Gita Diragukan Mampu Kurangi Impor

TIDAK BEDA JAUH DENGAN MARIE

Selasa, 18/10/2011

Jakarta - Reshuffle kabinet tidak akan banyak berpengaruh terhadap kinerja ekspor. Apalagi mantan Mendag Marie Pangestu banyak meninggalkan pekerjaan rumah bagi Gita Wiryawan, Mendag baru. Volume ekspor yang kian menyusut, sementara impor terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia Juli 2011 mencapai US$17,43 miliar atau mengalami penurunan 5,23% dibanding ekspor Juni 2011.

NERACA

Sementara ekspor nonmigas Juli 2011 mencapai US$13,62 miliar atau turun 7,93% dibanding Juni 2011, sedangkan dibanding ekspor Juli 2010 meningkat 28,45%. Disisi lain, terjadi juga penurunan ekspor nonmigas terbesar Juli 2011 pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$1.103,3 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar US$105,0 juta.

Data BPS juga menyebutkan nilai impor Indonesia Juli 2011 sebesar US$16,06 miliar atau naik 6,57% dibanding impor Juni 2011 yang besarnya US$15,07 miliar, sedangkan dibanding impor Juli 2010 (US$12,63 miliar) naik 27,22%. Sementara itu, selama Januari–Juli 2011 nilai impor mencapai US$99,64 miliar atau meningkat 31,87% dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (US$75,56 miliar)

Karena itu, pergantian Mendag dari Marie Pangestu kepada Gita Wiryawan diragukan bisa membawa angin segar. Selain tak memiliki pengalaman bidang perdagangan, Gita yang mantan Kepala BKPM lebih banyak berpengalaman di bidang keuangan.

“Karakter Gita Wirjawan dan Mari Pangestu tidak berbeda. Yakni sama-sama menganut aliran perdagangan bebas, akrab dengan pasar. Saya perkirakan secara umum produk kebijakan ekspor-impornya tidak akan banyak berubah kaitannya dengan pasar bebas,” ujar pengamat kebijakan publik UI Andrinof Chaniago kepada Neraca, Senin (17/10)

Menurut Direktur eksekutif Center For Indonesian Regional And Urban Studies (Cirus), pengalaman Gita tentu sangat berpengaruh, khususnya di pasar modal dan perbankan. Apalagi tak banyak dikenal dengan pasar di bawah, seperti pertanian. “Ini berpotensi menimbulkan masalah. Karena pasti terjadi perbedaan cara pandang,” tambahnya.

Yang paling penting, kata Dosen FISIP UI ini, Gita Wirjawan harus koordinasi dengan kementerian lain, misalnya menyangkut impor beras, impor sapi, garam, kentang dan lain-lain. “Karena selama ini, Mari Pangestu cukup lemah berkoordinasi sehingga kebijakannya kontroversial,”tegasnya

Lebih jauh Andrinof mengatakan Gita akan kesulitan menggenjot ekspor dan menekan impor tanpa didukung Kemenperin. “Mari Pangestu sering kebobolan soal perjanjian dagang. Orientasinya jangka pendek. Makanya Gita harus belajar banyak dari Mari soal blunder kebijakan dan kelemahan Mari Pangestu,”tukasnya

Tak jauh beda dengan pendapat Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iberamsjah yang menilai menteri-menteri baru hasil reshuffle memiliki kualitas yang biasa-biasa saja. Tidak akan banyak yang diharapkan dari kabinet baru ini. “Semuanya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Saya rasa tidak akan banyak perubahan berarti yang dapat diharapkan bagi kesejahteraan rakyat,” ujar Iberamsjah.

Namun dari semua menteri yang ditunjuk SBY, Iberamsjah memuji langkah SBY mengambil Pemilik Jawa Pos Group, Dahlan Iskan. Penunjukkan Dahlan sudah tepat ditengah pemberitaan negatif terhadap kinerja SBY. “Yang benar cuma penunjukkan Dahlan Iskan. Disini SBY sadar politik memerlukan media yang kuat. Dengan menggandeng bos media cetak diharapkan bisa meminimalisir pemberitaan negatif,” jelasnya.

Apalagi, kata Iberamsjah, lawan-lawan politik SBY memiliki media-media yang kuat seperti Surya Paloh (Metro TV) yang bergabung dengan Harry Tanoesudibyo (MNC Group). Kemudian Aburizal Bakrie dengan Viva Groupnya yang menguasai 2 televisi Antv dan TV One dan situs berita Viva.

Pun Ketua Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Wijaya yang mengatakan pergantian dari Marie Pangesti kepada Gita Wiryawan tidak akan berpengaruh besar ada perubahan. Masalahnya dalam konteks perdagangan yang diperlukan adalah mampu menguasai hukum perdagangan .“Kalau urusan lobi luar negeri memang Gita orang yang kompeten. Tapi untuk perdagangan yang dibutuhkan bukan hanya melobi pihak asing. Namun juga harus punya kemampuan menguasai Hukum Perdagangan Internasiaonal,”tegas Achmad kemarin.

Tidak Seimbang

Namun Achmad meminta agar Gita cepat belajar dari kesalahan Marie. Karena yang dibutuhkan sekarang ini adalah orang yang benar benar mampu memimpin dibidang perdagangan. Karena saat ini ekspor Indonesia sedang tidak seimbang.

Hanya saja berbeda dengan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan pergantian menteri perdagangan merupakan salah satu langkah yang tepat. "Saya percaya yang dipilih memang orang yang terbaik," ungkapnya.

Oleh karena itu, Sofjan optimis Gita mampu melakukan pembenahan dalam dunia prdagangan nasional yang sedang mengalami carut marut. Karena barang impor telah merajai pasar Indonesia. Namun Sofjan meminta presiden harus berani memberikan sanksi keras bagi menteri yang malas. "Presiden juga harus benar-benar tegas dalam hal ini,”ungkapnya.

Yang jelas, permintaan keras datang dari Wakil Ketua Kadin bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur yang meminta agar Gita berani melakukan perombakan jajaran dirjen di kementrian perdagangan. "Dirjen Perdagangan Luar negeri dan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri itu perlu diganti agar kinerjanya maksimal, yang bagus itu yang masih bisa dipertahankan seperti Pak Gusmardi (Dirjen Kerja Sama perdagangan Internasional)," terangnya.

Disisi lain, Natsir mengeluhkan mengeluhkan kinerja Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Karena tak ada keseimbangan pasar. "Yang penting menteri perdagangan itu dapat menyeimbangkan antara pasar global dan pasar dalam negeri, karena waktu Bu Mari ini enggak seimbang," ungkapnya

Menurut Natsir, Kadin sangat paham diplomasi untuk membuat kebijakan perdagangan bebas saat ini menjadi hal yang tidak terhindarkan. Namun, menyeimbangkan pasar global dengan pasaran di dalam negeri agar produk Indonesia tidak kalah saing terhadap barang impor khususnya dari China. "Kemarin itu impor dari China sudah terlalu banyak sehingga pasar dalam negeri kita tidak seimbang. Makanya, saya lihat Pak Gita yang punya backround pengusaha ini lumayan baguslah untuk diplomasi internasional," pungkasnya. iwan/munib/cahyo