Fundamental Kuat, Fluktuasi Saham Terus Bergulir

NERACA

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari ini terus mengalami penurunan, akibat dampak kekhawatiran krisis keuangan yang terjadi di Eropa akibat risiko gagal bayar (default) utang Yunani. Sehingga investor kini berada dalam posisi wait and see.

Meski demikian, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito tetap optimistis potensi pasar saham dalam negeri masih sangat besar.

“Penarikan portofolio yang dilakukan investor asing merupakan bentuk keseimbangan yang berlaku antarbursa yang saling ketergantungan. Jadi ada keseimbangan yang harus terjadi. Gejolak indeks tidak terlalu parah. Kita masih positif sejak awal tahun. Ini ditunjukkan dengan investor (asing) net sell Rp 7 triliun, tapi turunnya indeks tidak sedrastis tahun 2008," tutur Eddy di Jakarta, Kamis (15/9).

Menanggapi hal tersebut, analis pasar modal dari Samuel Sekuritas, Muhammad AlFatih mengatakan, reaksi pasar Eropa cukup positif dikarenakan adanya kepastian jaminan dari Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy yang menjamin bahwa Yunani masih tetap berada di zona Eropa.

“Ini menyebabkan bursa Eropa naik berkisar 1,5%-3%. Selain itu, China masih berminat membeli surat obligasi Italia,” kata dia kepada Neraca, Kamis (15/9). Bursa Asia pun kembali menguat dengan indeks acuan rebound dari level terendah lebih dari setahun. Komitmen kedua negara Eropa itu berhasil meredam kekhawatiran adanya default, yang tentunya, mengurangi imbas terhadap sistem perbankan, yang berakibat positif untuk pasar modal Asia.

Kemudian, sambung AlFatih, faktor-faktor lain yang mempengaruhi pasar dalam modal adalah rencana Bank Indonesia (BI) yang akan menurunkan suku bunga dan dana ekspor agar disimpan di perbankan lokal. “Tapi secara makro ekonomi, fundamental kita masih kuat dan sehat. Kalau terjadi penurunan itu karena efek psikologis atau sentimen pasar saja,” jelasnya.

Menurut dia, IHSG hari ini akan masih bertahan di atas level psikologis, yaitu 3.730. Ia menyatakan indeks akan rebound di kisaran level 3.730-3.820, sedangkan nilai tukar rupiah akan berada di posisi Rp 8.750-8.850 per dolar AS. “Untuk saham-saham yang akan buy antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Kalau saham sell, saya melihat salah satunya Adaro Energy (ADRO),” tandas AlFatih.

Ekspektasi Lemah

Di tempat terpisah, ekonomi Universitas Indonesia, Irwan Adi Ekaputra menuturkan, terkoreksi indeks disebabkan ekspektasi dari kondisi makro ekonomi dunia yang masih lemah. Sehingga, investor mencoba untuk menghindari risiko. Salah satunya adalah saham emiten dilepas dan mencari alternatif lain seperi membeli emas atau borong uang tunai.

“Investor mencari save haven dan kemudian melakukan valuasi saham. Dalam kondisi makro ekonomi dunia seperti sekarang, tentunya berpengaruh ke pasar modal. Jadi, ya, wait and see," jelas Irwan, kemarin.Terkait dampaknya ke pasar modal Indonesia, dosen FEUI ini menegaskan, semua tergantung dari valuasi saham meskipun fundamental ekonomi Indonesia kuat.

Sebagai informasi, saham yang menguat (top gainers), antara lain PT Mayora Indah Tbk (MYOR) naik Rp 500 ke Rp 14.700, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) naik Rp 400 ke Rp 8.400, serta Surya Citra Media Tbk (SCMA) naik Rp 300 ke Rp 5.700.

Sementara saham yang bergerak melemah (top lossers), antara lain PT Sepatu Bata Tbk (BATA) turun Rp 5.000 ke Rp 60.000, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp 2.100 ke Rp 55.900, dan PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp 1.450 ke Rp 65.300.

Tidak ada katalis positif membuat indeks terus merosot dan berada di level 3.700-an di pertengahan pekan ini. Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG berada di level 3.774,33, turun 24,70 poin (0,66%) dari posisi sebelumnya, yaitu 3.799,04.

Penurunan IHSG telah terjadi sejak awal pekan, di mana IHSG susut 53 poin ke level 3.945,6. Hingga akhir sesi perdagangan Senin (12/9) lalu, indeks berada di level 3.896,11, melemah 100 poin lebih dibanding posisi Jumat (9/9) yang tercatat turun 6,89 poin atau (0,17%) di level 3.998.

Kekhawatiran ekonomi global akan kembali ke resesi di tengah memburuknya krisis utang Eropa, memicu kejatuhan indeks MSCI APAC sebesar 17% dari level tertinggi sejak 2 Mei dan Rabu (14/9).

Indeks Nikkei 225 Stock Average Jepang naik 1,8%. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,4%. Sementara Australia, indeks Standard &Poor’s (S&P)/ASX 200 naik 1,7% di Sydney. Indeks Hang Seng, Hong Kong naik 0,4% dan indeks komposit Shanghai di China naik 0,1%. Indeks berjangka S&P 500 turun 0,1%.

Selain itu, sentimen positif lain terjadi adalah setelah Menteri Keuangan AS, Timothy F. Geithner mengatakan bahwa tidak ada pilhan bagi negara utama Eropa untuk membiarkan institusi mereka berada dalam risiko. Pada pertemuan dengan para menteri Uni Eropa pada Jumat (16/9) hari ini, Geithner akan meminta pemerintah Eropa untuk meningkatkan upaya melawan krisis.

Westpac Banking Corp., naik 2,6% di Sydney. Samsung Electronics Co., yang mendapat 20% dari pendapatan dari Eropa, naik 2,4% di Seoul, S-Oil Corp., kilang dan penjualan petroleum, naik 12%. Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., naik 2,8% karena meningkatnya harga chip. Esprit Holdings Ltd., perusahaan pakaian terbesar yang terdaftar di Hong Kong, naik 9,7% setelah melaporkan laba bersih meningkat 98%. ardi/bani

TABEL

IHSG Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Jumat (9/9)-> 3.998,50 turun 6,89 poin (0,17%) Rp 8.575

Senin (12/9) -> 3.896,12 turun 102,38 poin (2,56%) Rp 8.603

Selasa(13/9)-> 3.874,78 turun 21,34 poin (0,55%) Rp 8.630

Rabu (14/9)-> 3.799,04 turun 75,75 poin (1,95%) Rp 8.730

Kamis (15/9)-> 3.774,33 turun 24,70 poin (0,66%) Rp 8.780

Related posts