Manfaat WEF dan KAA

Dua event internasional, World Economy Forum on East Asia (WEF-EA) dan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60, pekan ini digelar di Indonesia. Ini tentu tantangan bagi kredibilitas pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla di hadapan 32 kepala negara dan ratusan chief executive officer (CEO) perusahaan dunia yang hadir dalam forum internasional bergengsi tersebut.

Indonesia menjadi tuan rumah WEF-EA yang akan digelar pada 19-21 April 2015 untuk kedua kalinya setelah 2011. Sebanyak 700 CEO dari ratusan perusahaan raksasa dan bonafid akan menghadiri perhelatan yang mengusung tema “Anchoring Trust in East Asia's New Regionalism”.

Selain kalangan CEO, beberapa pemimpin dunia dari tingkat presiden asal Ethiopia, Kamboja, Mali dan beberapa wakil presiden dari Rusia, Tanzania dan Vietman disebut-sebut turut hadir langsung untuk mendengarkan potensi dan perkembangan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur.

Pasalnya, Indonesia merupakan bagian dari kawasan Asia Timur yang rata-rata pertumbuhannya sudah melampaui pertumbuhan ekonomi dunia yaitu di atas 7%, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri dalam dua tahun terakhir menunjukkan angka di bawah 6% di tengah perlambatan ekonomi global saat ini.

Karena itu, Indonesia perlu menseriusi forum berkumpulnya stakeholders dari berbagai belahan dunia untuk mendatangkan investasi. Apalagi terkait dengan sasaran program Nawacita, dimana Indonesia diketahui masih kekurangan dana US$430 miliar untuk mencapai program pembangunan untuk 5 tahun mendatang. Sementara pemerintah Indonesia baru menganggarkan US$129 miliar.

Ini sebuah kesempatan bagus untuk menjual program-program pembangunan infrastruktur di negeri ini dan “memasarkan” kebijakan kita kepada dunia untuk menarik mereka menanamkan investasi di sektor riil. Bahkan secara khusus WEF mengundang 16 perwakilan kementerian, untuk memaparkan peluang dan potensi pertumbuhan ekonomi dari segi politik luar negeri, pariwisata, energi, pertanian, komunikasi.

Hanya sayangnya, berapa besar nilai investasi yang bakal diserap Indonesia dari hasil gelaran forum ekonomi internasional itu, pemerintah Indonesia khususnya kementerian di bidang ekonomi belum menyiapkan rencana bisnis (business plan) yang komprehensif, terjangkau dan terukur. Padahal jelas tergambar rangkaian acara dalam WEF mencakupbusiness matchingsekaligus pameran yang menunjukkan potensi perdagangan, maritim dan pembangunan infrastruktur di Indonesia serta negara peserta lainnya.

Pada waktu yang bersamaan, Indonesia juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang berlangsung pada 19-24 April 2015. Pertemuan internasional yang dihadiri puluhan kepala negara itu akan menghasilkan komunike bersama untuk meningkatkan kepercayaan dalam sebuah hubungan ekonomi politik antar negara apalagi di kawasan Asia Timur, mengingat belakangan ini kawasan itu tidak lepas dari konflik.

Peringatan 60 tahun KAA harus menjadi momentum untuk menggelorakan kembali kepemimpinan Indonesia guna memperkuat solidaritas bangsa-bangsa Asia Afrika dalam menghadapi ketidakadilan dunia. Kita menyadari proses penjajahan dalam perspektif ekonomi tetap saja terjadi. Di sinilah kerja sama bangsa-bangsa Asia dan Afrika diperlukan untuk mendapatkan kemerdekaan dalam ranah ekonomi berupa kesejahteraaan yang berkeadilan. Semoga!

Related posts