Adaptasi Sektor Transportasi di Masa New Normal

Oleh: Mahpud Sujai, Peneliti di Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu

 

Pandemi Covid 19 telah menyebabkan perubahan dramatis dalam berbagai sektor termasuk sektor transportasi. Sebelum terjadi pandemi, masyarakat bebas bepergian kemanapun tanpa khawatir baik dalam kota, antar kota, antar pulau hingga antar Negara. Sektor pariwisata berkembang sangat pesat sebagai akibat dari dukungan pertumbuhan sektor transportasi yang semakin mudah, efisien, murah dan menjangkau seluruh penjuru dunia.

Ketika pandemi covid 19 melanda, sektor transportasi seperti mengalami mimpi yang sangat buruk. Jumlah perjalanan tiba-tiba menurun drastis, sebagian besar masyarakat menahan diri dari bepergian dan tetap berdiam di rumah selama berbulan-bulan. Aktivitas manusia menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan beberapa perusahaan transportasi terutama  yang padat modal seperti transportasi udara mengalami kesulitan likuiditas dan keuangan.

Semua moda transportasi baik darat, laut maupun udara mengalami tingkat kesulitan yang berbeda. Transportasi darat sangat terdampak karena masyarakat menahan diri dari aktivitas seperti bekerja, sekolah, berbisnis dan berwisata. Hal ini menyebabkan transportasi umum darat mengalami penurunan jumlah penumpang yang sangat tajam baik moda bus, angkutan kota hingga kereta api. Kadin Indonesia bidang transportasi mencatat terjadinya penurunan omzet angkutan barang antara 25 hingga 50 persen. Bahkan untuk transportasi penumpang, penurunan terjadi lebih dalam lagi mencapai 75 hingga 100 persen. Banyak perusahaan angkutan yang tidak beroperasi terutama bus antar kota dan antar propinsi. Demikian juga transportasi dalam kota, baik bus kota, angkot hingga KRL dan MRT hampir semua mencatat penurunan penumpang hingga 75 persen terlebih dengan kebijakan PSBB yang membatasi jumlah penumpang dalam angkutan umum.   

Dalam hal transportasi udara, keadaan tidak lebih baik justru semakin parah. Banyak maskapai mengurangi drastis frekuensi dan rute penerbangannya hingga lebih dari 75 persen. Tenaga kerja bidang penerbangan baik on ground maupun off ground banyak yang dirumahkan. Banyak perusahaan penerbangan yang meminta untuk merestrukturisasi keuangannya kepada kreditor. Tidak adanya kegiatan traveling dan wisata menyebabkan pendapatan operator maskapai menurun tajam hingga lebih dari 50 persen. Demikian pula dengan transportasi laut yang cukup terdampak pula meskipun tidak sebesar transportasi darat maupun udara karena transportasi laut lebih didominasi oleh angkutan barang dan logistik dibandingkan dengan angkutan penumpang. Hal ini menyebabkan transportasi laut mengalami dampak yang tidak terlalu parah.

Pandemi covid 19 ini telah mengubah model penggunaan transportasi masyarakat. Asian Development Bank mencatat bahwa terjadinya perubahan prilaku masyarakat dalam melakukan perjalanan dan tentu saja ini harus diantisipasi oleh pelaku bisnis sektor transportasi di masa depan. Terdapat beberapa prilaku yang berubah, antara lain pertama menurunnya permintaan terhadap transportasi publik yang selama ini terus dikampanyekan oleh pemerintah. Kedua, terjadinya perubahan model transportasi terutama jarak dekat menjadi transportasi model aktif seperti bersepeda dan berjalan kaki. Ketiga, meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi terutama mobil pribadi dan motor. Serta keempat, menurunnya demand perjalanan karena masyarakat hanya melakukan perjalanan untuk hal yang penting-penting saja.

Penurunan tidak hanya terjadi untuk transportasi penumpang saja, namun juga termasuk transportasi barang dan logistik meskipun penurunannya tidak setajam transportasi penumpang. Menurunnya demand barang serta kegiatan ekspor impor merupakan salah satu penyebabnya. Meskipun hal ini sedikit teroffset dengan terjadinya peningkatan pengiriman barang sebagai akibat dari meningkatnya transaksi online.

Lalu, bagaimana sektor transportasi ini akan bounce back di beberapa bulan mendatang dan strategi apa yang perlu dilakukan. Dalam hal transportasi perkotaan, beberapa kebijakan perlu diambil. Pertama adalah memperbaiki sistem transportasi publik, Hal ini bisa dilakukan terutama dengan dua strategi, yaitu dari sisi demand, memastikan pengguna transportasi publik mengikuti aturan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah seperti menggunakan masker dan physical distancing. Dari sisi supply, memastikan pemerintah dan operator transportasi publik  untuk menyediakan angkutan yang dapat diandalkan dan melakukan pengaturan penumpang yang ketat. Selain itu perlu juga dukungan restrukturisasi keuangan terutama untuk pengusaha transportasi swasta yang mengalami kesulitan keuangan sebagai akibat menurunnya pendapatan.

Pemerintah dapat mengeluarkan berbagai kebijakan untuk membantu pengusaha sektor transportasi terutama pengusaha kecil dan menengah dengan cara memberikan insentif fiskal berupa keringanan pajak, keringan dan subsidi bunga pinjaman hingga restrukturisasi kredit. Strategi lain adalah perlu juga dirumuskan kebijakan transportasi yang sustainable dengan lebih meningkatkan integrasi transportasi antar moda. 

Ketika lockdown atau PSBB mulai dilonggarkan, terdapat ada beberapa fase kebijakan yang perlu dilalui oleh pemerintah. Fase pertama adalah fase responsive terhadap masa new normal. Hal ini dilakukan dengan membatasi kegiatan bepergian yang tidak penting, melindungi awak transportasi dan penumpang dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat serta memastikan monitoring kesehatan yang baik bagi setiap orang.

Fase kedua adalah fase recovery atau pemulihan. Ketika aktivitas masyarakat mulai berjalan normal, maka beberapa hal yang perlu dilakukan adalah memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan relaksasi bepergian oleh pemerintah untuk memastikan kebijakan apa yang harus diambil apakah lebih dilonggarkan ataukah diketatkan kembali. Fase terakhir adalah fase adaptasi, dimana semua masyarakat pengguna jasa transportasi, pekerja sektor transportasi maupun penyedia jasa transportasi mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru.

Namun, fitrah manusia adalah melakukan aktivitas bepergian kemanapun, sehingga bagaimanapun juga sektor transportasi akan terus dibutuhkan dan tersedia sampai kapanpun. Yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana agar penyedia jasa transportasi tetap bertahan di masa sulit ini hingga kondisi normal dengan memberikan dukungan yang cukup memadai baik dari sisi kebijakan, teknologi maupun finansial. *) Artikel ini merupakan pendapat pribadi

 

BERITA TERKAIT

Sukseskan Penanganan Virus Corona!

  Oleh : Rangga Raditya, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Penanganan pandemi covid-19 selama ini sudah dilakukan pemerintah dengan baik. Seluruh…

Tantangan Pemberian Ruang Fiskal Kredit di Saat Pandemi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *) Tergabung dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional, PMK Nomor 70 tahun…

Jangan Abai Protokol Kesehatan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Lisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila   Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan…

BERITA LAINNYA DI Opini

Sukseskan Penanganan Virus Corona!

  Oleh : Rangga Raditya, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Penanganan pandemi covid-19 selama ini sudah dilakukan pemerintah dengan baik. Seluruh…

Tantangan Pemberian Ruang Fiskal Kredit di Saat Pandemi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *) Tergabung dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional, PMK Nomor 70 tahun…

Jangan Abai Protokol Kesehatan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Lisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila   Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan…