Pelaku Pasar Belum Bernapas Lega

PENGUATAN IHSG BERSIFAT SEMENTARA

Senin, 03/10/2011

Jakarta – Meski Menkeu Agus Martowardoyo menyatakan status perekonomian global sudah mulai membaik dan status waspada akibat krisis global di Eropa dan AS sudah bisa dilepas, tetap saja hal tersebut tidak boleh diremehkan. Pasalnya fluktuatif di pasar yang terjadi di lantai bursa masih menghantui pergerakan indeks Bursa Efek Indonesia yang berpotensi terkoreksi lebih dalam lagi.

NERACA

Menurut ekonom FE Usakti Yanuar Rizki, anggapan pemerintah mengenai segera berakhirnya krisis ekonomi di Eropa tidak perlu ditelan mentah-mentah bagi pelaku pasar. Namun sebaliknya, semua pihak diminta tetap mewaspadai kondisi saat ini yang riskan berbalik arah ke posisi yang jauh lebih buruk.

Dia menilai, kondisi pasar saat ini hanyalah sebatas fluktuatif pasar saja dan tidak mencerminkan akan segera berakhirnya krisis ekonomi. ”Saya tidak sependapat, bagus bagi siapa? Sekarang bagus kan belum tentu bagus, ini kan sudah menjadi tren pasar saja,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (2/10).

Dia mengatakan, tindakan Jerman yang memberikan dana untuk menanggulangi krisis di Eropa juga tidak banyak membantu. Pasalnya, semua itu tidak ada kaitannya dengan perekonomian kita. ”Tindakan mereka tidak ada kaitannya untuk negara ini. Karena percuma saja kan kalau mereka mencari dana di sini,” ujarnya.

Senada dengan Yanuar, Purwoko Sartono, Analis dari PT Panin Sekuritas, mengatakan sangat penting untuk mewaspadai kondisi perekonomian global saat ini. Dan ini perlu disikapi dengan baik oleh investor. ”Sangat apenting mewaspadai kondisi perekonomian global, untuk itu, yang perlu disikapi oleh investor lokal adalah tetap tenang jangan terlalu panik, kalau investor panik akan menambah terkoreksinya IHSG kita,” jelasnya..

Lebih jauh lagi dia menyebutkan, IHSG kemarin berhasil menguat menyusul adanya sentimen positif akibat harapan penyelesaian utang zona Eropa. Pergerakan bursa global masih dipengaruhi oleh berita krisis utang Yunani. ”Ini dengan cepat merubah sentimen pasar,” paparnya.

Kendati bursa kemarin menguat, menurutnya, hal itu tidak didukung oleh volume dan nilai transaksi yang signifikan. Kemudian, ia memprediksi indeks akan bergerak fluktuatif di kisaran angka antara 3.390 hingga 3.501.

Sementara itu, di tengah pasar yang fluktuatif, terselip peluang untuk transaksi jangka pendek ada saham unggulan. Makanya, investor lokal jangan mau kalah dengan kalangan asing. ”Jelas investor lokal harus lebih tanggap dan cepat dengan keadaan ini, karena dengan membeli saham unggulan, ini akan dapat menguatkan IHSG di kemudian hari,” tutupnya.

Sebelumnya, pemerintah dengan yakin, menyatakan saat ini status perekonomian global sudah mulai membaik. Makanya, hari ini pemerintah menyatakan status waspada dampak dari krisis global di Eropa dan AS sudah bisa dilepas.

Pemerintah berlasan, saat ini postur anggaran pemerintah masih aman dan sesuai target, sehingga tak perlu ada kekhawatiran. Tentunya, dengan melihat kerjasama yang dilakukan BI dengan pemerintah, menimbulkan keoptimisan tersendiri bagi pemerintah.

Sebagaimana diketahui, indeks Jum’at akhir pekan kemarin ditutup menguat 11,854 poin (0,33%) ke level 3.549,032. Sementara Indeks LQ 45 ditutup menguat tipis 1,822 poin (0,29%) ke level 622,636. Penguatan ini merupakan keberhasilan indeks melanjutkan pada sesi pembukaan hingga sesi I.

Saham-saham unggulan berbasis finansial, terutama bank, menjadi pemberat pergerakan bursa akibat aksi ambil untung setelah menguat dalam beberapa perdagangan terakhir. Sementara saham-saham konsumer melaju sangat kencang.

Menurut Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, IHSG telah mengalami penguatan selama tiga hari berturut-turut. "Bursa saham AS dan Eropa pun masih berada di zona positif. Tetapi, fluktuasinya indeks BEI cenderung karena dimanfaatkan bagi spekulan untuk `profit taking`," katanya.

Dia menambahkan, secara teknikal IHSG masih berpotensi menguat melihat indikator teknikal yang masih bergerak positif, namun demikian perlu diwaspadai sentimen dari eksternal yang belum stabil.

Terbaik di Asia?

Asal tahu saja, bukan kali pertama pemerintah kembali mengumbar janji soal indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) masih yang terbaik di Asia dan bahkan di dunia. Langkah ini dimaksudkan untuk menyakinkan publik untuk meredam kepanikan dan tidak langsung melakukan aksi jual.

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Nurhaida pernah bilang, indeks pasar modal masih lebih baik dibandingkan dengan indeks harga saham di bursa Asia, kendatipun indeks BEI sempat terkoreksi dalam dalam dua pekan. "Indeks bursa Singapura (Straits Times) telah mengalami koreksi sebesar 16%, indeks bursa Hong Kong (Hang Seng) sebesar 24%, sementara koreksi IHSG baru mencapai 11%," katanya.

Menurut Nurhadai, keyakinan dirinya bila indeks dalam negeri masih yang terbaik didasarkan pada penurunan yang tidak terlalu parah atau relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan indeks di Asia, seperti Singapura ataupun Hong Kong.

Penurunan IHSG kali ini, lanjut Nurhaida, lebih dipengaruhi faktor eksternal sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan. “Bapepam-LK terus berupaya melakukan monitoring dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.

Dia juga menambahkan, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memantau kondisi bursa dan siap mengambil langkah-langkah yang tepat apabila terjadi penurunan yang signifikan terhadap IHSG. "Kami terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan market dan kondisi bursa regional, sehingga dapat mengetahui kondisi pasar modal kita," katanya. iwan/ahmad/bani