Sinergi Dengan Dua Dunia - Marketing and Communication Director for WWF Indonesia :Devy Suradji

Neraca-Dalam sebuah perjalanan pulang usai makan malam disebuah restoran mewah dibilangan Jakarta Selatan, Michael Rich Constantine (4) seakan tak surut mengumbar rasa rindu dengan sang bunda, setelah beberapa hari lalu berada diluar kota. Tiba-tiba sang kakak, Nicholas Jevan Pradana (13) bertanya, “Why we buy a food so expensive? How many people can eat within, mommy?” sebuah pertanyaan selalu ia ingat hingga kini.

Bagi Devy Suradji, Marketing and Communication Director for WWF Indonesia, dua putra tercintanya hasil pernikahannya dengan Agustinus Sonny Devyanto ditahun 1998, merupakan sumber energi bagi dirinya dalam beraktifitas di WWF Indonesia. Sebuah yayasan yang bergerak dibidang pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan di masa mendatang.

Bahkan bekerja di WWF Indonesia, seakan second family bagi dirinya, “Ini adalah rumah kita, kami saling membantu tanpa banyak perhitungan meski bukan menjadi tanggungjawabnya, dan atmosfir itu menyelimuti segenap karyawan WWF Indonesia hingga tingkat direksi,” ujar perempuan berdarah Jawa ini, “I have the best both worlds, fist world at home and the second in the offices.” Ia merasakan ikatan yang kuat antara bekerja di WWF Indonesia dan keluarga disisi lainnya.

Ia menyadari, kedua dunia tersebut hadir dan saling menunjang baginya. Di satu sisi, kata Devy, ia dibekali dengan nuansa toleransi, kasing sayang, dan tanggung jawab kepada keluarga, dan disisi lain ia belajar untuk menyayangi alam, mengurangi ego, dan menghadapi publik. Dua dunia yang menjadi guru bagi dirinya, selamanya.

Dukungan keluarga atas kariernya, memang sangat besar. “Dapat dibayangkan,” kata Devy akrab ia disapa, bila tidak semua perempuan yang berkarier harus pulang hingga malam hari, atau harus melakukan perjalanan kesejumlah daerah, “Bila tanpa dukungan keluarga, rasanya akan sangat sulit dijalani,” ungkap penyandang gelar Master of Science in Health and Environmental Management, dari Department of Biology and Environmental Science, University of New Haven, Connecticut- Amerika Serikat tahun 1996 ini.

Devy yang baru tahun 2009 bergabung di WWF Indonesia menilai, persoalan lingkungan dan kelestarian alam disejumlah daerah di Indoensia, memiliki persoalaan yang berbeda, “Tidak ada yang lebih kurang dan tidak ada yang lebih untuk diperhatikan,” ujarnya, namun ia memandang wilayah Papua lebih sensitif, “Tidak bisa dibicarakan secara terbuka karena banyak isu terkait politik, tapi yang dibutuhkan bagi Papua sangat banyak,” ungkapnya.

Menurut dia, sebuah NGO yang bekerja di Papua maupun di Wilayah Jawa, cost-nya akan lebih besar bekerja di Papua, bahkan dapat 100 kali kelipatannya. Ini dilihat dari sisi resiko, financial, atau dalam sumber daya manusia yang memiliki keahlian, baik ahli bahasa, sosiologi, antropolog, atau orang yang mampu beradaptasi dengan masyarakat dengan pelbagai kultur adat istiadat, pemahaman, dan tingkat kecerdasan. “Tapi bukan berarti daerah lain tidak banyak tantangannya,” ujarnya.

Tengok saja di Sumatera, sejumlah lahan sudah berubah menjadi area perkebunan kelapa sawit, jalan, bangunan pemukiman atau pusat perbelanjaan, sementara di Papua belum tersentuh sebanyak di Sumatera, “Kita percaya, semua orang ingin perubahan kearah yang jauh lebih baik bagi lingkungannya, dan kita hadir sebagai bagian dari solusi itu,” tegas dia.

“Saya masuk ke WWF dengan konsep, bila ingin fund rising yang benar, let’s do it with the professional way,” ungkapnya. Karena ia menyadari, WWF adalah sebuah yayasan, dan transparansi menjadi hal yang mutlak harus dilakukan NGO seperti WWF. NGO yang berpusat di Swiss ini, berdiri tahun 1961, dan masuk kali pertama di Indonesia pada tanggal 11 September tahun 1962 di Ujung Kulon-Banten.

Untuk melakukan fund rising, kata Devy, kita harus mempersiapkan invetasinya, dan investasi bukan sekedar financial semata, tapi juga mempersiapkan dari sisi brand-nya, agar dapat dipercaya publik. “Kita berupaya memberi kepercayaan kepada publik, jika dana yang diamanatkan kepada kita akan kita gunakan bagi area konservasi lingkungan,” ujarnya.

Devy pun menilai, bahwa bila orang tidak kenal WWF, lalu bagaimana orang akan terlibat dengan kita dalam turut peduli terhadap lingkungan? “Kita berusaha memposisikan brand WWF dimata publik sebagai mitra, baik mitra bagi masyarakat, korporasi dan mitra pemerintah dalam konservasi alam,” ungkap Devy yang kerap tugas mengunjungi sejumlah proyek WWF di sejumlah daerah di Indonesia.

“Kita harus ingat, melestarikan lingkungan bukan pekerjaan satu-dua hari, dan kita juga sadari bila kita tak mungkin menyelamatkan bumi hanya dengan satu malam,” ujarnya, perubahan yang kita lakukan, memang melalui sebuah proses.

Ia mencontohkan, bila seorang anak diusia 5-10 tahun saat ini, diberi pemahaman seputar pentingnya menjaga kelestarian alam, maka betapa mulianya mereka, bila suatu saat nanti, ketika mereka dewasa, “Mereka akan membuat kebijakan yang berorientasi pada kelestarian lingkungan dan alam,” tuturnya. WWF Indonesia memiliki target sebanyak 3000 hektar untuk di-reforest-sasi dalam setiap tahunnya, “Kita terus berusaha menjadi mitra terpercaya dalam menjaga kelestarian alam di Indonesia,” ungkapnya berharap.

Related posts