritim yang memungkinkan mereka mengarungi dunia.

Selain itu, mereka mengandalkan pengamatan karakteristik laut, seperti arus dan pergerakan gelombang, perubahan warna dan suhu air laut, jenis ikan yang ditemukan di perairan tertentu, bahkan pola terbang burung.

BERITA TERKAIT

Dusun Butuh di Magelang Tak Kalah Indah dari Himalaya

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menyebut keindahan destinasi wisata Dusun Butuh, Kaliangkrik,…

Ini Destinasi Wisata Jawa Barat yang Paling Ramai Turis

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat merilis empat daerah di wilayah Jabar yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan.…

Gerbang Pendakian Gunung Rinjani & Gunung Tambora Dibuka

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) kembali membuka aktivitas wisata pendakian dua gunung berapi di Nusa Tenggara Barat, yakni Gunung…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Dusun Butuh di Magelang Tak Kalah Indah dari Himalaya

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menyebut keindahan destinasi wisata Dusun Butuh, Kaliangkrik,…

Ini Destinasi Wisata Jawa Barat yang Paling Ramai Turis

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat merilis empat daerah di wilayah Jabar yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan.…

Gerbang Pendakian Gunung Rinjani & Gunung Tambora Dibuka

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) kembali membuka aktivitas wisata pendakian dua gunung berapi di Nusa Tenggara Barat, yakni Gunung…