IPO Garuda “Dipengaruhi” Debt Equity Swap - KINERJA UNDERWRITER BURUK

Jakarta - Penyebab jebloknya saham Garuda (GIAA) diprediksi bukan hanya soal timing yang tidak pas, dan kinerja penjamin emisi (underwriter) yang buruk. Namun bisa juga kemungkinan soal utang Garuda ke Bank Mandiri yang dianggap belum selesai. Benarkah demikian?

NERACA

Seperti diketahui Bank Mandiri sebelumnya memiliki tagihan ke Garuda dalam bentuk mandatory convertible bond (MCB/obligasi konversi) senilai Rp 1,018 triliun. Dalam perjanjian pelunasannya, Garuda membayar 5% dari utang pokok MCB senilai Rp 50,94 miliar, sedangkan sisanya sebesar Rp 967,87 miliar akan dikonversi menjadi saham Garuda sebesar 10,61%.

Namun karena saham yang dilepas sebagian milik Bank Mandiri (setelah konversi), maka pembagian hasil IPO adalah Bank Mandiri Rp 1,451 triliun dari melepas 1,9 miliar lembar, sementara Garuda bisa menikmati Rp 3,3 triliun sisanya

Pengamat ekonomi Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika membenarkan tidak terserapnya saham Garuda di pasar akibat persepsi investor yang menilai indikasi penyertaan dana Garuda dari IPO merupakan pembayaran utang kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dikonversikan dalam bentuk saham. “Apa yang dipersepsikan investor sangat lumrah dan masuk akal,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (16/2).

Menurut dia, investor sangat berhat-hati dalam berinvestasi atau menanamkan modalnya dan bukan untuk menutupi utang perusahaan yang tidak sehat. “Melihat posisi Garuda seperti itu, tentu wajar jika investor meningkatkan kehati-hatian,” ujarnya.

Selain itu, Guru Besar FE Unibraw itu juga membantah kegagalan IPO Garuda akibat waktu yang tidak pas di saat pergerakan indeks sedang berfluktuatif. Pasalnya, pergerakan indeks tidak terlalu buruk saat listing IPO Garuda. “Bukan cuma soal waktu,” tegasnya.

Disisi lain, lanjut Erani, banyak rumor negatif yang membuat gagalnya IPO Garuda, seperti kejanggalan yang dilakukan para penjamin emisi. Dimana ada tudingan, IPO Garuda sengaja "dikorbankan" agar saat penjamin emisi menyerap saham Garuda bisa di jual lebih mahal dengan pertimbangan saham Garuda masih sangat berprospek.

Bahkan terdengar rumor keengganan investor (asing) membeli saham Garuda, disebabkan kinerja keuangan Garuda dinilai masih rugi. Dengan pendapatan Rp12,7 triliun, cukup besar dengan aset Rp14,2 triliun. Tapi laba usahanya ternyata minus Rp290 miliar, alias rugi. Meski masih bisa mencatat laba bersih sebesar Rp195 miliar, namun angka tersebut terutama diperoleh dari pendapatan kurs mata uang asing sebesar Rp131 miliar, dan pendapatan luar biasa sebesar Rp184 miliar, yang notabene bukan pendapatan yang nyata (hanya ada dipembukuan).

Ditempat terpisah, mantan Meneg BUMN, Tanri Abang mengatakan perusahaan yang termasuk BUMN diklaim lebih bertanggungjawab terhadap kewajiban utangnya. Hal ini diperlihatkan PT Garuda Indonesia (GIAA) yang berhasil menyelesaikan utang ke Bank Mandiri dengan konversi saham. “Perseroan dapat melunasi utang ke Bank Mandiri sebesar Rp1,4 triliun," katanya kepada media elektronik kemarin.

Selama ini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yang mencatatkan dirinya di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Februari 2011 kemarin masih menderita kerugian. Namun perlahan mulai berhasil membukukan kinerja keuangan yang positif. "Garuda yang mencatatkan nilai di Bursa Efek Indonesia dengan nilai US$ 1,8 miliar padahal saya tahu betul tahun 1998 nilai Garuda less than US$ 1," lanjut Tanri.

Mantan komisaris utama PT Telkom ini, Garuda menunjukan keberhasilan kinerjanya. "Dari nilai US$ 1 ke US$ 1,8 miliar itu berkat restrukturisasi. Jadi, kalau Garuda bisa saya yakin perusahaan lainnya juga bisa," pungkasnya.

Namun berbeda dengan ekonom LIPI, Agus Eko Nugroho, yang memang gagalnya IPO Garuda bukan soal debt equity swap. Menurut dia, tidak ada kaitannya antara jebloknya IPO Garuda dengan utang Garuda ke Bank Mandiri. “Ekspansi berarti profitabilitas tinggi. Hal ini harus didukung dengan perbaikan manajemen dan re-investasi dari hasil IPO. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan anjloknya IPO adalah timing yang tidak pas,” paparnya.

Yang jelas, kata Agus, ada keraguan publik terkait prospek bisnis industri penerbangan dalam jangka panjang. Apalagi Garuda sempat dilarang terbang ke Eropa. “Publik ingin melihat investasi jangka panjangnya. Kompetisi di bisnis penerbangan, baik domestik maupun internasional, gimana untuk Garuda. Ditambah, Garuda baru terlepas dari larangan terbang ke Eropa,” ujarnya kemarin.

Pandangan lain juga datang dari Pardomuan Sihombing, Head of Research Recapital Securities. Menurutnya, Garuda Indonesia sejak tiga tahun belakangan ini telah menunjukkan profitabilitas, sehingga kinerjanya menjadi baik. Pardomuan menilai hanya bermasalah di dua faktor saja. “Timing yang sangat tidak tepat dan kinerja underwriter buruk.

Mengenai debt equity swap, Pardomuan tidak sepakat. Hal itu bukan masalah yang prinsipil. “Saya kira tidak ada masalah. Karena Bank Mandiri tidak diperbolehkan mempunyai anak perusahaan selain financial institution. Dan ini ada dalam peraturan BI,” katanya kemarin.

Pardomuan menambahkan, dahulu justeru dipertanyakan mengenai konversi utang menjadi saham, tapi semuanya sudah tak ada masalah lagi. Pasalnya, bertujuan untuk sinergi perusahaan BUMN. “Sekarang kan saham Bank Mandiri berada di posisi Rp5.550. Ini berarti sudah untung, atau berpotensi menguat antara 38,9% hingga 50%,” ujarnya. ardi/bani/cahyo

Related posts