BI Cenderung Persuasif Atasi Ulah Perbankan - KENDALA TURUNKAN SUKU BUNGA KREDIT

NERACA

Jakarta – Kalangan pengamat dan akademisi menilai Bank Indonesia (BI) selama ini kurang bertindak tegas dan cenderung persuasif terhadap bank-bank yang hingga sekarang belum menurunkan tingkat bunga kredit secara signifikan di tengah rendahnya suku bunga acuan (BI Rate) yang tercatat 6%. Karena itu sudah saatnya BI bertindak lebih tegas untuk menekan perbankan pada tahun depan (2012).

”BI memang terlihat kurang tegas dalam urusan penurunan bunga kredit. Sebenarnya sudah ada regulasi yang dimiliki BI untuk “memaksa” perbankan turunkan bunga pinjaman. Bahkan mekanisme sanksi dan denda sudah diatur. Tapi sejauh mana law enforcement-nya seperti apa, nah itu saya tidak tahu. Kenyataannya, bunga kredit masih sangat tinggi,” ujar staf pengajar FE UGM yang juga mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Anggito Abimanyu kepada Neraca, Minggu (11/12)

Meski Anggito yakin suku bunga kredit akan turun, Hal ini tentu tergantung dengan faktor-faktor lainnya seperti rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR) yang sangat besar ikut berperan dalam perbankan.

BI sebenarnya sudah mengatur ketentuan LDR dikaitkan dengan giro wajib minimum (GWM) dengan rasio LDR di kisaran 78% hingga 100%. Hanya persoalannya, terhadap pelanggaran rasio LDR tersebut, BI hanya memberikan sanksi berupa denda terhadap bank yang melanggar ketentuan tersebut.

Lalu, terhadap tingginya biaya dana (cost of fund) yang dihadapi sejumlah bank, ternyata hal ini disebabkan bank menawarkan iming-iming hadiah mobil mewah, emas dan lainnya yang bernilai hingga miliaran rupiah. Jelas ini akan mempengaruhi struktur biaya dana yang akhirnya dibebankan pada bunga kredit. Buktinya, tingkat bunga kredit saat ini rata-rata masih di atas 12% per tahun, sedangkan BI Rate hanya 6%. Selisih bunga yang dinikmati oleh perbankan (spread) sekitar 6%-7% merupakan angka tertinggi di ASEAN.

Karena itu, BI harus berani mengeluarkan PBI yang melarang perbankan menyediakan hadiah besar-besaran. Ini sebagai upaya mengurangi beban biaya dana. Masyarakat datang ke bank hanya untuk menabung, dan bukan karena hadiah. “Masyarakat datang ke bank, selain menabung, juga melihat kondisi bank yang sehat,” ujar pengamat perbankan FEUI Lana Soelistianingsih secara terpisah, kemarin.

Lana mengakui BI memang tidak bisa serta-merta memberikan hukuman berat kepada perbankan yang ‘membandel’ tidak menurunkan suku bunga kredit, seperti penghentian sementara operasional bank sampai pencabutan izin usaha.

“Awal tahun depan, BI akan mengatur tiga komponen pembentuk suku bunga kredit. Yaitu, overhead cost, premi risiko, dan profit margin. Ketiga komponen tersebut menyumbang sekitar 50% dari suku bunga kredit modal kerja. Kebijakan ini merupakan lanjtuan dari rencana membuat perbankan Indoensia efisien,” ujarnya.

BOPO Tertinggi

Gubernur BI Darmin Nasution sendiri mengakui industri perbankan nasional masih belum efisien. Saat ini, rasio biaya operasional pendapatan operasional (BOPO) perbankan di Indonesia tercatat 86,44%, tertinggi di kawasan ASEAN.

Darmin menjelaskan, tingkat efisiensi industri perbankan yang rendah berkontribusi pada suku bunga kredit tinggi. “Sebagai perbandingan, BOPO di ASEAN antara 40%-60%,” ujarnya dalam pertemuan tahunan Banker’s Dinner di Jakarta, akhir pekan lalu.

Wakil Ketua Panja Inflasi dan Suku Bunga Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel juga meminta agar perbankan lebih peduli terhadap kondisi perekonomian nasional. “Peran perbankan belum optimal mendukung ekspansi perekonomian nasional. Penyaluran kreditnya belum optimal dan masih belum efisien. Kita berharap perbankan tidak egois dan mau memikirkan dan berkontribusi lebih untuk kebaikan perekonomian nasional,” ujarnya kemarin.

Kemal prihatin, cukup banyak aset perbankan nasional yang hanya berputar di surat berharga (paper asset). Menurut data BI, Per Oktober 2011 penempatan bank dalam surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 245,97 triliun, dan pada sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar Rp 418,48 triliun. Total penempatan ini mencapai 31,4% dari total kredit yang mencapai Rp 2.106,2 triliun.

Data BI mengungkapkan, hingga November 2011 tingkat spread perbankan Indonesia mencapai rata-rata 6,4%. Sementara di Malaysia hanya 3,54%, Thailand 4%, Filipina 1,21% dan Korea Selatan 2,44 %. Dari sisi laba bersih, sepanjang Januari-September 2011 perbankan Indonesia meraup laba bersih Rp 56,74 triliun. Laba tersebut naik 31% dibandingkan periode yang sama 2010 sebesar Rp 43,36 triliun. Sedangkan bank BUMN memperoleh laba Rp 24,36 triliun.

Menurut staf pengajar FEUI Aris Yunanto, latar belakang sampai saat ini suku bunga kredit perbankan Indonesia belum mau turun, lebih disebabkan borosnya perbankan dan kurang tegasnya BI memberikan sanksi konkret terhadap perbankan.

Aris mengatakan, BI sebaiknya melakukan terobosan dalam upaya peningkatan kinerja perbankan, dengan membuat ketentuan batasan spread yang optimal antara bunga simpanan dan bunga pinjaman, sehingga perbankan dapat menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik dan benar. iwan/munib/ardi

Related posts