Suku Bunga Kredit Harus Turun, KPPU Selidiki - INDONESIA RAIH "INVESTMENT GRADE"

Jakarta - Peringkat "Investment Grade" yang kini dicapai Indonesia dengan rating BBB-, seharusnya tak boleh disikapi euforia berlebihan. Pasalnya, tugas pemerintah untuk terus mendongkrak perekonomian nasional belumlah selesai. Salah satu “PR” yang harus menjadi prioritas adalah menurunkan tingkat suku bunga perbankan ke level single digit.

NERACA

Yang jelas, dengan status investment grade tersebut, suku bunga kredit perbankan di Indonesia bisa turun karena risiko kredit akan jauh lebih rendah. “Oleh karena itu, pemerintah harus memanfaatkan kondisi sekarang ini dengan memperbaiki sektor infrastruktur dan berupaya terus menurunkan tingkat sukubunga kredit perbankan,” tegas Prof Dr. Didik J Rachbini, pengamat ekonomi yang juga mantan rektor Universitas Mercu Buana kepada Neraca, Minggu (18/12).

Peringkat Indonesia, meski sudah mencapai investment grade ternyata masih kalah dibandingkan tiga negara ASEAN lainnya. Peringkat Indonesia masih di bawah Singapura, Thailand dan Malaysia.

Menurut lembaga rating internasional Fitch, urutan peringkat negara-negara ASEAN adalah Singapura (AAA), Malaysia (A-), Thailand (BBB), Indonesia (BBB-), Filipina (BB+), Vietnam (B+). Sementara Laos, Myanmar, Brunei dan Kamboja belum pernah dilakukan pemeringkatan.

Sementara di mata ekonom Universitas Gajah Mada (UGM), Sri Adiningsih, dengan diraihnya investment grade merupakan hal positif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan banyaknya investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia.

Namun, Sri menolak jika dikatakan investment grade yang didapat Indonesia, tidak memiliki manfaatnya selama suku bunga pinjaman perbankan tidak mengalami penurunan. ”Itu lain, kedua hal itu memang saling berhubungan, tetapi berbeda, kalau investmen grade itu kan sentimen positif ekonomi Indonesia di mata asing,” ujarnya.

Meski demikian, Sri mengatakan tetap saja untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan suku bunga kredit akan turun. Dengan demikian dapat menghidupkan investor lokal. ”Saya rasa, semua investor lokal ingin agar suku bunga kredit bank turun,” ungkap Sri.

Untuk hal ini dinilai Sri Adiningsih sangat sulit. Pasalnya, bank-bank pemberi pinjaman tersebut memperoleh dananya dari pihak ke tiga. Sementa, tidak akan ada rasanya semua bank yang ada di Indonesia ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya. ”Penurunan suku bunga itu sangat sulit, karena bank-bank pemberi pinjaman memperoleh dananya dari pihak ketiga,” kata Sri.

Secara terpisah, Komisi Pengawas Persaingan Usaha kini mengkaji tiga penyebab tidak turunnya suku bunga kredit perbankan. Hal ini nantinya akan menjadi rekomendasi KPPU bagi Bank Indonesia.

Kepala Biro Hukum dan Humas KPPU Ahmad Junaidi, Jumat mengungkapkan, ketiga poin tersebut masih sedang didalami. Ketiga poin tersebut yakni peraturan BI, dampak krisis ekonomi global, dan dugaan perilaku usaha tidak sehat.

Menurut Junaidi, KPPU sedang mengkaji apakah ada aturan khusus BI untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan. Apabila tidak ada, KPPU akan merekomendasikan bank sentral membuatnya.

Kalangan bankir pun termasuk yang optimis akan kondisi tersebut. Lihat saja, Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) menilai bahwa peningkatan peringkat Indonesia menjadi investment grade akan membuat perbankan lebih mudah mendapatkan pinjaman valas (valuta asing) dari luar negeri.

"Dengan status investment grade memudahkan perbankan di Indonesia meminjam valas dari luar negeri sehingga memudahkan mencari sumber likuiditas valas ketika terjadi tekanan atau kesulitan likuiditas valas," papar Ketua Perbanas Sigit Pramono di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sigit menambahkan, perbankan Indonesia akan dapat lebih menekan biaya dananya sehingga memungkinkan bank menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) "Investment grade juga akan memudahkan perbankan Indonesia untuk memperoleh pinjaman dari luar negeri dengan bunga lebih murah yang berarti biaya dana atau biaya operasional jelas akan turun," ujarnya.

Di samping itu, peringkat investment grade akan dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan luar negeri sehingga membuat perbankan mengeluarkan obligasi korporasi. "Tentu kita sambut gembira karena jelas sekali meningkatnya peringkat Indonesia dari BB+ menjadi BBB- oleh Fitch bisa membuat industri perbankan lebih banyak mengeluarkan obligasi korporasi mengingat kepercayaan pasar dan luar negeri yang meningkat," tandas dia.

Sementara Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, peringkat investment grade akan membuat risiko kredit menjadi rendah yang memungkinkan akan menurunkan suku bunga kredit. "Kita harapkan resiko kredit bisa lebih rendah, Dengan rendahnya resiko kredit bisa kemungkinan bunga kredit turun," ungkap Jahja di Jakarta, Jumat (16/12).

Bukan hanya itu, dengan banyaknya pendanaan yang datang dari luar, Jahja juga mengharapkan akan memperbaiki perekonomian Indonesia untuk ke depannya. "Kita harapkan dana investor asing makin bertambah sehingga perkembangan ekonomi Indonesia tahun depan semakin baik," tandas Jahja.

Tingkatkan Modal

Di samping itu, investment grade juga merupakan ajang kesempatan bagi perbankan Indonesia untuk meningkatkan modal melalui pasar modal. "Investment grade bagi perekonomian Indonesia sangat penting karena akan lebih mengangkat level of confident para investor untuk menginvestasikan dananya di Indonesia. Bagi perbankan, (investment grade) merupakan kesempatan untuk meningkatkan modal melalui pasar modal," ujar Direktur Utama Bank PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Gatot M Suwondo, Jumat.

Terkait efisiensi yang dilakukan perbankan, menurut Gatot perbankan di Indonesia telah melakukan efisiensi dan akan terus melakukan efisiensi lagi. "Untuk ukuran Indonesia perbankan dalam negeri sudah effisien dan akan berupaya lagi untuk lebih efisien," lanjutnya.

Sebelumnya, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang Indonesia ke BBB- dari sebelumnya BB+. Artinya, Indonesia telah menyabet investment grade dari lembaga pemeringkat tersebut. Pernyataan itu diumumkan Director group Fitchs Asia-Pacific Sovereign Ratings Philip McNicholas dalam keterangan tertulisnya.

Status utang yang naik pangkat itu adalah Long Term Foreign dan Local Currency Issuer. Outlook atas kedua peringkat tersebut stabil. Sementara country ceiling dinaikkan menjadi BBB, dan Short Term Foreign Currency IDR dinaikkan menjadi to F3. "Kenaikan peringkat ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan resilien, rasio utang publik yang rendah dan terus menurun, likuiditas eksternal yang menguat, dan kerangka kebijakan makro yang hati-hati," jelas dia. agus/ahmad/rin

TABEL

Peringkat Negara-Negara ASEAN

Singapura (AAA) Malaysia (A-) Thailand (BBB) Indonesia (BBB-) Filipina (BB+) Vietnam (B+)

Related posts