Cloud Computing dan Manajemen Risiko

 

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

 

Hal varian mengatakan bahwa di era big data diperlukan peralatan analisis data yang berbeda untuk menganalisis data karena data sudah bersifat big data. Di era ini teknik machine learning (pembelajaran mesin) akan mendominasi analisis big data. Manajemen risiko harus diperlakukan dalam konteks ini. Apalagi saat ini dunia dipastikan akan memasuki era resesi akibat virus Corona. Pada gilirannya, semua proses manajemen risiko di era ini dan masa depan akan tergantung kepada teknologi cloud computing (komputasi awan).

Jika Simon Kuznets yang jenius itu mengatakan bahwa risiko kemiskinan akan menurun dengan diberlakukannya perekonomian berbasis pasar setelah sebelumnya mengalami peningkatan, maka manajemen risiko di masa depan secara analogi dengan apa yang dikatakan oleh si jenius Kuznets akan mengalami penurunan risiko setelah sebelumnya mengalami peningkatan risiko. Hal ini dapat terjadi karena dalam jangka pendek, karena manajemen risiko memerlukan penyesuaian dalam peralatan analisis datanya ketika migrasi menuju teknologi komputasi awan semakin marak dan tak terhindarkan.

Teknologi komputasi awan layaknya adalah kekuatan mekanisme pasar itu sendiri. Saat ini hampir semua perusahaan teknologi raksasa mengembangkan teknologi komputasi awan seperti Microsoft, Amazon dan Google. Google misalnya, di samping seperangkat alat manajemen, ia menyediakan serangkaian layanan cloud modular termasuk komputasi, penyimpanan data, analisis data, dan pembelajaran mesin. Pendaftaran memerlukan kartu kredit atau detail rekening bank. Google Cloud Platform menyediakan infrastruktur sebagai layanan, platform sebagai layanan, dan lingkungan komputasi tanpa server.

Sementara itu Amazon misalnya, secara agregat, layanan web komputasi awan ini menyediakan seperangkat infrastruktur teknis abstrak primitif dan blok bangunan dan alat komputasi terdistribusi. Salah satu layanan ini adalah Amazon Elastic Compute Cloud, yang memungkinkan pengguna untuk memiliki sekelompok komputer virtual, tersedia setiap saat, melalui Internet. Versi virtual komputer AWS meniru sebagian besar atribut komputer nyata, termasuk unit pemrosesan pusat perangkat keras (CPU) dan unit pemrosesan grafis (GPU) untuk diproses; memori lokal (RAM), penyimpanan hard disk (SSD),  pilihan sistem operasi, jaringan dan perangkat lunak aplikasi yang dimuat sebelumnya seperti server web, database, dan customer relationship management (CRM).

Di pihak lain, Microsoft menyediakan perangkat lunak sebagai layanan (SaaS), platform sebagai layanan (PaaS) dan infrastruktur sebagai layanan (IaaS) dan mendukung banyak bahasa, alat, dan kerangka kerja pemrograman yang berbeda, termasuk perangkat lunak dan sistem pihak ketiga yang spesifik Microsoft dan pihak ketiga. Sementara itu pemain paling tua dalam teknologi komputasi awan yang sering dilupakan adalah Rackspace yang menyumbangkan kode sumber produk Cloud Files ke proyek OpenStack di bawah Lisensi Apache untuk menjadi komponen OpenStack Object Storage. Rackspace mengumumkan pada 8 Maret 2017, berencana untuk ekspansi ke portofolionya untuk memasukkan layanan terkelola untuk Google Cloud Platform. Selain Rackspace, pemain terlama lainnya adalah OVH. OVH memiliki pusat data terbesar di dunia di bidang permukaan.

Mereka adalah penyedia hosting terbesar di Eropa, dan terbesar ketiga di dunia berdasarkan server fisik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1999 oleh keluarga Klaba dan berkantor pusat di Roubaix, Prancis. OVH didirikan sebagai perusahaan saham gabungan yang disederhanakan di bawah hukum Prancis. Pada Januari 2019, majalah WebsitePlanet menemukan kerentanan sisi klien di beberapa perusahaan hosting terbesar di dunia seperti Bluehost, DreamHost, HostGator, iPage, dan OVH. Dengan demikian, seperti yang dianalogikan oleh si jenius Simon Kutznets, peningkatan resiko dalam jangka pendek memang akan meningkat. Beberapa perusahaan baru memang berupaya masuk ke dalam pasar komputasi awan dengan cara melakukan akuisisi seperti GoDaddy. Pada 17 Mei 2016, GoDaddy mengakuisisi FreedomVoice dengan uang tunai 42 juta dolar. FreedomVoice adalah penyedia sistem telepon VoIP berbasis cloud di seluruh Amerika Serikat.

Perusahaan ini melakukan pelelangan saham dan menjual saham di pasar modal untuk mendapatkan dana dalam rangka melakukan akuisisi. Pada tanggal 1 April 2015, GoDaddy memiliki IPO yang sukses di New York Stock Exchange, dengan saham melonjak 30 persen pada hari pertama perdagangan. Dana inilah yang digunakan untuk melakukan akuisisi bisnis teknologi komputasi awan. Perusahaan baru lainnya namun dengan pangsa pasar yang relatif kecil seperti Online yang focus pada pasar Perancis. Tampak jelas Perancis mencoba mengikuti Amerika Serikat dalam pasar teknologi komputasi awan.  Pada bulan Mei 2016, Online menunjukkan total kapasitas 1.642 Gb / s pada tautannya di peta cuaca mereka dan hadir di Poin Pertukaran Internet di Prancis-IX, Equinix-IX, AMS-IX, dan Netral Internet Exchange.

Jangan lupa, bahwa teknologi komputasi awan juga menuntut governance yang baik agar risikonya minimal. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut, untuk Audit, Identitas, dan Manajemen Akses, platform ini memiliki kemampuan untuk Pemeriksaan Integritas Data, keterlacakan, dan fitur manajemen akses. Pendekatan ini misalnya dilakukan oleh Oracle. Oracle Cloud Platform menyediakan aplikasi identitas dan keamanan untuk menyediakan akses yang aman dan pemantauan lingkungan cloud hybrid dan menangani tata kelola Teknologi Informasi dan persyaratan kepatuhan. Platform ini menghadirkan identitas Pusat Operasi Keamanan melalui penawaran gabungan beberapa teknologi. Layanan yang ditawarkan termasuk Layanan Cloud Identity dan Layanan Cloud CASB.

Dalam konteks big data seperti yang dikatakan oleh Varian di atas, perusahaan menyediakan Platform Analisis Bisnis ini yang dapat menganalisis dan menghasilkan wawasan dari data di berbagai aplikasi, gudang data, dan danau data. Layanan yang ditawarkan meliputi Analytics Cloud, Business Intelligence, Big Data Discovery, Persiapan Big Data, Visualisasi Data, dan Essbase. Dengan demikian dalam jangka Panjang risiko memang akan secara relatife lebih kecil karena manajemen risiko didukung oleh alat-alat analisis risiko yang sangat canggih dan cermat sehingga dampak resesi atau bahkan depresi dari virus Corona, logikanya dapat diminimalisasi.

BERITA TERKAIT

Indonesia Optimis Menang Lawan Covid-19

Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial Politik Virus covid-19 memang masih bercokol di Indonesia. Banyak aturan yang dikeluarkan untuk mencegah…

Suasana Pasca Pandemi Versi Futuris

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager Climate Reality Indonesia Melalui COVID-19, Planet Bumi memberikan pelajaran bahwa selama ini manusia hidup…

New Normal Solusi Pemulihan Ekonomi Indonesia

  Oleh: Deka Prawira, Pemerhati Ekonomi Harus diakui bahwa kebijakan PSBB dan himbauan untuk Work From Home memang berdampak signifikan…

BERITA LAINNYA DI Opini

Indonesia Optimis Menang Lawan Covid-19

Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial Politik Virus covid-19 memang masih bercokol di Indonesia. Banyak aturan yang dikeluarkan untuk mencegah…

Suasana Pasca Pandemi Versi Futuris

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager Climate Reality Indonesia Melalui COVID-19, Planet Bumi memberikan pelajaran bahwa selama ini manusia hidup…

New Normal Solusi Pemulihan Ekonomi Indonesia

  Oleh: Deka Prawira, Pemerhati Ekonomi Harus diakui bahwa kebijakan PSBB dan himbauan untuk Work From Home memang berdampak signifikan…