Jangan Lewatkan Momentum Buyback BUMN Strategis - Gejolak Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Kepanikan pelaku pasar asing yang menarik dananya dari pasar modal menyusul krisis ekonomi Eropa, bisa dimanfaatkan pelaku pasar lokal untuk menguasai saham saat murah. Alasan ini pula yang menjadi pertimbangan pemerintah untuk membeli kembali saham BUMN (buyback).

Pengamat ekonomi Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga melewati level psikologis 3.500 menjadi momentum tepat untuk melakukan buyback. “Saat ini semua harga saham di BEI turun tajam dan termasuk saham BUMN yang sempat dijual. Kondisi ini tepat untuk segera menyiapkan buyback,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (26/9).

Menurutnya, momentum murahnya harga saham saat ini memang sulit diprediksi, apakah sudah masuk pada level bawah atau belum. Namun kondisi ini tetap harus diwaspadai dan kemudian aksi korporasi bagi saham BUMN juga banyak menemui kendala.

Sebut saja soal keterbatasan modal, kata Erani, saat ini dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak dicantumkan untuk membeli saham BUMN. “APBN kita sudah teralokasi dan bahkan APBN yang sudah ada itu masih terasa kurang,” ujarnya.

Erani menyebut, untuk mencari dana guna buyback sangat sulit, kecuali ada anggaran APBN yang tidak habis, bisa relokasi untuk melakukan buyback. Terlepas kendala yang ada, dia menuturkan, dalam jangka pendek bila pemerintah bisa membeli segera memprioritaskan saham BUMN strategis seperti saham Mandiri, BRI dan BNI yang sempat lepas.

Dia juga memberikan cara berupa memanfaatkan keuntungan semester satu perusahaan-perusahaan tersebut dengan resiko atau konsekuensinya menunda pembagian dividen. Namun manfaatnya, bisa memiliki asset negara kembali dan jangka panjang. Kepemilikan kembali asset tersebut memberikan pengaruh positif terhadap daya tahan domestik. “Intinya kita akan lebih banyak mengambil keuntungan jika menjadi mayoritas pemilik saham,” tandasnya.

Kemudian, mengenai industri strategis yang sempat dilepas besar-besaran seperti Indosat dan Telkomsel, memang jika mencoba ambil alih kembali dibutuhkan dana yang cukup besar. “Istilahnya, dibanding saat menjual dengan membeli kembali sekarang, kita akan rugi sedikit karena harga sekarang lebih tinggi. Cuma efek yang kita dapat pada jangka panjang. Kita tahu, semua hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak dan harus dikuasai oleh pemerintah untuk kesejahteraan bersama,” paparnya.

Erani juga mendukung bila saham BUMN strategis itu dibeli pemerintah. Namun kemungkinannya, pemerintah akan menjual aset BUMN karena persoalan jangka pendek untuk menutupi kekurangan di APBN.

Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah memang mulai memikirkan kembali (buy back) dan bisa di mulai dari 2012 dengan menyiapkan anggaran untuk buy back. “Coba pemerintah memulai dengan sedikit-sedikit, tetapi kalau tiap tahun dilakukan, maka aset-aset yang sudah terjual bisa kita miliki kembali,” tegasnya.

Dia menyebut, tren 10 tahun ini, harga naik terus dan artinya keuntungan semakin besar. Karena negara memiliki sendiri dan keuntungan jadi milik negara. Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal Edwin Sinaga yang menilai, saat ini momentum tepat bagi pemerintah untuk melakukan buyback saham BUMN strategis. "Kebijakan pemerintah untuk membeli kembali saham sangat tepat, meski sampai saat ini rencana itu belum terlaksana, karena perdagangan saham di BEI pada sesi pertama untuk sementara dihentikan (suspend)," ujarnya.

Menurut Edwin, langkah pemerintah untuk melakukan buyback perlu didukung. Pasalnya, langkah ini juga dimaksudkan untuk mengembalikan aktifitas perdagangan saham di BEI dan dengan membeli saham BUMN agar perdagangan saham kembali membaik, terutama saham Indosat dan Telkom merupakan saham unggulan.

Edwin mengaku optimis perdagangan saham kembali membaik. Belum dilakukannya pembelian saham hanya bersifat sementara untuk menunggu kajian lebih matang. "Kita lihat saja apakah perdagangan pada sesi berikutnya akan dibuka, apabila ini perdagangan saham kembali dibuka maka pembelian saham BUMN itu akan terjadi," jelasnya.

Sementara Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartarto melihat, pemerintah harus bersikap hati-hati dan tidak perlu terburu-buru. Airlangga lebih mengusulkan, dalam kondisi seperti ini, kerjakan saja fundamental koorporasinya dan jangan gunakan dana koorporasi untuk spekulasi pasar. “Inti tidak perlu terburu-buru dan jangan gunakan dana koorporasi untuk spekulasi pasar," tegasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian BUMN Mahmudin Yasin, rencana untuk buyback saham-saham BUMN dinilai perlu dikaji kembali agar tidak jatuh ke arah yang lebih buruk lagi. Dia menghimbau kepada BUMN untuk memikirkan lebih jauh dan melakukan kajian intensif.

Rencananya analisa yang dilakukan pemerintah akan didukung pula oleh BUMN stategis yang bergerak di pasar modal, seperti Mandiri Sekuritas dan Bahana Sekuritas yang lebih mengerti pasar. Harapannya, dengan analisa dan kajian yang intensif bisa mendapatkan keuntungan dan bukan sebaliknya mengalami kerugian ketika buyback dilakukan disaat pasar kembali anjlok.

Related posts