Peluang dari Krisis Global

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Ketidakjelasan pemulihan ekonomi global dari krisis Amerika dan Eropa memberikan sentimen negatif bagi pergerakan indeks Bursa Efek Indonesia. Lambat tapi pasti, indeks mulai menjauh dari angka 4000 yang pernah di raih pada kuartal kedua tahun ini. Terlebih, pelemahan nilai tukar rupiah yang dibuka di posisi Rp 8.660 per US$ dan ditutup di Rp 8.895 per dolar AS sangat ampuh menggoyahkan pergerakan indeks kemarin. Alhasil, perdagangan saham kemarin, indeks ditutup terkoreksi 75,746 poin (1,96%) ke level 3.799,037. Sementara Indeks LQ 45 ambruk 15,610 poin (2,30%) ke level 664,934.

Ribut-ribut soal krisis ekonomi global, ternyata tidak memberikan imbas yang berarti bagi industri sektor riil dan bahkan ibu rumah tangga pun tidak terlalu ambil pusing soal krisis Yunani, gagal banyar bank Eropa ataupun utang Amerika yang bejibun hingga harga saham dalam negeri yang makin anjlok. Apa yang dikeluhkan para pelaku pasar modal belum semuanya menggambar keterancaman ekonomi Indonesia sebenarnya.

Maka tak ayal, perputaran roda ekonomi di pusat hingga di daerah belum terpengaruh signifikan. Ini artinya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan bahkan makin banyak saja para pelaku investor asing lari dari negaranya yang terancam krisis untuk menaruh dananya ke Indonesia yang terbilang aman. Meski bangsa ini sempat geram, terkait rencana produsen smartphone Blackberry yang lebih memilih Malaysia untuk membangun pabrik ketimbang Indonesia.

Apa yang disampaikan para analis dan pengamat ekonomi akan kenyakinan bila krisis ekonomi global tidak akan memberikan dampak signifikan bagi Indonesia ada benarnya. Pasalnya, sebagian besar pertumbuhan ekonomi dalam negeri lebih ditopang konsumsi dalam negeri dan bukan dari ekspor luar negeri. Kondisi ini bertolak belakang 100% bila dibandingkan dengan industri pasar modal yang sebagian besar masih didominasi asing, tidak usah heran jika terjadi krisis ekonomi global, yang bakal terkena lebih awal adalah pelaku pasar.

Seandainya, bila investor pasar modal didominasi dari dalam negeri mungkin lain ceritanya seperti saat ini. Namun apa yang disajikan bila perekonomian bangsa ini masih kokoh, bukan berarti Indonesia luput begitu saja dari ancaman dan terbuai dengan berita positif hingga tidak waspada. Sikap waspada dan cekatan dalam menghadapi kemungkinan yang terjadi dari krisis ekonomi global menjadi kunci utama agar tidak terpuruk lebih dalam.

Pengalaman krisis ekonomi global 1998 dan 2008 menjadi referensi berharga bagi pemerintah dalam mengambil langkah antisipasi ancaman krisis ekonomi agar tidak ada lagi bank-bank yang harus terpaksa ditutup karena sistemik. Tetapi apa yang terjadi pada kasus bank Century dan beberapa manajer investasi boleh dibilang bukan seluruhnya dampak krisis ekonomi, tetapi lebih karena kejahatan perbankan dan pasar modal.

Terlepas dari berbagai faktor, bagaimanapun juga perekonomian Indonesia sangat terintegrasi dengan ekonomi global, khususnya sektor finansial. Namun sebaliknya, disaat derasnya dana asing yang masuk ke Indonesia harus segera dimanfaatkan peluang tersebut untuk menggerakkan ekonomi sektor riil dan bukan parkir sementara di pasar saham atau di bank hanya untuk mencari untung sesaat.

Related posts