Dua Tantangan yang Akan Dihadapi TNI

Dua Tantangan yang Akan Dihadapi TNI  

NERACA

Jakarta - Pengamat intelijen, pertahanan dan keamanan, Ngasiman Djoyonegoro, menyebutkan ada dua tantangan yang akan dihadapi oleh TNI di tahun mendatang.

"Pertama, tantangan menghadapi ancaman cyberwar. Bayangkan, saat ini melalui digital profiling di media sosial, maka berbagai koordinasi dan komunikasi termasuk membangun opini, sentimen serta propaganda dapat dilakukan dengan mudah," kata Ngasiman dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (7/10), menanggapi Peringatan HUT Ke-74 TNI pada Sabtu (5/10).

Dengan teknik digital profiling, kata dia, preferensi atau kecenderungan warganet pun dapat diketahui. Propaganda media sosial itulah yang menjadi cikal bakal kasus Arab Spring.

"Pengaruh teknologi yang awalnya untuk mencari sumber daya alam baru, berdiplomasi dan berdagang, sekarang bergeser ke penguasaan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Tantangan TNI ke depan artinya makin berat," kata pria yang akrab disapa Simon ini.

Menurut Simon, strategi perang pun sekarang ini berubah. Jika dulu dikenal dengan istilah "hard power"dan "soft power", namun di era revolusi industri 4.0 muncul istilah baru bernama "smart power".

"Ya, sekarang ada istilah 'smart power', trend strategi perang mutakhir yang sangat mematikan. Smart power itu strategi yang memadukan berbagai instrumen kekuasaan negara baik yang bersifat hard seperti diplomatik, ekonomi, militer, politik maupun yang berkarakteristik soft seperti legalitas, budaya, dan lainnya," kata Simon.

Tantangan kedua, lanjut dia, membantu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul sebagaimana menjadi prioritas pembangunan pemerintahan Jokowi periode kedua. Apalagi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto baru saja mendapat gelar doktor honoris causa (HC) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Gelar kehormatan diberikan dalam bidang manajemen sumber daya manusia (SDM).

"Panglima TNI dinilai sebagai figur yang handal dalam bidang manajemen SDM. Ini tentu sejalan dengan prioritas pembangunan Presiden Jokowi periode kedua. Artinya Panglima TNI juga perlu menciptakan SDM unggul di lingkaran TNI," jelas Simon.

Oleh karena itu, Simon terus mendorong agar alutsista TNI terus dikembangkan menjadi berbasis teknologi digital. Pasalnya, saat ini setiap orang dan setiap pasukan TNI mutlak harus terhubung dengan internet satu sama yang lain.

Keniscayaan pembaruan alutsista perlu dilakukan mengingat jenis teknologi yang menjadi pilar Revolusi Industri 4.0 semakin bergerak cepat."SDM TNI harus unggul. Ini tantangan ke depan. SDM yang unggul punya kecepatan untuk mendeteksi lawan. Presiden Jokowi mengatakan tantangan sekarang bukan negara besar menguasai negara kecil, namun negara cepat menguasai negara lambat," papar dia. Ant

 

 

BERITA TERKAIT

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19

NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengingatkan aparat keamanan untuk tidak lengah menghadapi potensi ancaman terorisme, kriminalitas…

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19   NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengingatkan aparat keamanan untuk…

Karhutla Berulang Karena Sengaja Dibakar

Karhutla Berulang Karena Sengaja Dibakar   NERACA Jakarta - Pakar kebakaran hutan dan lahan dari Institut Pertanian Bogor Prof Bambang Hero…

BERITA LAINNYA DI

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19

NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengingatkan aparat keamanan untuk tidak lengah menghadapi potensi ancaman terorisme, kriminalitas…

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19

Waspadai Ancaman Keamanan di Tengah Pandemi COVID-19   NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengingatkan aparat keamanan untuk…

Karhutla Berulang Karena Sengaja Dibakar

Karhutla Berulang Karena Sengaja Dibakar   NERACA Jakarta - Pakar kebakaran hutan dan lahan dari Institut Pertanian Bogor Prof Bambang Hero…