Investor Mulai Incar Saham Unggulan - DIPICU PENGUATAN BURSA ASIA

Jakarta – Kondisi bursa Asia yang mulai menguat kemarin (29/9) ternyata berdampak pada penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang turut menguat 24,01 poin atau 0,68% ke level 3.537,18. Ini menunjukkan kepanikan mulai mereda di bursa lokal, apalagi sejumlah investor mulai mengoleksi saham unggulan yang kini harganya murah.

NERACA

Aksi beli investor terlihat semakin ramai memasuki perdagangan sesi kedua, Kamis. Saham-saham blue chip yang sudah murah langsung diburu investor. Dengan transaksi sebanyak 7,1 juta lot senilai Rp4,1 triliun, tercatat asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp209,5 miliar.

Hanya indeks sektor tambang dan properti yang terkena koreksi sebesar minus 1,01% dan 0,45%. Sedangkan indeks sektoral lainnya seperti aneka industri menguat 2%, manufaktur (1,61%), konsumsi (1,47%), industri dasar (1,34%), pertanian (1,04%), keuangan (1,08%) dan infrastruktur meningkat 0,86%.

Tercatat pada perdagangan kemarin, saham-saham yang turut mendongkrak angka indeks a.l. Astra International, Bank Mandiri, Bank Jabar, BTN, Semen Gresik, Indocement, London Sumatra Indonesia, Indofood, Adaro, dan saham Kalbe Farma.

Sementara kondisi bursa Asia juga terlihat bergairah setelah indeks Straits Times naik tipis 1,49 poin ke level 2.702,66 dan Nikkei 225 menguat 85,58 poin (0,99%) ke level 8.701,23. Hanya indeks komposit Shanghai yang anjlok 26,72 poin menjadi 2.365,34.

Menyikapi IHSG yang mulai menguat tersebut, ekonom Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Y. Sadewa mengatakan, ini salah satu indikasi yang positif untuk bursa di Indonesia. Namun, IHSG tidak dapat melanjutkan penguatan lebih tajam lagi dan hanya berada di level tertinggi 3.549,18. Namun indeks terus menguat meskipun dibuka di zona negatif dengan level terendah di 3.466,63ungkapnya.

"Pasar juga masih menunggu hasil voting parlemen di Jerman mengenai penambahan dana talangan buat Yunani," katanya kepada Neraca, kemarin.

Lebih jauh Purbaya mengungkapkan, dengan penutupan di atas level 3.530 maka indeks diperkirakan memiliki lagi kekuatan. "IHSG mampu close di atas 3530 sehingga dapat melanjutkan kenaikannya lagi dengan target menuju 3550-3590”, ujarnya.

Sentimen Negatif

Secara terpisah, kepala riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, kondisi tersebut belum dapat dijadikan pedoman. Pasalnya, meski indeks naik di tengah sentimen negatif, harus tetap dilihat apa yang menjadi pemicunya. ”Saat ini asing sudah tidak punya barang lagi untuk dijual, sehingga kondisi ini sangat wajar terjadi,” ujarnya.

Meski demikian, dia tak setuju jika pemerintah menilai IHSG merupakan yang terbaik di Asia saat ini. Karena, untuk tingkat regional masih tergantung penyelesaian krisis Eropa dan Amerika. ”Naiknya indeks lokal kan dipicu oleh posisi pemodal lokal,” jelasnya.

Selain itu, kesiapan Dana Moneter Internasional (IMF), untuk membantu menyelesaikan krisis yang terjadi di Eropa (Yunani), hanya memberikan dampak sintimen positif saja. Selain itu pula, Jerman juga telah memberikan pernyataannya akan kesiapan merek menyelesaikan krisis yang terjadi. ”Secara global IHSG belum bisa dikatakan positif, karena hingga sore ini saja saham-saham asing belum stabil, pergerakan mereka masih flat,” ujarnya.

Pengamat bursa lainnya, Felix Sindhunata dari Henan Putihrai Sekuritas menilai, investor harus sadar bahwa pasar masih volatile karena kondisi Eropa yang masih jauh dari kejelasan, apakah Yunani mau di-bailout atau tidak.

“Secara teknikal, pasar modal Indonesia bagus tetapi investor jangan terlalu percaya diri terhadap kondisi pasar finansial karena IHSG di level 3,537 baru tahap awal,” ujarnya.

Felix memprediksi, untuk besok (30/9), IHSG akan berada di kisaran 3.450-3.580. Sedangkan untuk akhir tahun, dirinya belum bisa memprediksi sebab hal tersebut tergantung dari kondisi Eropa.

Rata-rata bursa Asia mulai rebound mengikuti rencana IMF untuk memberikan bantuan terhadap utang Yunani sebesar US$150 miliar. Hanya bursa saham China yang masih terpuruk di zona merah dengan koreksi cukup banyak. ardi/iwan/ahmad/fba

BERITA TERKAIT

Catatkan Investor Syariah Tertinggi - Bengkulu Tempati Urutan Ke-3 di Sumatera

NERACA Bengkulu – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuan investor pasar modal syariah di provinsi Bengkulu menempati urutan ke-3…

Saham IPO Wahana Interfood Oversubscribed

NERACA Jakarta - Debut perdana di pasar modal, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) dibuka naik 69,7% ke level…

Pertimbangkan Kajian Pelaku Pasar - Soal Saham Gocap Ditunda Hingga Tahun Depan

NERACA Jakarta – Menuai banyak penolakan, rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham gocap atau penurunan batas minimal harga…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

KAMPANYE HITAM KELAPA SAWIT - Indonesia Siapkan 5 Sikap Tegas Hadapi UE

Jakarta-Pemerintah Indonesia akan menempuh segala cara untuk menentang rencana kebijakan Uni Eropa tersebut, bahkan akan membawanya ke forum WTO, jika…

JK: Pengawasan APIP Berhasil Jika Koruptor Makin Sedikit

NERACA Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tolok ukur keberhasilan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam mengawasi lembaga pemerintah…

Iklim Investasi Sektor Industri Perlu Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya membuat kebijakan strategis untuk semakin menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya ini salah satunya…