RI - Iran Perkuat Kerjasama Perdagangan

Ekonomi Bilateral

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Jakarta - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan bahwa Presiden RI Joko Widodo dalam pertemuan bilateralnya dengan Presiden Iran Hassan Rouhani telah membahas mekanisme untuk meningkatkan kerja sama perdagangan antara kedua negara. Pertemuan bilateral antara presiden RI dan presiden Iran itu dilakukan di sela-sela Pertemuan Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 di Jakarta Convention Center.

“Beberapa isu yang juga diangkat terkait dengan mekanisme untuk meningkatkan perdagangan. Karena seperti diketahui, saat ini perdagangan dengan Iran terhambat dalam konteks perbankan,” ungkap Arrmanatha, seperti dikutip dari laman Antara, Kamis (23/4).

Menurut dia, hambatan perdagangan antar kedua negara dalam hal perbankan disebabkan adanya sanksi yang diterapkan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. “Hal itu disebabkan Iran mendapat embargo perbankan dari AS. Oleh karena itu, mereka akan membahas bagaimana mereka bisa atasi hal itu,” ujar dia.

Selain itu, Arrmanatha menyebutkan bahwa kedua Presiden juga membahas tentang pengaktifan kembali komisi bersama (join commission) antara Indonesia dan Iran. "Mereka sepakat untuk mengaktifkan kembali 'join commission' yang selama ini telah ada guna meningkatkan hubungan bilateral," kata dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir menekankan Indonesia dan Iran perlu membangkitkan kembali semangat kerja sama ekonomi di antara kedua negara, khususnya di bidang perdagangan. Wamenlu Fachir berpendapat bahwa nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran saat ini belum menunjukkan potensi yang sebenarnya. "Untuk dua negara besar seperti Indonesia dan Iran, bahkan nilai perdagangan dua miliar dolar AS per tahun masih terlalu kecil," ujar dia.

Oleh karena itu, menurut Wamenlu, kedua negara harus menghidupkan kembali bentuk kerja sama ekonominya sehingga dapat melampaui nilai perdagangan dua miliar dolar AS per tahun. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran pada 2013 dan 2014 hanya mencapai 568 juta dolar AS dan 430 juta dolar AS. Padahal, total perdagangan kedua negara sebelumnya selalu berada diatas angka satu miliar dolar AS.

Penurunan nilai perdagangan yang signifikan itu terjadi karena berhentinya impor migas Indonesia dari Iran, sebagai akibat sanksi ekonomi perdagangan unilateral kepada Iran. Namun, potensi perdagangan antara Iran dan Indonesia sangat besar mengingat sifat perdagangan komplementer kedua negara.

Potensi perdagangan kedua negara sangat besar mengingat sifat perdagangan komplementer kedua negara. Iran membutuhkan hasil-hasil pertanian dan perkebunan Indonesia seperti minyak sawit, teh, dan kopi, sementara Iran adalah negara kaya minyak dan gas, serta unggul pada industri energi, teknologi infrastruktur, dan manufaktur.

Perangi Terorisme

Tak hanya di sektor perdagangan, Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Iran juga berkomitmen untuk melakukan perang terhadap segala aksi terorisme dengan kerja sama yang erat antar-kedua negara. “Dua negara sepakat bahwa kekerasan yang dilakukan atas nama agama oleh kelompok teroris harus diberantas dengan kerja sama yang erat antar-negara,” ujar Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto seusai pertemuan.

Andi mengatakan, kedua negara, yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam moderat, juga sepakat memperkuat kerja sama, terutama di bidang kebudayaan. Sebelumnya, Presiden Jokowi dan Presiden Hassan Rouhani sama-sama menyinggung soal perang melawan terorisme. Secara khusus, mereka menyebut masalah keberadaan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Para ekstremis menikmati dukungan intelijen, logistik, dan finasial dari sejumlah pemain regional dan internasional untuk mencapai tujuan mereka yang tidak sah. Para sponsor mereka yang tak memedulikan krisis stabilitas yang berlanjut di wilayah akan membawa ketidakamanan di seluruh dunia, termasuk negara mereka," kata Rouhani dalam pidatonya di hadapan para peserta KAA 2015.

Selain di bidang terorisme dan pendekatan budaya, pertemuan Jokowi dengan Rouhani juga membahas potensi ekonomi dua negara. Andi menyebutkan, volume perdagangan antara dua negara saat ini sedang menurun. Karena itu, kedua negara berkomitmen mencari cara untuk meningkatkannya. “Selain itu, sektor swasta Iran di bidang infrastruktur dan energi siap masuk ke Indonesia,” ucap dia.

Setelah bertemu dengan Presiden Rouhani, Jokowi masih akan melakukan serangkaian kegiatan. Di antaranya menghadiri pembukaan Konferensi Parlemen Asia-Afrika di Dewan Perwakilan Rakyat. Dia juga akan bertemu dengan beberapa petinggi negara lain secara bilateral. Di antaranya Raja Swaziland Miswati II, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, Presiden Madagaskar Hery Rajaonarimampianina, Perdana Menteri Mesir Ibrahim Mahlab, Perdana Menteri Vietnam Truong Tang Sang, Perdana Menteri Nepal Sushil Koirala, Presiden Zimbabwe Robert Gabriel Mugabe, Ketua Presidium Majelis Tinggi Republik Demokratik Rakyat Korea Utara Kim Yong-nam, dan Perdana Menteri Timor Leste Taur Matan Ruak.