Krisis Pangan di Depan Mata

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) baru-baru ini memberikan peringatan krisis pangan global. Bagaimanapun, Indonesia tidak dapat menganggap ringan bayang-bayang krisis pangan tahun ini. Pada Rapat Kabinet Terbatas (22 April 2020), Presiden Jokowi telah memberikan arahan kepada para menteri Kabinet Indonesia Maju untuk menjaga stok pangan pokok dan strategis, memastikan akses pangan bagi mereka yang terdampak Covid-19. Dan, melakukan reformasi kebijakan pangan yang menyeluruh untuk perbaikan ke depan.

Masalahnya, ketersediaan pangan lokal saat ini masih sangat terbatas. Apalagi, pengindustrian bahan dasar karbohidrat itu menjadi tepung belum tersedia secara masif dan pada skala komersial. Sementara krisis pangan 2020 bukan karena lonjakan harga pangan yang tajam, melainkan karena menurunnya akses pangan masyarakat.

Menurut Lembaga Penelitian Pangan Internasional (IFPRI), pandemi Covid-19 akan menyebabkan kontraksi pertumbuhan global minus 5%. Kelompok masyarakat menengah bawah atau negara-negara berpenghasilan menengah rendah rentan menjadi miskin dan rawan pangan, karena faktor akses pangan ini. Karena beras masih dijadikan barometer ketersediaan pangan, walaupun Indonesia memiliki sumber karbohidarat alternatif seperti ubi kayu, ubi jalar, ganyong, gembili, sagu, dan lain-lain.

Menurut guru besar Universitas Lampung Prof. Bustanul Arifin, krisis pangan 2020 lebih berupa melemahnya akses pangan karena perekonomian mengalami kontraksi dan daya beli menurun drastis. Harga pangan di tingkat global belum mengalami kenaikan signifi kan, karena stok pangan global masih baik, panen tidak buruk, cuaca cukup bersahabat.

Beberapa komoditas pangan global mengalami lonjakan, khususnya pangan berbasis biji-bijian, seperti beras. Pangan berbasis minyak nabati bahkan mengalami penurunan, karena keterkaitan yang cukup tinggi dengan harga minyak bumi global.

Harga beras global telah merangkak naik, bahkan sudah tembus US$500/ton, karena volume perdagangan beras sudah menurun. Sebagai produsen beras utaman, Thailand, Vietnam, dan Myanmar akan memprioritaskan kebutuhan beras domestik masing-masing, baru sisanya untuk memenuhi pasar global.

Jika persoalan akses pangan (sisi permintaan) bersenyawa dengan persoalan ketersediaan (sisi penawaran), krisis pangan amat mungkin akan terjadi. Di satu sisi, akses masyarakat menengah-bawah terhadap pangan menurun drastis karena masyarakat tiba-tiba tidak dapat bekerja dan/atau kehilangan pekerjaan. Harga pangan secara riil menjadi lebih mahal, karena daya beli yang menurun, walaupun harga nominal tidak banyak berubah.

Di sisi lain, ketersediaan pangan domestik mulai bermasalah. Terutama, pangan yang berbasis impor, karena ketergantungan yang berlebihan menjadi faktor risiko tersendiri. Pemerintah wajib menghindari dua sumber transmisi krisis pangan. Setidaknya, mengupayakan secara serius agar sisi permintaan tidak terjadi bersamaan dengan sisi penawaran.

Kelalaian atau keterlambatan melakukan antisipasi krisis ini akan berdampak sosial-ekonomi dan politik lebih dahsyat karena tingkat sensitivitas pangan sangat tinggi.

Untuk menanggulangi tansmisi krisis dari sisi permintaan, pemerintah Indonesia telah mengalokasikan total anggaran Rp405 triliun untuk penanganan Covid-19, walaupun tidak secara eksplisit untuk menanggulangi krisis pangan.

Meski demikian, antisipasi dari sisi penawaran harus dilakukan dengan seksama. Karena, beberapa komoditas pangan cukup responsif terhadap intervensi kebijakan. Beberapa komoditas pangan tidak terlalu responsif, apalagi jika Indonesia tidak mengelolanya secara langsung. Untuk itu, perlu perbaikan governansi, perizinan, dan administrasi impor mampu meredam lonjakan harga pangan. Semoga.

BERITA TERKAIT

Waspadai Resesi Ekonomi

Menyimak frekuensi peningkatan jumlah kasus penularan virus corona yang sudah berskala internasional, setidaknya akan mengindikasikan sebuah fase baru bagi upaya…

Waspada Politisasi Bansos

  Pilkada serentak yang akan diselenggarakan 9 Desember 2020 sangat rawan akan politisasi bantuan sosial. Sudah ditemukan beras yang dibungkus…

Awasi Dana Covid-19!

Kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat kita sudah semakin rapuh, akibat wabah Covid-19 telah membuat aspek kehidupan manusia perlahan lumpuh. Rakyat…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Waspadai Resesi Ekonomi

Menyimak frekuensi peningkatan jumlah kasus penularan virus corona yang sudah berskala internasional, setidaknya akan mengindikasikan sebuah fase baru bagi upaya…

Waspada Politisasi Bansos

  Pilkada serentak yang akan diselenggarakan 9 Desember 2020 sangat rawan akan politisasi bantuan sosial. Sudah ditemukan beras yang dibungkus…

Awasi Dana Covid-19!

Kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat kita sudah semakin rapuh, akibat wabah Covid-19 telah membuat aspek kehidupan manusia perlahan lumpuh. Rakyat…