KPPU: Impor Solusi Atasi Lonjakan Harga - SATGAS PANGAN BONGKAR PENIMBUN BAWANG PUTIH

Jakarta-Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menegaskan importasi menjadi satu-satu solusi untuk menekan lonjakan harga bawang putih yang terjadi belakangan ini. Selama ini Indonesia memang melakukan impor komoditas pangan itu antara lain dari China, India dan Australia. Sementara Satgas Pangan yang dibentuk Polri berhasil membongkar praktik penimbunan bawang putih di wilayah Marunda, Jakarta Utara.

NERACA

Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan, banyak daerah di Indonesia sampai saat ini belum bisa memproduksi bawang putih memenuhi permintaan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, pada tahun lalu Indonesia mengimpor ‎448 ribu ton bawang putih.

"Iklim kita memang tropis tapi belum bisa menghasilkan bawang putih untuk kebutuhan rakyatnya, kebanyakan bawang putih yang beredar itu hasil impor," ujar Syarkawi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (18/5).‎

Dia mengakui pihaknya sempat melakukan inspeksi mendadak di beberapa pasar tradisional dan pasar modern, termasuk di Makassar. Dari sidak tersebut, terbukti jika langkah impor menjadi opsi satu-satunya untuk menekan harga, meningkatkan stok yang tersedia dan mengakomodir kebutuhan masyarakat.

"Kalau banyak bawang putih impor yang beredar, yah memang harus seperti itu. Karena kita tidak menghasilkan bawang putih sendiri. Beda dengan bawang merah, bawang merah itu kita surplus, jadi tidak perlu impor," ujarnya.

Menurut data Kementerian Pertanian, kebutuhan bawang putih nasional mencapai 500 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut, tentu tidak dapat dipenuhi oleh Perum Bulog saja tetapi juga harus melibatkan importir swasta "Sehingga juga harus mengandalkan importir umum maupun importir produsen," ujarnya.

Sebelumnya Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Wakapolri Komjen Pol. Syafruddin menemukan aksi penimbunan bawang putih di Gudang Marunda, Jakarta Utara. Dalam temuan itu terungkap 182 ton bawang putih ditimbun oleh oknum importir pemilik gudang. "Hari ini (Rabu, Red.) kami temukan 182 ton bawang putih yang sengaja ditimbun oleh importir," tutur Amran di Jakarta‎, Rabu (17/5).

Amran menjelaskan, pada pekan lalu dalam inspeksi mendadak (sidak) ke pasar, dirinya masih menemukan bawang putih yang dijual Rp 45 ribu per kg. Dari temuan tersebut, tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang dibentuk pihak kepolisian kemudian menelusuri terkait masih tingginya harga bawang putih ini.

"Padahal sebelumnya dalam pertemuan dengan 42 importir di kantor Kementerian Perdagangan, sudah kami sampaikan agar tidak ada penimbunan, dan harga jual di bawah Rp 38 ribu per kg," tegas Mentan.

Terkait ditemukannya importir penimbun bawang putih ini, Amran menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita agar mencabut izin usaha importir tersebut. Selain itu, Kementerian Pertanian (Kementan) juga tidak akan memberikan rekomendasi impor untuk importir yang bersangkutan.

"Saya tadi subuh sudah berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan, importir penimbun ini, izin akan dicabut, dan rekomendasi dari Kementerian Pertanian tidak akan kami berikan," ujarnya.

Sementara itu, Wakapolri mengatakan terkait hal itu, pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan terhadap stok dan harga pangan jelang Ramadan. Kepolisian juga akan meningkatkan kinerja Satgas Pangan hingga dua kali lipat dari yang sudah berjalan selama ini.

"Gejolak harga di pasar akibat yang melakukan adalah kartel pangan. Untuk itu, kita akan antisipasi dan kita tangani tidak hanya bawang putih. Semua unsur menyangkut pangan akan kita bentuk satgas dan menjelang Ramadhan ini, Satgas Pangan akan kami tingkatkan dua kali lipat," ujar Syafruddin.

Pasok 29 Ton

Selain itu, Amran mengatakan untuk meredam gejolak harga bawang putih, pemerintah telah pasokan komoditas tersebut ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur hingga mencapai 9.000 ton.

Pasokan bawang putih tersebut diharapkan akan membantu mempercepat penurunan harga bawang putih di tingkat pedagang. Selain ini juga untuk memastikan tidak ada lagi kenaikan harga saat Ramadhan dan Lebaran nanti. "Setiap hari akan ada 2 kontainer yang akan masuk hingga Ramadhan akan ada 9.000 ton bawang putih," tutur dia.

Pasokan bawang putih tersebut akan dilakukan secara bertahap per hari hingga berjumlah 29 ton. ‎Bawang putih tersebut juga dijual dengan harga yang murah, yaitu sebesar Rp 25 ribu per kg.

"Hari ini masuk ke Pasar Induk Kramat Jati sebanyak 2 kontainer setara 29 ton, harga bawang putih ini akan dijual dengan harga 25.000 per kg," ujar Mentan. Dengan pasokan sebesar ini, lanjut Amran, maka tidak ada lagi alasan terjadinya gejolak harga bawang putih dan pangan lainnya saat Ramadan dan Lebaran nanti.

Persoalan langkanya pasokan bawang putih beberapa waktu lalu juga diungkapkan Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. Menurut dia, nilai impor Indonesia pada April 2017 turun 10,20% menjadi US$ 11,93 miliar dibanding bulan sebelumnya. Salah satu komoditas yang tercatat menurun impornya adalah bawang putih.

"Mayoritas atau 90% bawang putih kita impor. Tapi di April ini, ada penurunan impor bawang putih sebesar 2,67% yang menyebabkan harga naik tipis. Mudah-mudahan jelang puasa bisa terkendali," ujar Kecuk kepada pers di Jakarta, pekan ini.

‎Berdasarkan data BPS, terjadi penurunan impor bawang putih di bulan keempat ini oleh Indonesia. Total nilai impor di periode tersebut sebesar US$ 30,32 juta di April 2017 dengan berat 24,82 juta kg. Angka realisasi itu mencerminkan terjadi penurunan impor bawang putih yang signifikan dibandingkan Maret 2017 yang tercatat US$ 42,51 juta dengan berat 39,47 juta kg.

Adapun negara-negara yang memasok bawang putih terbesar ke Indonesia, yakni China, India, dan Australia. Di April, Indonesia mengimpor bawang putih dari China senilai US$ 28,73 juta dengan berat 22,85 juta kg, turun dari realisasi Maret 2017 senilai US$ 42,02 juta seberat 38,97 juta kg.

Sementara India mencatat kenaikan ekspor bawang putih ke Indonesia senilai US$ 1,60 juta seberat 1,97 juta kg di April 2017 dibanding bulan sebelumnya US$ 496,06 ribu dengan berat ‎602 ribu kg. "Penurunan impor bawang putih hanya dari China," ujar Direktur Statistik Harga BPS Yunita Rusanti.

Yunita menilai, kenaikan harga bawang putih akhir-akhir ini terjadi karena pasokan bawang putih yang menyusut di dalam negeri. Indonesia selama ini bergantung pada bawang putih impor asal China. "Kenapa harga bawang putih naik? Ya salah satu faktornya karena penurunan ini, pasokan berkurang jadi mempengaruhi harga," ujarnya.

Indonesia pernah mengalami kelangkaan bawang putih. Namun setelah diusut, penyebabnya karena pasokan bawang putih impor tertahan di pelabuhan. "Dulu pernah kejadian langka impor bawang putih tertahan di pelabuhan. Tapi kalau yang sekarang belum tahu persisnya, bagaimana pasokan di sana (China)," ujarnya. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Pemkot Bandung Pastikan Ketersediaan Pangan Aman

Pemkot Bandung Pastikan Ketersediaan Pangan Aman NERACA Bandung - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan ketersediaan pangan hingga akhir periode tahun…

KPPU Mendenda PGN Rp9,9 Miliar

  NERACA Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) bersalah melanggar pasal 17 Undang…

SML Hadirkan Clustter Hyland di Balikpapan - Tawarkan Harga Terjangkau

NERACA Jakarta - Sinar Mas Land (SML, salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia di awal bulan Oktober 2017 resmi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PEMERINTAH DIMINTA BATASI PENERBITAN IUP - Marak Korupsi Akibat Tidak Paham Konstitusi

Jakarta-Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menilai pemahaman masyarakat Indonesia yang kurang terhadap konstitusi menjadi sebab praktik korupsi masih sering…

YLKI: Penyederhanaan Listrik Bebani Konsumen

NERACA Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai rencana kebijakan Kementerian ESDM yang akan menyederhanakan sistem tarif listrik dengan…

Penggolongan Tarif Listrik Perlu Hati-hati

NERACA Jakarta – Kementerian ESDM menjelaskan rencana penyederhanaan golongan pelanggan listrik rumah tangga nonsubsidi, yang sampai saat ini masih dalam…