Pemerintah Targetkan Investasi Hijau Tumbuh 20%

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengemukakan pemerintah menargetkan investasi hijau tumbuh rata-rata 20 persen setiap tahun. “Saat ini investasi dan perkembangan industri yang ramah lingkungan sudah menjadi tren global. Untuk itu, Indonesia akan mengambil peluang ini untuk menarik investasi hijau saat menjadi tuan rumah Tropical Landscape Summit dengan memaparkan portofilo potensi investasi hijau di Tanah Air,” ungkap Franky di Jakarta, Rabu (22/4).

Selama lima tahun terakhir (2010-2014), total realisasi investasi hijau mencapai 30,3 persen dari total nilai investasi atau sebesar Rp 486 triliun dibanding total nilai investasi Rp1.600 triliun. Dari realisasi tersebut, sebanyak 26,8 miliar dolar AS merupakan penanaman modal asing (PMA) dan Rp139,1 triliun merupakan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Dengan target sedemikian, diperkirakan pada 2019 investasi hijau PMA mencapai 56 miliar dolar AS dan PMDN sebesar Rp448 triliun. "Acara ini sangat strategis bagi Indonesia untuk menjadi 'role model' bagi pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Karena untuk mempercepat pembangunan infrastruktur hijau atau yang ramah lingkungan membutuhkan biaya yang cukup besar, dan acara ini diharapkan menjadi peluang untuk menarik investor," kata Franky.

Ia mengatakan ada delapan sektor potensial untuk investasi hijau antara lain pertanian, kehutanan, perikanan, pengusahaan tenaga panas bumi, industri pengolahan (biomassa, biofuel, komponen transportasi), pengadaan listrik dari sumber terbarukan, pengelolaan sampah dan daur ulang, dan pariwisata alam (ecotourism).

Sejumlah menteri ekonomi seperti Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya beserta menteri terkait lainnya akan memaparkan peluang dan potensi serta insentif yang ditawarkan pemerintah dalam investasi hijau. "Juga menteri-menteri ekonomi lainnya akan mempromosikan program pengembangan investasi hijau dan berdiskusi langsung dengan para pemangku kepentingan dalam kerangka regulasi dan ekosistem yang mendukung terciptanya ekonomi hijau," katanya.

Selain jajaran menteri terkait, acara tersebut juga akan menghadirkan sejumlah praktisi, pelaku usaha hingga lembaga swadaya masyarakat dari seluruh dunia. “Acara ini berbeda dengan World Economic Forum atau lainnya karena memang tujuannya untuk meningkatkan investasi hijau,” katanya.

Sejumlah CEO global yang dipastikan datang dan menjadi pembicara antara lain Sunny Verghese dari Group MD and CEO Olam International, Gary Kotzen yang merupakan Vice President of Global Sourcing, Costco Wholesale, Mark Burrows yang merupakan Managing Director and Vice Chairman Global Investment Banking, Credit Suisse dan Stephen Rumsey dari Permian Global. “Selain itu banyak pembicara juga merupakan CEO dalam negeri, untuk berbagai mengenai pengalaman investasi di Indonesia,” pungkas Franky.

Investasi yang Potensial

Di tempat yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan investasi hijau di bidang energi masih sangat potensial karena merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi. “Kalau dilihat dari realisasi investasi, maka di antara investasi hijau, sekitar 30 persennya berhubungan energi baik listrik, geotermal, dan lainnya,” kata Sudirman dalam jumpa pers tentang penyelenggaraan Tropical Landscape Summit di Jakarta, Rabu (22/4).

Menurut dia, Indonesia sudah seharusnya menengok potensi EBTKE lantaran dari jumlah penduduknya yang mencapai 3,5 persen penduduk dunia, hanya memiliki cadangan energi fosil yang minim. Cadangan minyak dan gas bumi Indonesia hanya sekitar 0,2 persen dari total cadangan migas dunia. Ada pun cadangan batubara Tanah Air hanya mencapai 4 hingga 5 persen cadangan dunia. “Jadi kalau mengandalkan fosil sajan, sudah jumlahnya sedikit, akan habis pula. Makanya tidak ada pilihan lain selain tengok energi baru terbarukan,” ujarnya.

Sudirman menambahkan, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi terbarukan yang besar. Data Kementerian ESDM menyebutkan potensi energi hidro yang teridentifikasi sebesar 75 gigawatt (GW), potensi surya sebesar 112 GW, bahan bakar nabati (biofuel) mencapai 32 GW, angin 0,95 GW, biomassa 32 GW, panas bumi 28,8 GW, dan laut 60 GW. “Bagi pelaku bisnis tentu ini akan sangat menarik. Kemarin di World Economic Forum on East Asia, minat investor untuk masuk di 'green energy' sangat besar, tinggal berapa insentif yang mau diberikan,” katanya.

Kementerian ESDM, diakui Sudirman, akan melakukan terobosan untuk mendorong pengembangan EBTKE. Salah satu terobosan yang tengah diupayakan adalah mengajukan anggaran yang signifikan untuk EBTKE. “Anggaran saat ini untuk EBTKE hanya Rp1,03 triliun. Kami belum siapkan angkanya tapi diharapkan bisa naik berlipat-lipat. Tapi saya yakin akan didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan,” katanya.

Related posts