Penilaian Paket Direksi BEI Tidak Transparan?

NERACA

Jakarta - Industri pasar modal sejatinya syarat dengan mengedepankan prinsip utama transparansi, sebagai upaya menjunjung tinggi tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), begitu juga seharusnya yang terjadi dalam proses demokrasi pemilihan direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Namum faktanya pemilihan direksi BEI yang di gelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dituding tidak transparan. Pasalnya, kriteria penilaian direksi BEI terkesan tidak terbuka.

Reza Priyambada, Head of Research PT NH Korindo Securities Indonesia mengatakan, proses pemilihan direksi BEI tahun ini hampir sama dengan priode yang sebelumnya. Jadi dinilai tidak ada yang baru dan belum ada terobosan yang signifikan. Terlebih kewenangan OJK yang bisa melakukan silang menyilang dan tukar posisi, dituding tidak lagi objektif,”Kalau dari awal sudah ada paket calon direksi BEI, namun kemudian bisa ditukar posisi OJK bisa menimbulkan penilaian yang tidak objektif. Sehingga penilaian like and dislike bisa saja terjadi,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (23/4).

Menurut dia, pemilihan direksi BEI harus terbuka dan melibatkan semua pemangku kepentingan atau stakeholder. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menyakinkan visi dan misi calon direksi BEI dalam mengembangkan pasar modal lebih maju lagi. Namun faktanya, intervensi OJK dalam uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper testpemilihan direksi BEI mampu bisa saling menyilang dan tukar posisi hanya akan menimbulkan kekhawatiran konflik kepentingan.

Menurut Reza, saat ini pelaku pasar atau anggota bursa melihat pemilihan direksi BEI lebih condong ke figur dan bukan ke program kerja kedepan. Alasannya, hampir semuanya paket calon direksi BEI menyampaikan hal yang normatif dalam visi dan misi mengembangkan pasar modal. Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia, Isaka Yoga, subjektifitas dalam pemilihan direksi BEI oleh OJK selalu ada dan sebaliknya objektifitas dipertanyakan,”Pemilihan direksi BEI dengan kewenangan OJK bisa tukar posisi selalu ada subjektifitasnya,”tuturnya.

Oleh karena itu, dia tidak menampik bila ada tudingan kedekatan dengan orang OJK mampu meloloskan direksi BEI dengan harapan bisa memuluskan program yang di gulirkan OJK atau sebaliknya program BEI bisa sejalan dengan program OJK, seperti kebijakan kenaian annual listing fee. Asal tahu saja, OJK mengisyaratkan proses seleksi direksi BEI priode 2015-2018 bisa saling menyilang dan tukar posisi. Sebut saja, seorang direksi paket A dengan formasi awal sebagai direktur penilaian, karena latar belakang di bidang keuangan, bisa saja ditukar menjadi direktur keuangan.

Hal sama juga bisa terjadi pada posisi direktur utama, dimana kandidat akan dicari mana yang paling kompeten untuk mengisi posisi dirut. Menurut klaim OJK, hal ini dilakukan guna mendapatkan direksi BEI yang lebih unggul dan menjadikan pasar modal lebih berkembang.

Terlepas dari plus dan minusnya proses pemilihan direksi BEI oleh OJK, baik Reza dan Isaka Yoga, kedua sependapat kelima calon paket direksi BEI mempunyai pengalaman dalam industri pasar modal. Menurut Reza, sosok ideal direksi BEI kedepan adalah mampu mendekatkan pasar modal kepada masyarakat luas dan tidak hanya sekedar kejar pertumbuhan bisnis dan laba,”Direksi BEI kedepan harus mampu mengenalkan dan mensosialisasikan pasar modal lebih dekat ke masyarakat. Sehingga bila penetrasi pasar dalam negeri sudah besar, tentunya ketergantungan investor asing bisa di kurangi,”tandasnya.

Reza bilang, hal yang perlu ditekankan dalam memilih lima paket direksi BEI yang dinilai layak adalah mereka yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mendekatkan pasar modal ke masyarakat,”Pasar modal saa ini tidak perlu produk investasi yang canggih atau sophisticated bila awarnes masyarakat akan pasar modal masih rendah,”tuturnya.

Sebaliknya, kata Reza, bila awarnes masyarakat sudah tumbuh tentang minat investasi di bursa, maka akan sendirinya pasar akan terbentuk dan produk akan menjadi kebutuhan. Sementara bagi Isaka Yoga, calon direksi BEI yang ideal saat ini ditengah upanya menambah jumlah emiten dan jumlah aktif investor pasar modal adalah yang mempunyai pengalaman di perusahaan penjaminan emisi,”Pengalaman di perusahaan sekuritas adalah ideal karena mempunyai jaringan investor luas. Alasannya, keberhasil menyakinkan perusahaan listing di bursa menjadi buktinya,”ungkapnya. bani

BERITA TERKAIT

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku lembaga independen yang melakukan…

Yulie Sekuritas Tuding BEI Salah Sasaran

NERACA Jakarta – Sanksi yang diberikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE) menuai keprihatinan…

Sikapi Rekomendasi Credit Suisse - Dirut BEI Masih Optimis Pasar Tumbuh Positif

NERACA Jakarta – Di saat banyaknya pelaku pasar menuai kekhawatiran dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China terus…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

NERACA PERDAGANGAN DEFISIT US$1,16 MILIAR DI JANUARI 2019 - CORE: Defisit NPI Diprediksi Masih Berlanjut

Jakarta-Ekonom CORE memprediksi neraca perdagangan Indonesia (NPI) diperkirakan masih terus defisit hingga sepanjang tahun ini, karena kondisi ekspor impor Indonesia…

Kenaikan Tarif Kargo Udara Berdampak ke Sektor Perikanan

NERACA Jakarta-Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Rifky Effendi Hardijanto, mengatakan kenaikan tarif kargo udara turut…

Peneliti:Kasus Beras Busuk Karena Distribusi Tidak Baik

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…