Bappebti Ingin Komoditas SRG Lebih Berdaya Saing - Perdagangan Berjangka

NERACA

Jakarta - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) berharap agar komoditas-komoditas yang masuk dalam Sistem Resi Gudang (SRG) bisa berdaya saing. Pasalnya dengan meningkatkan daya saing maka komoditas yang disimpan di gudang akan memiliki nilai yang lebih. Hal itu seperti diungkapkan Kepada Bappebti Sutriono Edi saat ditemui di kantornya, Rabu (4/2).

“Kami sedang menyiapkan cara agar barang-barang yang disimpan menerapkan sistem resi gudang bisa mempunyai nilai tambah. Misalnya nantinya yang disimpan bukan lagi gabah kering melainkan sudah menjadi beras. Bahkan kalau perlu sudah dikemas dengan kemasan yang bagus, terdapat merek khusus di beras tersebut dan ada kandungan nutrisinya,” jelasnya.

Ia mengatakan dengan menerapkan hal itu maka nilai jual dari beras yang disimpan jauh lebih tinggi. Bahkan, kata dia, jika memang telah berasnya sudah mempunyai brand maka bisa saja beras itu masuk ke pasar modern atau di ekspor. “Kalau gabah saja itukan nilai tambahnya kurang akan tetapi jika sudah menggunakan kemasan lalu mempunyai brand maka nilai jualnya akan semakin tinggi,” kata Edi.

Namun begitu, Sutriono menegaskan pihaknya tidak tinggal diam dalam upaya meningkatkan daya saing dari komoditas yang akan masuk ke sistem resi gudang. Pihaknya yang juga berkerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) akan menyiapkan delapan truk dan delapan alat penggiling gabah atau Rice Milling Unit (RMU). “Kita akan coba di beberapa daerah agar bisa mendapatkan bantuan fasilitas seperti truk dan MRU,” katanya.

Sutriono mengatakan kalau memang dengan bantuan yang diberikan ini berhasil dan memberikan nilai tambah kepada para petani maka tahun depan bisa berjalan lebih baik lagi. Sekedar informasi, delapan unit MRU dan truk itu diberikan kepada Cianjur, Madiun, Kerawang, Lebak Banten, dan Gerobogan.

Lebih jauh lagi, Sutriono mengatakan dalam sistem logistik nasional, SRG dapat menjadi salah satu instrumen pengukuran ketersediaan stok nasional khususnya terkait dengan bahan pangan seperti beras, gabah dan jagung. Hal ini dimungkinkan karena data ketersediaan stok setiap gudang SRG terintegrasi melalui suatu Sistem Informasi Resi Gudang (Is Ware).

“SRG berperan penting sebagai sarana penyimpanan logistik dalam proses produksi, distribusi dan konsumsi yang dapat mewujudkan ketahan pangan. Selama ini SRG dijadikan instrumen pemasaran untuk memperoleh harga terbaik dengan cara menyimpan komoditas di gudang saat panen raya dan harga cenderung rendah. Dengan mekanismen ini maka petani dapat memperoleh harga terbaik dan meningkatkan pendapatannya,” tukasnya.

Di tempat yang sama, Pengamat Pertanian dari Universitas Lampung Bustanul Airifin mengatakan bahwa Sistem Resi Gudang (SRG) amat sangat dibutuhkan disaat harga komoditas sedang berada dititik terendah. Sama seperti yang terjadi saat ini dimana harga beberapa komoditas mengalami penurunan lantara harga minyak dunia yang juga mengalami penurunan yang cukup drastis dalam 3-4 bulan terakhir.

“Disaat harga komoditasnya sedang turun akan tetapi produksinya juga naik, salah satu contohnya adalah karet yang harga di lapangannya mencapai Rp7.000 dan itu merupakan pukulan terbesar bagi petani karet. Akan tetapi, dengan harga seperti itu para petani tetap menjualnya padahal ada SRG yang bisa dimanfaatkan. Hanya menunggu sampai harga karet kembali naik nanti tinggal dijual kembali,” katanya.

Bustanul berharap agar pemerintah daerah dan Bappebti bisa mendorong dan mensosialisasikan kepada para petani untuk memanfaatkan sistem tersebut, terlebih untuk komoditas selain beras. “Pemerintah sejauh ini fokus untuk swasembada padahal dengan SRG bisa menjadi ketersediaan stok. Dan bagaimana agar pemerintah daerah mendukung program ini. Jadi SRG ini jangan hanya dianggap sebagai program Bappebti melainkan juga upaya untuk memberikan perlindungan nilai bagi petani,” katanya.

Perkembangan SRG

Sejak 2009 sampai 2013, Kemendag telah membangun gudang SRG baik menggunakan dana stimulus fiskal, APBN-P dan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebanyak 98 gudang. Pada 2014, pembangunan gudang SRG yang dialokasikan dari DAK sejumlah 19 gudang atau bertambah sebnayk 2 gudang dari tahun sebelumnya. Sehingga gudang yang tersedia saat ini berjumlah 117 gudang. “Untuk tahun ini, kita harapkan bisa membangun 3 gudang lagi,” ungkap Sutriono.

Selama periode 2008 sampai dengan 2014, telah diterbitkan 1.873 resi gudang dengan volume barang 72.508,15 ton yang terdiri dari 62.016 ton gabah, 4.628 ton jagung, 5.417 ton beras, 25 ton kopi, 420 ton rumput laut. Dan total nilainya mencapai Rp369,3 miliar. Dari jumlah tersebut, telah digunakan sebanyak 1.548 resi gudang dengan nilai mencapai Rp230 miliar.

Untuk di 2014 saja, resi gudang yang sudah diterbitkan mencapai 605 resi dengan volume barang 21.649 ton dan nilai transaksi Rp116 miliar. Jika dibandingkan dengan 2013, maka resi gudang yang diterbitkan mengalami pertumbuhan sebesar 5% dengan volume barang yang juga tumbuh 8%. begitu pula nilai transaksi SRG meningkat sebesar 9% dari tahun sebelumnya sedangkan nilai pembiayaan di 2014 juga menunjukan peningkatan sebesar 12% dari tahun lalu.

BERITA TERKAIT

Regulasi Kondusif Dorong Peningkatan Ekspor Komoditas Pertanian RI

  NERACA Jakarta - Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kinerja ekspor pertanian membaik dalam…

Menkeu Ingin Porsi Asing di SBN Turun

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menginginkan basis investor domestik dalam kepemilikan Surat Berharga…

Startup Didorong Usung Ide Bisnis Lebih Beragam

NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong para usaha rintisan atau startup mampu mengusung ide bisnis lebih beragam sebagai…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perjanjian Dagang RI-Mozambik Siap Ditandatangani

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian dagang atau Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia-Mozambik selesai dibahas, selanjutnya tim teknik kedua negara…

Pelaku Usaha Sarang Burung Walet Harus Tingkatkan Kualitas

NERACA Jakarta – Para pelaku usaha sarang burung walet di Jawa Tengah diajak untuk meningkatkan kualitas produksi agar bisa mengambil…

Indonesia Kehilangan Pasar Akibat Tertinggal Jajaki Perjanjian

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat…