Pasar Karet Perlu Perhatian Pemerintah

NERACA

Jakarta - Nasib komoditas karet tidak jauh berbeda dengan komoditas kelapa sawit yang setiap harinya selalu mendapat tekanan, sehingga harganya selalu naik turun. Atas dasar itulah pasar karet memerlukan perhatian pemerintah. 

Benar, bahwa harga karet memang sudah mulai merangkak naik. Tapi tekanan terhadap komoditas tersebut masuk terus menghantui. “Tekanan tersebut diantaranya seperti adanya volume karet sintetis yang harus bersaing dengan karet alam. Lalu persaingan antara Amerika dan China pun secara tidak langsung mempengaruhi pasar karet Indonesia. Melihat hal ini maka pemerintah perlu hadir yang lebih serius dalam membenahi karet,” kata Gamal Nasir, Dewan Pengawas Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPERINDO).      

Meski begitu, Gamal mengakui, memang pemerintah sudah melakukan berbagai upaya peningkataan harga. Dinataranya melakukan loby-loby ke negara luar dan memperbesar penggunaan daam negeri, tapi masih belum ada peningkatan yang signifikan. Walapun ada peningkatan harga itu masih cukup kecil. Belum mengembalikan kejayaan karet.

“Sehingga dalam hal ini mungkin diperlukan regulasi yang baru dengan kabinet baru atau Menteri Pertanian yang baru untuk bisa mendorong lebih cepat lagi mengembalikan kejayaan karet,” harap Gamal.

Hal ini penting, karena menurut Gamal, dari catatan Ditjen Perkebunan tahun 2018, bahwa luas tanaman karet yang mencapai 3,6 juta hektar sebanyak 84 persennya dimiliki oleh petani. Artinya, dengan membenahi tanaman karet dan mendongkrak harga karet, itu sama saja dengan membenahi tanaman rakyat dan meningkatkan ekonomi rakyat.

Disisi lain, kemitraan antar perusahaan dan petani jangan hanya sebatas pembelian untuk bahan baku industri. Tapi berikanlah juga pembinaan teknis guna meningkatkan kualitas dan kuantitas. 

“Saya kira kalau ini bisa dilakukan maka produksi karet akan meningkat baik kualitas ataupun kuantitas.  

Saya kira ini perlu dibicarakan dengan Menteri Pertanian yang baru agar bisa membenahi karet lebih baik lagi guna kesejahteraan petani,” himbau Gamal yang juga mantan Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.  

Sementara itu, Ir. Irmijati Rachmi Nurbahar, M.Sc. mantan Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar mengakui bahwa ekspor dari komoditas karet tidaklah kecil. Terbukti, berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, volume ekspor karet tahun 2018 mencapai 2.811,95 juta ton dengan nilai ekspor US$ 3.949,21 juta. 

“Ekspor tersebut tidaklah kecil, bahkan ekspor tersebut nomor dua setelah kelapa sawit di komoditas perkebunan,” ucap Irmi. 

Meski begitu, Irmi mengakui bahwa produktivitasnya masih rendah, walapun Indonesia sebagai penghasil nomor dua di dunia. Seperti dalam catatannya, bahwa Thailand mampu memproduksi 1.800 kilogram per hektar per tahun. Indonesia hanya mampu 1.080 per hektar per tahun. 

“Namun, Vietnam sebagai pemain baru dalam komoditas karet sudah mampu memproduksi 1.720 kilogram per hektar per tahun dan Malaysia mencapai 1.510 kilogram per hektar per tahun,” risau Irmi. 

Kendati demikian, Irmi menjelaskan bahwa rendahnya produkivitas bukanlah tanpa sebab. Rendahnya produktivitas lebih karena banyaknya tanaman yang sudah tua. Bahkan hasil identifikasi Ditjen Perkebunan, Kemnenterian Pertanian potensi peremajaan karet mencapai sekitar 700 ribu hektar. Kebutuhan benih untuk itu adalah 282,31 juta benih. 

“Atas dasar itulah adanya bantuan beih sebesar 142,56 juta atau 51,3 persen dari kebutuhan,” ucap Irmi. 

Melaui bantuan tersebut, Irmi berharap adanya peningkatan produktivitas hingga tiga kali lipat dengan menyediakan benih bermutu, berkualitas dan bersertifikat.

Sementara itu, The International Tripartite Rubber Council yang terdiri dari Thailand, Indonesia dan Malaysia mengatakan produksi akan berkurang 800,000 ton karena wabah jamur di daerah perkebunan karet, Ke tiga negara memproduksi 70% dari karet alam dunia.

Harga RSS-3 di Thailand naik 68 sen menjadi $150,00 per 100 kg. Rubber Board di Malaysia harga karet  SMR-20 turun 15 cent menjadi $136,40 per 100 kg. Cina mengimport 500.000 ton karet alam dan karet sintesis termasuk latex di bulan Oktober. Di bulan September 2019 produksi karet alam Malaysia naik.

  

BERITA TERKAIT

Dana BPDPKS Harus Jadi Stimulus Petani Agar Naik Kelas

NERACA Jakarta - Pendanaan kelapa sawit sebaiknya jangan terpaku pada dana BPDPKS, karena jumlahnya tiap tahun hanya Rp20 triliun. “Kelihatan…

Perkuat UMKM dalam Skema Pemulihan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta - Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Untuk itu, diperlukan stimulus guna…

Permudah Pelayanan Nelayan dengan Online

NERACA Karangantu - Meski di tengah pandemi, layanan untuk masyarakat kelautan dan perikanan tidak terhenti. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Dana BPDPKS Harus Jadi Stimulus Petani Agar Naik Kelas

NERACA Jakarta - Pendanaan kelapa sawit sebaiknya jangan terpaku pada dana BPDPKS, karena jumlahnya tiap tahun hanya Rp20 triliun. “Kelihatan…

Perkuat UMKM dalam Skema Pemulihan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta - Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Untuk itu, diperlukan stimulus guna…

Permudah Pelayanan Nelayan dengan Online

NERACA Karangantu - Meski di tengah pandemi, layanan untuk masyarakat kelautan dan perikanan tidak terhenti. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)…