Jangan Lupakan Ngerinya Kebakaran Hutan

Selain musim kemarau dan hujan, Indonesia juga punya musim kebakaran hutan yang kerap melanda beberapa daerah khususnya Kalimantan dan Sumatera. Tercatat, salah satu momen kebakaran hutan paling kelam terjadi pada Februari 2015. Salah satu orang yang masih mengingat kejadian itu dengan jelas adalah Jamartin Sihite, CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Saat itu ia beserta timnya berjibaku menyelamatkan 78 ekor orang utan di Sungai Mangkutub, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, menjelang pergantian tahun 2016.

Digambarkannya hutan di sana menderita kerusakan besar akibat kebakaran masif, ditambah lagi dengan kegiatan pembalakan liar yang menambah laju kerusakan habitat orangutan. "Kami melakukan misi penyelamatan orangutan pada bulan Desember, namun terpaksa berhenti menjelang Natal karena ada anggota tim kami yang harus dirawat," ujar Jamartin dikutip dari CNNIndonesia.com."(Misi penyelamatan) ini harus dilakukan karena daerah sekitar Mangkutub tidak lagi mampu menampung sisa populasi orangutan di sana."

Misi tersebut, ia melanjutkan, kembali dijalankan usai tahun baru. Saat itu timnya baru berhasil menyelamatkan sekitar 40 ekor orangutan, usai tahun baru tim yang dipimpin Jamartin menyelamatkan sisanya yakni 38 ekor orangutan. Jamartin mengaku cukup menyesal karena menghentikan misi penyelamatan, karena saat kembali usai tahun baru ia menemukan nyawa seekor orangutan sudah tak terselamatkan.

Demi menghindari mimpi buruk empat tahun silam terulang, ia mengingatkan agar masyarakat berperan aktif untuk melaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) jika melihat orangutan masuk ke permukiman, bukan mengusir atau main hakim sendiri.

Menurutnya manusia tidak usah terlalu takut jika melihat orangutan masuk ke permukiman, cukup bunyikan kaleng atau siram dengan air untuk membuatnya segan mengganggu yang bukan kawanannya. "Orangutan pada dasarnya malu jika bertemu manusia, jadi cukup diusir saja pakai bebunyian dari kaleng atau air. Setelah itu laporkan kepada BKSDA atau ke BOSF, jangan disakiti apalagi ditembak," ujarnya mengingatkan.

"Itu sebabnya saya heran jika ada laporan orangutan yang menyerang manusia, tapi lukanya si korban tidak seberapa. Padahal kekuatan orangutan itu setara tujuh orang lelaki dewasa yang perkasa, pasti mati kalau beneran diserang orangutan saat tidak memegang senjata."

 

BERITA TERKAIT

Protokol New Normal Anjuran WTCC untuk Hotel dan Ritel

World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan protokol baru mengenai kesehatan dan keselamatan untuk sektor perjalanan dan pariwisata demi menyambut…

Pagang, Pulau Wisata Sekaligus Penanggulangan Bencana

Secara geografis Pulau Pagang masuk wilayah Pesisir Selatan, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu. Namun akses menuju ke sana…

Topeng Labu Muarajambi, Tradisi Silaturahmi di Tengah Wabah

Sekumpulan anak kecil menyusuri jalan beton di tepian Sungai Batanghari. Satu persatu bocah-bocah ini mengikuti gerombolan pemuda yang bersiap memulai…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Protokol New Normal Anjuran WTCC untuk Hotel dan Ritel

World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan protokol baru mengenai kesehatan dan keselamatan untuk sektor perjalanan dan pariwisata demi menyambut…

Pagang, Pulau Wisata Sekaligus Penanggulangan Bencana

Secara geografis Pulau Pagang masuk wilayah Pesisir Selatan, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu. Namun akses menuju ke sana…

Topeng Labu Muarajambi, Tradisi Silaturahmi di Tengah Wabah

Sekumpulan anak kecil menyusuri jalan beton di tepian Sungai Batanghari. Satu persatu bocah-bocah ini mengikuti gerombolan pemuda yang bersiap memulai…