Hingga Oktober 2017, Ekspor Produk Perikanan US$ 3,62 miliar - Berdasarkan Data KKP

NERACA

Jakarta – Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ekspor produk perikanan Indonesia tercatat sebesar US$ 3,62 miliar hingga Oktober 2017. Angka tersebut naik 6,38 persen dibandingkan 2016 yang sebesar US$ 3,4 miliar. Namun secara volume dari Januari hingga Oktober 2017 ekspor turun 3,23 persen dan impor turun 6,93 persen.

“Selama Januari hingga Oktober 2017 memang secara volume turun tapi nilai naik. Penurunan volume ekspor karena upaya KKP memerangi Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing dan dari data ini bisa terlihat keberhasilan kami melawan IUU Fishing,” papar Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo kepada Wartawan, di kantor KKP, Jakarta, pekan lalu.

Dia menjelaskan, komoditas utama ekspor Indonesia antara lain udang, tuna-tongkol-cakalang (TTC), rajungan-kepiting (RK), cumi-sotong-gurita (CSG) dan rumput laut (RL). Hingga Oktober 2017, ekspor udang tercatat mencapai 147,6 juta ton, TTC sebesar 169 juta ton, CSG sebesar 87,9 juta ton, RK sebesar 22,8 juta ton, RL 153 juta ton dan komoditas lain sebesar 281,5 juta ton.

Sementara dalam lima tahun terakhir, yaitu pada periode 2012-2017, volume ekspor komoditas perikanan Indonesia cenderung mengalami kenaikan. Udang naik 3,24 persen per tahun, TTC naik 3,04 persen per tahun, RK naik 1,12 persen er tahun, CSG naik 9,47 persen per tahun, RL naik 1,85 persen per tahun. Sedangkan komoditas perikanan lain turun 9,25 persen per tahun. "Yang turun itu bukan komoditas utama, tapi produk lain. Dan produk lain hingga saat ini komoditasnya belum bisa dipetakan apa saja. Ini yang ingin kami kejar dan berharap ke depan ini bisa dipetakan produk lain, sehingga terpampang jelas mana-mana aja komoditas yang turun,” ujar dia.

Adapun ekspor tujuan utama antara lain Amerika Serikat, Jepang, kawasan ASEAN, China dan Uni Eropa. “Negara tujuan ekspor masih berkutat di lima negara terbesar, meski ada timur tengah dan negara lain. Tapi 5 negara ini yang masih dominan,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bisnis perikanan harus mengedepankan prinsip berkelanjutan agar ekspor perikanan ke berbagai negara tidak mengalami penurunan kembali. "Bisnis yang menghasilkan produktivitas tinggi tanpa menjaga keberlanjutan hanya akan merugikan negara kita. Seperti yang terjadi sekitar tahun 2000 hingga 2003. Ekspor kita jauh berkurang dan industri perikanan kita mengalami penurunan," kata Susi.

Untuk itu, Susi menilai kesadaran masyarakat Indonesia akan kelestarian laut juga harus ditingkatkan sehingga dibutuhkan komitmen dan kerja sama dari semua pihak. Ke depannya diharapkan, tata kelola berkelanjutan dengan beberapa kebijakan KKP yang dinilai cenderung ekstrem ini mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan meningkatkan pendapatan negara.

Susi mengatakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan berada di jalan yang benar yang terlihat dari jumlah ekspor yang terus meningkat sedangkan jumlah impor terus menurun setiap tahunnya. "Meski ekspor-impor global sedang lesu, sektor perikanan Indonesia tetap tumbuh ekspornya, impornya tetap turun," ujarnya.

Food and Agriculture Organization (FAO) memproyeksikan pasar eksportir perikanan pada tahun 2024 hanya akan dikuasai oleh Negara Tiongkok (21%), Vietnam (8%), Norwegia (8%), Amerika Serikat (6%), Thailand (6%), dan Uni Eropa (6%).

Pada kesempatan berbeda, Nilanto Perbowo mengatakan, dengan potensi perikanan yang ada di Indonesia. Ia optimistis Indonesia mampu bersaing dengan negara eksportir perikanan terbesar dunia. Bahkan Indonesia mampu merajai tangga teratas menjadi negara eksportir perikanan terbesar di dunia. “Dengan potensi perikanan yang ada di laut nusantara dan perikanan budidaya, Indonesia sangat mampu menguasai pasar ikan global,” ujar dia

Ia mengatakan untuk bisa mewujudkannya, tentu harus ada regulasi atau kebijakan yang konsisten serta sustainable, dan selama kepimpinan Susi, semuanya sudah dijalankan mulai dari, moratorium, larangan bongkar muat kapal di tengah laut (transshipment), langkah itu ditempuh agar ikan laut tidak keluar ke negara lain. Dalam artian semua hasil perikanan baik ikan laut atau budidaya bisa diolah agar mempunyai nilai tambah .

Ia mengatakan setelah kebijakan-kebijakan tersebut dikeluarkan, banyak Negara lain yang kelimpungan terhadap bahan baku ikan olahan. Seperti Thailand, Vietnam, produksi perikanannya turun hingga 31%, bahkan produksi perikanan China juga turun, Boleh dikatakan Negara-negara eksportir ikan dunia sangat ketergantungan terhadap Indonesia. Maka dari itu, Indonesia harus menguatkan daya saing produk perikanan nasional yaitu dengan menguatkan pada hilirisasi industri perikanan. “Kalau bicara bahan baku Indonesia tidak perlu khawatir, Indonesia gudangnya, tinggal penguatan di olahannya,” tegasnya.

BERITA TERKAIT

MMLP Bidik Rights Issue Rp 447,79 Miliar

Dalam rangka perkuat modal, PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP), emiten pengelola pergudangan berencana untuk melaksanakan penambahan modal tanpa hak…

TURI Anggarkan Capex Rp 554 Miliar

NERACA Jakarta – Genjot target pertumbuhan bisnis, PT Tunas Ridean Tbk  mengangarkan belanja modal tahun 2018 sebesar Rp 554 miliar.…

IPM Banten 2017 Naik 0,46 Poin

IPM Banten 2017 Naik 0,46 Poin NERACA Serang - Indeks pembangunan manusia (IPM) Provinsi Banten tahun 2017 meningkat 0,46 poin…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kemenperin Terus Pacu Industri Fesyen Muslim Nasional Jadi Kiblat Dunia

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih mengatakan industri busana muslim terus merangkak naik seiring…

Kemenperin: Batam Berpotensi Jadi Pusat Klaster Industri Elektronik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mendorong Batam menjadi pusat pengembangan klaster industri elektronik yang bernilai tambah tinggi. Upaya ini untuk…

Tingkatkan Ekspor - Difasilitasi, 8 IKM Fesyen Ikut Pameran di Jepang

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya memperkenalkan keindahan budaya Indonesia di kancah internasional melalui pameran produk industri kecil dan…