Bapepam-BEI Kurang Kreatif Kelola Pasar Modal

Emiten Baru Kian Minim

Jumat, 28/10/2011

NERACA

Jakarta – Berdalih krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa masih akan berlanjut di 2012, maka PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mematok target jumlah emiten baru yang masuk pasar modal atau listing sebanyak 25 emiten. Artinya, jumlah target itu masih sama dengan 2010 dan 2011. Sementara pada 2009, jumlah emiten baru menciut menjadi hanya 15 perusahaan saja.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengakui bahwa pasar modal Indonesia ditempatkan di posisi paling buncit ketimbang pasar modal Malaysia dan Singapura. Hal ini karena perkembangan pasar modal Indonesia dimulai lebih lambat dari kedua negara tetangga tersebut.

Meski begitu, Destry tidak sepakat jika dikatakan pasar modal Indonesia melempem dalam tiga tahun terakhir. “Pasar modal kita mengalami perkembangan cukup berarti sebesar 40%”, tandas dia kepada Neraca, Kamis.

Oleh karena itu, lanjut Destry, untuk mengembangkan pasar modal Indonesia, Bapepam-LK harus pandai-pandai berkreasi mendatangkan emiten baru, sehingga para investor pun akan dihadapkan dengan banyak pilihan. “Caranya dengan memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang mau go public,” ujar Destry.

Namun tentunya, emiten baru ini haruslah yang merupakan emiten dengan kinerja baik dan bukan asal-asalan. Dengan demikian akan banyak investor yang akan membeli sahamnya. “Itu kan ada syaratnya, seperti memberikan laporan keuangannya selama tiga tahun terakhir,” tegas Destry.

Selain itu, kata Destry, harus ada kolaborasi dan kerjasama antara Bapepam-LK dengan BEI dalam mensosialisasi serta mengedukasi pasar modal. “Saat ini, sosialisasi masih kurang sehingga jumlah emiten dan investor di bursa masih minim. Kalau bisa dari tingkat mahasiswa sudah diberikan sosialisasi mengenai hal ini (pasar bursa). Karena tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk masuk pasar saham masih sangat kecil, di mana jumlahnya tidak mencapai angka dua persen dari seluruh jumlah penduduk Indonesia,” papar Destry.

Sementara Kepala Analis Henan Putihrai, Felix Sindhunata menegaskan, minimnya emiten dan investor di pasar modal Indonesia dikarenakan situasi ekonomi global yang masih labil. “Bagi emiten baru, yang paling sulit market timing saat ingin IPO. Secara fundamental, ekonomi kita sangat kuat. Harus diakui, kita sangat bergantung pada ekonomi makro,” kata Felix, Kamis.

Felix menambahkan, pasar modal kedua negara tetangga Indonesia itu maju karena tingkat pendidikan dan kesejahteraan tinggi serta pendapatan per kapita pun tinggi. “Ini sangat berhubungan karena kesadaran investasi dan tingkat edukasi pun ikut tinggi. Jadi mereka sangat mudah mencari dana segar di bursa,” tukas dia.

Oleh karena itu, lanjut Felix, BEI harus konsisten dalam melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat. Sebab, budaya berinvestasi membutuhkan waktu dan tenaga yang lama karena tujuannya jangka panjang. “Suatu saat, saya ingin melihat masyarakat Indonesia berinvestasi saham seperti membeli motor sekarang. Jadi, berpikir panjang dan pendek. Meski diakui, trader short-term juga banyak dan itu yang membuat menarik dan menantang di pasar modal,” tandas Felix lagi.

Sedangkan Direktur Utama BEI Ito Warsito berkilah masih samanya target tersebut disebabkan situasi ekonomi global dan regional yang masih belum sepenuhnya kondusif. Selain itu, lanjut dia, juga mempertimbangkan kemampuan realisasi BEI.

Produk derivatif

Sementara pengamat pasar modal dari PT Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga mengatakan, ada beberapa langkah yang harus dilakukan BEI agar pasar modal bisa menarik para investor, khususnya asing. “BEI harus lebih aktif mengembangkan produk derivatif, yaitu produk yang harga atau nilainya ditentukan atau diturunkan dari produk lain yang disebut sebagai underlying,” ujar Edwin kepada Neraca, Kamis.

Hal ini seiring langkah otoritas bursa mengintegrasikan produk derivatif dengan sistem perdagangan efek, seperti JATS (Jakarta Automatic Trading System). Menurut Edwin, saat ini pengembangan produk-produk tersebut sangat terbuka, seiring masuknya platform perdagangan derivatif pada sistem JATS.

Selain itu, lanjut Edwin, BEI juga harus bisa meyakinkan pemerintah untuk menurunkan pajak penghasilan derivatif lebih rendah dari sebelumnya, yaitu 2,5 %. Tujuannya, agar banyak pengelola dana yang mengembangkan produk tersebut. “Begitu sistem terintegrasi, kami harapkan produk kontrak opsi saham juga akan mulai diperdagangkan pada akhir tahun ini,” imbuhnya.