Pengamat: Obama Jangan Dikte Indonesia! - ASEAN ”SATU SUARA” 2022

NERACA

Jakarta- Kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN diduga untuk membuka akses pasar bagi produk barang dan jasa negeri Paman Sam itu ke kawasan ini. Terlebih lagi menjelang 2015 di mana ASEAN akan menjadi Masyarakat ASEAN yang mempunyai arti penting bagi negara Adidaya itu. Apalagi AS kini lagi berperang menghadapi krisis global yang sedang membayangi kawasan Eropa dan Amerika Utara.

Direktur Eksekutif Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika mengatakan kemungkinan besar agenda Obama ke Indonesia ini untuk menangani Freeport. Termasuk membuka pasar di ASEAN seiring melemahnya ekonomi AS. Kalau dilihat dari konteks kepentingan regional, Obama bisa jadi ingin melobi negara-negara seperti Indonesia untuk mau bergabung dengan kerjasama Trans Pacific Partnership, meski Indonesia sudah menolak. ”Kan diplomasi internasional tidak sekali ’pukul’. Meski sudah ditolak, lobi jalan terus, ” katanya kepada Neraca, Kamis (17/11)

Intinya semua kunjungan kenegaraan punya kepentingan. AS sebagai negara superpower punya sejuta kepentingan di Indonesia. “Tidak mungkin Obama hanya membawa kepentingan formal menghadiri KTT ASEAN. Tapi pasti ada kepentingan di balik kunjungan resmi tersebut,” ujarnya

Di sisi lain, para pemimpin ASEAN kemarin sepakat mengadopsi dan melaksanakan landasan bersama untuk membangun "satu suara" dalam merespons isu-isu global di forum multilateral pada 2022. Kesepakatan itu tertuang dalam Deklarasi Bali tentang Komunitas ASEAN dalam Satu Komunitas Global Bangsa-Bangsa (Bali Concord III) yang ditandatangani 10 pemimpin organisasi regional itu pada pertemuan puncak ke-19 mereka di Nusa Dua, Bali.

Penandatanganan Bali Concord III itu dilakukan pada Kamis sore di ruang Nusa Dua 5, Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), tempat berlangsungnya KTT Ke-19 ASEAN dan KTT Ke-6 Asia Timur yang berlangsung 13-19 November.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato sambutannya di acara pembukaan KTT Ke-19 ASEAN mengatakan, Bali Concord III akan memetakan jalan ke depan bagi interaksi komunitas ASEAN dengan komunitas global bangsa-bangsa.

"Semangat dari Bali Concord III adalah partisipasi dan kontribusi ASEAN yang semakin besar bagi terwujudnya dunia yang lebih damai, lebih adil, lebih demokratis, dan lebih sejahtera, termasuk peran aktif ASEAN untuk ikut mengatasi berbagai permasalahan fundamental dewasa ini," ujar Presiden.

Para pemimpin Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam itu sepakat tahun 2022 sebagai waktu pelaksanaan landasan bersama ASEAN dalam merespons isu-isu global tersebut.

Strategi Penyelamatan

Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Indonesia Bangkit Hendri Saparini mengatakan sekarang ini setiap negara sedang mencari cara penyelamatan ekonomi negaranya masing-masing dalam kaitan dengan krisis ekonomi global, yang terutama melibatkan Amerika Serikat dan Eropa.

Oleh karena itu, Presiden AS Barack Obama berharap melalui pertemuan G-20, APEC, dan KTT ASEAN yang kini didatanginya bisa menjadi peluang bagi AS untuk membuka pasar bagi produk barang dan jasa yang dimiliki para pengusaha dari negara itu.

Menurut Hendri, kedatangan Obama ke KTT Asean mungkin karena pemimpin negara adidaya itu melihat peluang ekonomi yang besar di kawasan ASEAN. ”Apalagi ASEAN pada 2015 akan berubah menjadi Masyarakat ASEAN,” katanya.

Karena itu, tambahnya, kemungkinan besar dalam pertemuan ini akan dimasukkan berbagai proposal dari Negeri Paman Sam itu untuk negara-negara anggota ASEAN.

Dia mengatakan bahwa dari sisi investasi, kemungkinan para fund manager negara tersebut sudah memasukkan agendanya untuk menggarap pasar investasi di Indonesia. Di lain sisi, produsen barang dan jasa AS juga berusaha membuka pasar kita untuk produk tertentu mereka.

”Bukan tidak mungkin mereka memberi berbagai stimulus dan insentif untuk mengakses pasar,” katanya.

Hendri mengatakan dari sisi produsen jasa, Indonesia sangat mungkin menjadi tujuan ekspor produk AS seperti jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa keuangan dan sebagainya.

Apakah ada kemungkinan Obama mendikte Indonesia dalam membuka akses pasarnya?

Menurut Hendri hal itu tidak bisa dilihat semata-mata dari satu sisi saja. Dia mengatakan hubungan ekonomi RI-AS sudah dibakukan dalam comprehensive partnership, baik dari sisi multilateral dalam kelompok ASEAN, maupun secara bilateral antara RI dan AS.

Hendri mengatakan bahwa konsep win-win solution tidak bisa dilihat secara an-sich, namun harus didefinisikan dulu apa keinginan Indonesia dan cara pandang terhadap win bagi siapa, loss bagi siapa.

Dia menilai dari sisi ekspor, Indonesia mempunyai banyak produk tekstil dan aparel ke Amerika. Sedangkan bahan mentah yang banyak diekspor ke AS dan negara lainnya, menurut dia memerlukan pengkajian tersendiri.

”Berbeda dengan China, misalnya, meskipun mempunyai deposit batubara yang terbesar, namun mereka mengimpor habis-habisan dari Indonesia.” Dia mengatakan karena China mempunyai visi dan strategi yang jelas untuk produk energi dan bahan mentahnya.

Kekhawatiran akan sikap Amerika yang akan mendikte Indonesia dengan mendatangkan presiden Obama, dinilai Agus Eko Nugroho, peneliti Ekonomi LIPI, tidak perlu dibesar-besarkan. Bagaimana pun kedatangan Obama ke sini untuk kepentingan ekonomi kedua negara. “Ekonomi mereka sedang krisis, sementara kita juga perlu mengembangkan ekonomi kita,” ujarnya kemarin.

Namun, menurut Agus perlu digarisbawahi di sini, Indonesia harusnya hanya menyetujui perjanjian pasar bebas yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Sementara, jika dinilai hanya menguntungkan Amerika saja, pemerintah wajib menolak perjanjian pasar bebas dengan Amerika. “Pasar bebas ini harus memberikan win-win solution,” ucapnya.

Tetapi, yang menjadi masalah di sini adalah apakah pemerintah Indonesia berani menentang jika kedatangan Obama untuk mendikte Indonesia, yang ujung-ujungnya memberikan kerugian bagi negara ini.

“Ini yang saya khawatirkan, keberanian pemerintah menentang kebijakan yang akan merugikan Indonesia. Harusnya, walaupun mereka negara adidaya kita harus bertindak tegas terhadap mereka,” ujarnya.

Dengan kata lain, kita harus berkaca pada perjanjian pasar bebas dengan China dan India. Perjanjian dengan mereka kan tidak memberikan keuntungan berarti buat Indonesia. Makanya, pemerintah diharapkan berkaca akan hal ini. ”Perjanjian perdagangan dengan China dan India harusnya menjadi pelajaran berarti, makanya kita harus mempelajari perjanjian kerja sama ini dan juga menyiapkan strategi-strateginya,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FEUI Prof. Firmanzah Ph.D mengatakan kedatangan Presiden AS Barack Hussein Obama ke Nusa Dua, Bali dalam rangka menghadiri KTT ASEAN menunjukkan arti penting ASEAN dalam percaturan ekonomi global.

“AS tidak memandang sebelah mata negara-negara Asia Tenggara, terutama Indonesia. Jadi, saya tidak melihat Obama membawa agenda tersembunyi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dekan FEUI ini, kedatangan Obama juga untuk meyakinkan ASEAN tentang pentingnya perdagangan bebas di kawasan Asia Pasiifk. “Seperti kita ketahui, mereka (AS) sedang membangun kepercayaan dunia karena perekonomiannya ambruk akibat krisis 2008 lalu. Tentu, momen ini akan dimanfaatkan Obama semaksimalkan mungkin,” jelasnya. ahmad/ardi/munib/agus

BERITA TERKAIT

Triton Double Cabin HDX Paling Diminati di Indonesia

Dari sejumlah model Mitsubishi Triton yang tersedia, varian Triton Double Cabin HDX lah yang paling diminati di Indonesia dengan persentase…

Indonesia Motorcycle Show 2018 Bukukan Penjualan 1.332 Unit

Pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2018 resmi ditutup pada Minggu (4/11). Selama lima hari penyelenggaraan, ajang pameran kendaraan roda dua…

Indonesia Hadapi Tiga Beban Penyakit

Indonesia kini tengah memasuki masa transisi epidemiologi. Kondisi ini membuat Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta masyarakat untuk mewaspadai segala jenis…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

YLKI Terima 200 Aduan Korban Pinjaman Fintech

NERACA Jakarta-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengungkapkan, sepanjang tahun ini telah menerima 200 aduan dari masyarakat yang menjadi nasabah dari…

PAKET KEBIJAKAN EKONOMI (PKE) KE-16 - Kepemilikan Asing Boleh 100% di 54 Sektor Usaha

Jakarta-Pemerintah kini terbuka mengizinkan pihak asing untuk memiliki 100% saham di 54 sektor usaha setelah dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi…

INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN - NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…