Akhir Pekan, IHSG Masih Sanggup Menguat

NERACA

Jakarta – Di dorong aksi beli investor, penutupan perdagangan saham Kamis sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tutup menguat 20,266 poin (0,37%) ke level 5.439,832. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat 3,541 poin (0,38%) ke level 945,053.

Direktur Pengembangan Pasar Modal BEI, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kondisi pasar modal Indonesia masih cukup stabil meski dibayangi sentimen negatif yang beredar saat ini salah satunya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,”Pergerakan IHSG memang sedang anomali, namun kami tetap yakin pasar modal Indonesia tetap akan positif," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut dia, orientasi investor di pasar modal yang bersifat jangka panjang menjadi salah satu penopang bagi kinerja industri ke depannya. Di sisi lain, aliran dana asing di pasar modal juga masih cukup tinggi. Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pelaku pasar kembali melakukan akumulasi beli saham pasca koreksi IHSG BEI pada perdagangan kemarin (Rabu, 11/3).

Kata Yuganur, aksi pelaku pasar itu seiring dengan ekspektasi kinerja emiten pada kuartal I 2015 membukukan hasil positif serta potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) menyusul tingkat inflasi yang masih dapat dikendalikan. Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan masih tren menguat.

Transaksi investor asing hingga Kamis sore terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net buy) senilai Rp 138,143 miliar di seluruh pasar. Saham-saham konsumer naik paling tinggi. Delapan indeks sektoral ditutup positif, hanya dua yang negatif yaitu agrikultur dan industri dasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 211.123 kali dengan volume 5,775 miliar lembar saham senilai Rp 5,386 triliun. Sebanyak 156 saham naik, 109 turun, dan 112 saham stagnan. Rata-rata bursa di Asia menutup perdagangan dengan positif. Hanya bursa saham Singapura yang ketinggalan di zona merah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 1.150 ke Rp 27.150, Unilever (UNVR) naik Rp 1.075 ke Rp 39.825, Indo Tambangraya (ITMR) naik Rp 575 ke Rp 16.950, dan Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 500 ke Rp 9.975. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 1.500 ke Rp 145.000, Indocement (INTP) turun Rp 500 ke Rp 22.500, Mandom (TCID) turun Rp 325 ke Rp 18.475, dan Plaza Indonesia (PLIN) turun Rp 305 ke Rp 2.595.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup naik tipis 7,892 poin (0,15%) ke level 5.427,458. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 1,876 poin (0,20%) ke level 943,388. Investor asing masih terus melepas saham, membuat laju penguatan IHSG jadi tersendat. Indeks masih bertahan di zona hijau berkat aksi beli selektif investor domestik.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 122.648 kali dengan volume 3,268 miliar lembar saham senilai Rp 2,682 triliun. Sebanyak 133 saham naik, 108 turun, dan 99 saham stagnan. Rata-rata bursa regional bergerak di zona hijau hingga siang. Aksi jual yang kemarin terjadi sudah mereda.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 1.200 ke Rp 27.200, Unilever (UNVR) naik Rp 675 ke Rp 39.425, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 250 ke Rp 9.725, dan Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 14.550. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 1.500 ke Rp 145.000, Plaza Indonesia (PLIN) turun Rp 600 ke Rp 2.300, Indocement (INTP) turun Rp 425 ke Rp 22.575, dan Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 250 ke Rp 11.475.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah tipis sebesar 1,37 poin atau 0,03% menjadi 5.418,19. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 0,34 poin (0,04%) menjadi 941,16,”Nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tren tertekan pada beberapa hari terakhir, menjadi salah satu hambatan bagi laju IHSG. Namun, jika rupiah kembali stabil diperkirakan bisa menjadi sentimen positif bagi pasar saham," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Dia mengharapkan, ada aksi beli kembali oleh pelaku pasar saham setelah IHSG BEI mengalami koreksi pada hari sebelumnya sehingga pasar saham domestik kembali positif. Secara teknikal, lanjut dia, belum ditembusnya level psikologis untuk batas bawah di 5.400 poin merupakan sinyal positif bagi pergerakan IHSG BEI ke depannya,”Sentimen fundamental untuk pasar saham cenderung negatif menyusul rencana bank sentral AS (the Fed) akan menaikan suku bunga acuan (Fed fund rate). Namun diharapkan sentimen fundamental itu tereliminir oleh faktor teknikal IHSG," katanya.

Sementara itu, Managing Director PT Reliance Capital Management, Jurgan Usman mengaku optimistis terhadap kinerja pasar modal Indonesia pada tahun ini masih dapat membukukan kinerja positif seiring dengan fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat,”Skenario terbaik bagi ekonomi Indonesia pada tahun ini bisa tumbuh hingga mencapai 6,5%, lebih tinggi dibandingkan asumsi makro dalam APBNP 2015 sekitar 5,7%," katanya.

Dia mengatakan, ekspektasi positif pada perekonomian Indonesia itu pada akhirnya akan diikuti oleh laju indeks BEI yang diperkirakan bisa mencapai ke level 5.800 poin pada tahun ini. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 179,01 poin (0,75%) ke 23.717,97, indeks Bursa Nikkei naik 58,41 poin (0,31%) ke 18.723,52, dan Straits Times melemah 19,67 poin (0,58%) ke posisi 3.378,59. (bani)

Related posts