Produksi Minyak Stagnan, Cadangan Minyak Hanya untuk 11 Tahun - Sektor Migas

NERACA

Jakarta - Cadangan minyak yang dimiliki Indonesia diperkirakan tidak akan bertahan lebih dari 11 tahun. Hal ini terjadi jika laju produksi minyak Indonesia terus berada pada kisaran 800 ribu barel per hari (bph). Sekretaris SKK Migas Gde Pradyana mengatakan, masyarakat seharusnya menyadari Indonesia saat ini tidak lagi kaya akan sumber daya energi fosil seperti minyak bumi. “Kita tidak sekaya yang kita bayangkan. Kita dihadapkan pada satu pilihan, di mana harus mengurangi energi fosil,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4).

Dia menjelaskan, saat ini Indonesia hanya memiliki cadangan minyak sebesar 3,7 miliar barel atauu berada diurutan ke 27. Jumlah ini jauh di bawah Venezuela yang menempati urutan pertama dengan 298,3 miliar barel, Saudi Arabia 265,9 miliar barel, Kanada 174,3 miliar barel, Iran 157 miliar barel, Irak miliar 150 barel, Kuwait 101,5 miliar barel, Uni Emirat Arab 97,8 miliar barel, Rusia 93 miliar barel, Libya 48,5 miliar barel dan Amerika Serikat (AS) sebanyak 44 miliar barel. “Ini bakal terealisasi kalau pemakaian minyak di Indonesia konstan sebesar 800 ribu barel per hari,” tandas dia.

Sebelumnya, mantan Wakil Kepala SKK Migas Abdul Muin menuturkan, cadangan minyak dan gas (migas) di Indonesia saat ini berada dalam kondisi krisis. Jumlah cadangan energi Indonesia hanya 0,6 persen dari seluruh cadangan dunia. “Ironinya, Indonesia masih menjadi eksportir minyak tertinggi di dunia,” ujar Muin.

Ia mengatakan kondisi krisis ini luput dari kesadaran masyarakat yang tenggelam dalam kenikmatan meraup laba besar dari hasil eksploitasi migas. Dalam hal ini, jika krisis dibiarkan terjadi, maka dampak buruknya akan menyentuh aspek ketahanan negara, yaitu sektor politik dan sosial. “Terkait dengan pertahanan, krisis migas akan mempengaruhi situasi politik, dan situasi politik akan mempengaruhi kondisi sosial masyarakat hingga mengancam terjadinya disintegrasi suatu negara,” pungkas dia.

Kurtubi menyatakan bahwa cadangan minyak Indonesia saat ini sekitar 3,7 miliar barel atau sekitar 0,2 persen cadangan dunia. “Dengan produksi minyak rata-rata 830 ribu barel per hari dan tanpa menemukan cadangan baru, maka cadangan minyak kita habis dalam 12 tahun," ujarnya.

Menurut Kurtubi, perut bumi Indonesia sebenarnya masih menyimpan potensi sumber daya minyak yang besar. Jumlahnya diperkirakan mencapai 50-80 miliar batel. Hanya saja, untuk menemukannya, diperlukan kegiatan eksplorasi yang membutuhkan modal besar dengan risiko tinggi. Di pihak lain, regulasi bidang energi yang berlaku saat ini dinilainya tak ramah bagi perusahaan-perusahaan yang berminat melakukan eksplorasi.

Sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, ia mengatakan, kegiatan eksplorasi di Indonesia menurun drastis. Setelah Blok Cepu, tak ada lagi sumur minyak baru ditemukan. Itu sebabnya revisi Undang-Undang tentang Energi harus segera dirampungkan. "Tak perlulah insentif-insentif, sederhanakan perizinanya, jamin kepastian hukumnya, mereka (investor) akan datang sendiri," ujarnya.

Penemuan sumur minyak baru, menurut Kurtubi, sangatlah penting. Konsumsi minyak saat ini mencapai 1,5 juta barel per hari, sedangkan kapasitas kilang hanya 1,1 juta barel per hari. Itu berarti, Indonesia harus impor minyak sekitar 400 ribu barel perhari.

Selain minyak, Kurtubi melanjutkan, Indonesia masih memiliki sumber energi potensial berupa gas. Cadangan gas bumi di Tanah Air mencapai 103,3 triliun standard cubic feet (Tscf) atau sekitar 1,6 persen cadangan dunia. "Untuk gas, tanpa menemukan cadangan baru pun masih cukup untuk 41 tahun mendatang," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Mafia Migas, Faisal Basri menilai cadangan minyak di bumi Indonesia hanya cukup untuk 11,5 tahun ke depan. Saat ini, sambungnya, masih tersisa 3,7 miliar barel minyak. Padahal pada 1980-an terdapat 11 miliar cadangan minyak di Indonesia. “Alasannya tidak lain karena permintaan masyarakat terus meningkat. Di sisi lain, jarang menemukan sumur baru,” katanya.

Selain itu, potensi sumur baru tiap tahun berkisar 741 barel (1 barel ada 159 liter). Kalah jauh dibanding negara lain, seperti Vietnam yang mencapai 87 juta barel. Dia menyebut, Indonesia tidak mungkin terus menerus impor dari negara lain. Apalagi, dengan harga minyak yang naik turun. “Biayanya cukup mahal, solusinya, harga jual harus dinaikkan,” paparnya.

Cadangan Meragukan

Dewan Perwakilan Rakyat mengatakan pemerintah tidak pernah memiliki anggaran untuk meneliti jumlah cadangan minyak dan gas bumi Indonesia. Atas dasar itu, besaran cadangan minyak bumi Indonesia berdasarkan hasil penelitian SKK Migas dinilai meragukan. “Dana alokasi untuk memiliki kandungan minyak tidak pernah ada dana untuk research adanya kandungan minyak,” kata Anggota Komisi VII DPR-RI Satya W Yudha.

Related posts