Pasar Modal Memasuki Masa Krisis - Black September BEI

NERACA

Jakarta - Pemerintah masih percaya diri bila industri pasar modal masih yang terbaik hingga saat ini, kendati demikian pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam dua pekan terakhir mengalami masa ‘kembang kempis’ akibat dipicu penurunan peringkat tiga lembaga keuangan Amerika Serikat oleh Moody’s yakni Bank of America, Citigroup, dan Well’s Fargo & Co.

Kemudian krisis keuangan akut Yunani dan Italia yang ‘dianaktirikan’ oleh Uni Eropa serta pemberian stimulus AS yang membelu surat utang negara (SUN) bertenor panjang sebesar US$ 400 miliar. Direktur Utama BEI, Ito Warsito berusaha meyakinkan semua pihak bahwa gejolak yang terjadi di pasar saham dalam negeri hanya fenomena jangka pendek. Pasalnya, kondisi tersebut tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga di negara lain.

“Gejolaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena eksternal, hal itu merupakan fenomena jangka pendek. Karena AS dan Eropa yang tidak menentu, seluruh saham juga sama," kata Ito, kemarin. Menanggapi komentar tersebut, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa mengakui krisis utang Eropa dan AS menjadi sentimen negatif yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Meski tidak berdampak langsung, anjloknya bursa global dan regional membuat IHSG mengalami koreksi terdalam selama sepekan terakhir. IHSG, lanjut dia, tidak bisa terlepas dari pergerakan global dan regional, apalagi jika koreksi cukup besar. Namun secara fundamental, krisis utang Eropa dan AS tidak akan berdampak terhadap fundamental perekonomian Indonesia.

“Secara fundamental kita baik-baik saja. Krisis yang terjadi disana masih jauh dari kita, sehingga tidak akan memberi pengaruh besar. Apalagi ekonomi kita dalam tahap ekspansi,” jelas dia kepada Neraca, Kamis (22/9). Purbaya menilai apa yang terjadi saat ini merupakan sentimen sesaat saja. Pasar saham akan berbalik arah saat Uni Eropa mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan Yunani dan Italia.

Senada dengan Purbaya. Pengamat ekonomi FEUI, Irwan Adi Ekaputra menambahkan kalau pasar modal mengalami panik sementara. Meski ekspektasi makro dunia sedang lesu dan adanya dugaan kinerja semua perusahaan-perusahaan dan semua sektor turun.

"Menurut saya tidak semua industri terpengaruh. Faktanya, sektor konsumsi kita bagus. Sektor tambang walau menurun tapi masih bagus, begitu juga kelapa sawit," tandasnya. Khusus sektor otomotif, Irwan menambahkan sektor mobil berat, tetapi motor dan alat berat masih berpotensi positif.

Sementara ekonom Indef, Ahmad Erani Yustika menyarankan bahwa opsi suspensi dari BEI akan sangat membantu mengatasi krisis pasar modal. Tetapi yang perlu ditekankan disini, katanya, adalah kita tidak bisa menperbaiki kondisi ini dengan cara instan. ”Semua tergantung dengan bank sentral (BI),” ujar Erani.

Walaupun masih sangat sulit memprediksi kapan IHSG bisa keluar dari tekanan, namun yang pasti, pada 2012 mendatang dampak krisis ekonomi masih dapat dirasakan. ”Yang terpenting bagaimana pemerintah kita melindungi sumber ekonomi domestik kita dengan terus mendorong sektor UMKM berkembang,” tutupnya.

Dari sektor perbankan, Farial Anwar mengatakan kalau kejadian sekarang mirip dengan yang dialami Indonesia pada 1998 dan 2008, di mana sedang terjadi panic selling di pasar modal, surat utang, dan beli dolar AS. Investor asing pun sedang sudden capital reversal.

"Isu ekonomi di AS sudah masuk ranah politik. Barack Obama terus mendapat tekanan dari lawan politik. Buktinya, waktu penentuan stimulus disetujui pada saat-saat terakhir. Lalu Eropa, masing-masing negara menyelamatkan diri-sendiri," tegas dia kepada Neraca, kemarin.

Farial menjelaskan bahwa Bank Indonesia (BI), mau tidak mau, harus mengintervensi rupiah untuk menghambat melonjaknya dolar AS terhadap rupiah. Intervensi ini sendiri terbagi dua macam, yaitu beli dolar AS ketika turun dengan rupiah dan jual dolar AS ketika sedang naik. Sayangnya, lanjut dia, harus pakai dolar AS juga.

"Uang dari mana kalau pakai cadangan devisa? Itu kan buat biaya impor dan bayar utang. Sisanya intervensi, tapi hanya sedikit," paparnya. Kemudian, BI mengirim pengawas ke seluruh perbankan yang aktif berspekulatif. Jika melanggar kena sanksi. Terakhir, BI memerintahkan seluruh perbankan agar nasabah institusi membeli dolar AS ke bank sentral.

Ia memprediksi bahwa krisis ini akan berlangsung cukup lama. Sedangkan dampaknya ke Indonesia hampir tidak ada. Tetapi sayangnya, Indonesia menganut sistem devisa bebas yang membiarkan hot money deras masuk ke sektor finansial. "Kita tidak pernah belajar dari pengalaman. Harusnya bisa diantisipasi sebelum kejadian," tegas dia.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan, fluktuasi harga saham di pasar modal tidak serta-merta berkaitan langsung dengan fundamental ekonomi nasional. Sebab, bergejolaknya pasar modal dan pasar keuangan tidak hanya terjadi di Indonesia.

Hatta bahkan mengklaim, meskipun sempat rontok dalam dua pekan, kinerja pasar modal Indonesia tetap yang terbaik di Asia Pasifik dan bahkan dunia. Meski demikian, perlu ada upaya-upaya perbaikan dan peningkatan kinerja pasar modal dan pasar keuangan. Hal ini dilakukan untuk semakin memperkuat stabilitas pasar modal agar tidak mudah goyah di tengah kondisi ekonomi dunia yang semakin tidak menentu.

Salah satu langkah yang perlu diambil adalah memperbanyak emiten di lantai bursa. "Dalam jangka menengah tidak bisa tidak, pasar modal kita harus diperbanyak emiten, dorong perusahaan masuk pasar modal, termasuk BUMN,"ujar Hatta. (vanya/iwan/syaikh/ardi/bani)

Related posts