Arus Bongkar Muat Masih Tumbuh - IPCC Bukukan Pendapatan Rp 523,22 Miliar

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun 2019 kemarin, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) membukukan pendapatan sebesar Rp 523,22 miliar atau naik 0,26% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 521,84 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Direktur Utama IPCC, Ade Hartono mengungkapkan, kenaikan pendapatan perseroan ditopang oleh kenaikan arus bongkar-muat untuk completely built up (CBU), baik domestik maupun untuk ekspor-impor. “Volume ekspor-impor alat berat memang turun 40,89%, namun untuk ekspor-impor CBU naik 18,44% dan volume CBU domestik juga naik 115,58%. Karena porsi CBU paling besar terhadap pendapatan, kami masih membukukan kenaikan tipis pada pendapatan,”kata Ade.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, perolehan pendapatan sebagian besar masih dikontribusi oleh pelayanan jasa terminal, yang menyumbang 93,20% terhadap total pendapatan perseroan. Pendapatan ini naik 0,08% sepanjang 2019 menjadi Rp 487,64 miliar, dari sebelumnya sebesar Rp 487,25 miliar. "Untuk pelayanan rupa-rupa usaha dan pengusahaan tanah, bangunan, air, dan listrik berkontribusi masing-masing Rp 4,45 miliar dan Rp 2,80 miliar sepanjang 2019. Sedangkan perolehan pendapatan dari pelayanan jasa barang menyumbang Rp 28,33 miliar atau setara 5,42% dari total pendapatan perseroan. Ini seiring masih rendahnya kontribusi dari pendapatan kargo alat berat dan spareparts di terminal internasional," paparnya.

Beban pokok pendapatan perseroan, lanjut dia, sepanjang 2019 mengalami kenaikan 12,41% menjadi Rp 305,58 miliar, dari tahun sebelumnya sebesar Rp 271,84 miliar. Kenaikan beban ini ditopang oleh subbeban tenaga kerja menjadi total Rp 102,02 miliar, atau naik 15,20% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 88,56 miliar. Meski terjadi peningkatan beban, perseroan tetap mampu mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 135,30 miliar sepanjang 2019. Ini lebih rendah 20,50% dibandingkan perolehan 2018 sebesar Rp 170,19 miliar. Demikian pula earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) terkoreksi 19,78% menjadi Rp 155,92 miliar, dibandingkan periode sama tahun 2018 sebesar Rp 194,37 miliar.

Ade menyatakan, di tahun 2020 akan menerapkan efisiensi demi menekan beban kinerja keuangan. “Di tahun 2020, selain ada rencana pengembangan, kami sangat fokus untuk melakukan efisiensi biaya. Rencana pengembangan kami di antaranya implementasi Automatic Gate System IPC Car Terminal, bekerja sama dengan para PBM. Selain itu, tindak lanjut pengoperasian Pelabuhan Patimban dan lainnya. Mulai tahun ini, kami sudah mulai menerapkan modul budget control di sistem keuangan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan akan ter-manage dengan baik,” kata dia.

Menurut Ade, dengan adanya pandemi Covid-19, tahun 2020 menjadi tahun yang berat, tidak hanya bagi domestik tapi juga global. Ini dipastikan akan menggerus pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Namun demikian, lanjut dia, hingga kuartal I-2020, IPCC masih membukukan pertumbuhan volume bongkar-muat untuk ekspor-impor CBU. Sementara itu, untuk alat berat, ekspor-impor masih melambat, namun penurunannya mulai mengecil. Arus bongkar-muat untuk domestik baik CBU dan alat berat ke depan diperkirakan masih dalam tren kenaikan yang besar. “Kalau melihat performa segmen CBU masih bisa tumbuh sampai kuartal I-2020 dan besaran penurunan di alat berat yang lebih kecil, kami berharap bisa mempertahankan performa, sehingga potensi dari usaha efisiensi biaya yang kami lakukan akan memberikan peningkatan kualitas pada kinerja kami,” ujar Ade.




BERITA TERKAIT

PGUN Raup Dana Hasil IPO Rp 103,5 Miliar

Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dibuka melonjak 34,78% menjadi Rp 155 per saham…

Pefindo Pangkas Rating Waskita Jadi BBB+

NERACA Jakarta- Mempertimbangkan beban keuangan yang tinggi dan lemahnya rasio utang dan profitabilitas perusahaan menjadi alasan bagi PT Pemeringkat Efek…

Jaga Kocek Agar Tidak Tipis - Dividen Sritex Menyusut Dibandingkan Tahun Lalu

NERACA Jakarta –Mempertimbangkan jaga likuiditas guna mendanai ekspansi bisnisnya menjadi alasan bagi PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

PGUN Raup Dana Hasil IPO Rp 103,5 Miliar

Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dibuka melonjak 34,78% menjadi Rp 155 per saham…

Pefindo Pangkas Rating Waskita Jadi BBB+

NERACA Jakarta- Mempertimbangkan beban keuangan yang tinggi dan lemahnya rasio utang dan profitabilitas perusahaan menjadi alasan bagi PT Pemeringkat Efek…

Jaga Kocek Agar Tidak Tipis - Dividen Sritex Menyusut Dibandingkan Tahun Lalu

NERACA Jakarta –Mempertimbangkan jaga likuiditas guna mendanai ekspansi bisnisnya menjadi alasan bagi PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex…