Hati-hati Kontraksi Ekonomi - IMF KOREKSI PERTUMBUHAN EKONOMI GLOBAL

Jakarta – Kalangan pengamat mengingatkan pemerintahan Jokowi-JK agar mengantisipasi kondisi ekonomi global 2015 yang tidak menentu seperti dilansir Dana Moneter Internasional (IMF). Hal ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap gejolak suku bunga dan terus berlanjutnya melemahnya harga minyak dunia belakangan ini.

NERACA

Pengamat ekonomi Hendri Saparini mengatakan, melambatnya laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia dipengaruhi oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi tersebut mengakibatkan investasi dan ekspor Indonesia menjadi lemah.

Lemahnya ekspor berpengaruh pada kecilnya kontribusi terhadap penyempitan defisit neraca berjalan. “Defisit neraca berjalan turun menjadi US$ 6,8 miliiar atau 3,1 % dari PDB kuartal ketiga 2014 dan lebih rendah sebesar 0,8 poin presentase dari PDB dibanding laju tahun lalu. Penurunan ini secara bertahap akan terus berlangsung,” ujarnya kepada Neraca, Selasa (20/1).

Kondisi yang sama, menurut dia, juga terjadi pada sektor fiskal dengan pertumbuhan penerimaan tetap yang relatif lemah, sementara belanja modal terkontraksi. Pertumbuhan penerimaan pada periode Januari-Oktober 2014 sebesar 10,8% terus berada di bawah pertumbuhan PDB nominal 11,8 % pada kuartal 1 hingga kuartal 3 tahun ini.

Sementara pada sisi pengeluaran, laju pencairan anggaran secara keseluruhan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya karena dorongan peningkatan belanja subsidi energi.

Hendri juga menjelaskan bahwa adanya penyesuaian harga BBM bersubsidi akan menyebabkan peningkatan inflasi. Kendati begitu dampak terhadap inflasi diperkirakan hanya akan bersifat sementara. Pada 2015 inflasi akan berada di angka 7,5 % dan akan mengalami penurunan apabila tidak terjadi gejolak ekonomi lainnya. “Memang kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan menyebabkan inflasi. Namun di sisi lain menghasilkan penghematan fiskal yang sangat penting yakni sebesar Rp. 100 triliun dari penyesuaian harga BBM tersebut,” ujarnya.

Pertumbuhan Global Menurun

Menyusul terus merosotnya harga minyak dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global tahun 2015-2016. Pemotongan proyeksi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi di Tiongkok, Rusia, kawasan Eropa, Jepang, dan negara produsen minyak lainnya.

Menurut data World Economic Outlook (WEO) Update yang dirilis kemarin, IMF memproyeksikan ekonomi dunia akan tumbuh sebesar 3,5% tahun ini. Pada 2016 diproyeksikan tumbuh 3,7%. Angka itu menurun, dibanding proyeksi sebelumnya (Okt. 2014) sebesar 3,8% (2015) dan 4% (2016).

"Pertumbuhan global akan tertekan harga minyak yang lebih rendah," menurut laporan IMF tersebut. Sebelumnya, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan global. Bank Dunia memprediksi, pertumbuhan ekonomi 2015 hanya 3%. Padahal, pada Juni 2014 ekonomi global diprediksi akan tumbuh 3,4%. Koreksi itu didasarkan bahwa ekonomi dunia terlalu tergantung pada mesin tunggal pemulihan yaitu membaiknya perekonomian Amerika Serikat.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan mencapai 3,6% tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 3,1%. Sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan mencapai 6,8%, Rusia diperkirakan mengalami kontraksi 3% dari sebelumnya diperkirakan tumbuh 0,5%, serta Jepang dan zona euro diperkirakan tumbuh hanya 0,6% dan 1,2% tahun ini.

Pengamat ekonomi yang juga mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli mengatakan, dengan jatuhnya harga minyak dunia maka pemerintah mempunyai ruang fiskal yang cukup lebar dan bisa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur. “Manfaatkan dana yang ada dulu, jangan langsung mau menerbitkan surat utang baru lagi,” ujarnya.

Menurut dia, ekonomi global yang melambat juga akan berimbas terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Terlebih negara tujuan ekspor Indonesia yang mengalami pelemahan seperti AS dan Tiongkok. “Sedikit banyak akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Misalnya saja permintaan ekspor kita cenderung melemah sementara impor tetap tinggi. Akibatnya neraca perdagangan akan kembali defisit,” tuturnya.

Kondisi ekonomi global yang sedang lemah tersebut, kata Rizal, harus bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi di Indonesia. Salah satunya dengan memperbesar investasi khususnya dari investor dalam negeri. “Kalau investasinya bertambah maka aka nada penyerapan tenaga kerja dan itu akan berakibat kepada daya beli masyarakat yang menjadi tumpuan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa semakin membaik,” ujarnya.

Di sisi lain, pengamat ekonomiUITelisa Aulia Falianty mengatakan meski Indonesia kini tengah gencar membangun infrastruktur, sudah tidak perlu lagi untuk menambah utang, mengingat adanya penurunan harga minyak dunia sudah memberikan ruang fiskal untuk pembangunan sekitar Rp 230 trilliun. “Sudah tidak perlu lagi menambah utang, manfaatkan saja yang ada sekarang,” katanya.

Karena, melihat yang sudah-sudah selama ini anggaran untuk pembangunan belanja modal (infrastruktur) juga minim penyerapan, jika ditambah apalagi dana itu dari pinjaman akan meningkatkan resiko. “Manfaatkan saja anggaran yang ada sekarang, karena jika dipaksakan juga hasilnya tidak optimal.

Harusnya, menurut Telisa, lihat saja perkembangan selama setahun ini, jika memang penyerapan anggaran bagus guna belanja modal baru tahun berikutnya ditambah. Tapi jika tidak dikhawatirkan semakin banyaknya anggaran tidak produktif dan digunakan untuk hal yang konsumtif. “Jangan sampai anggaran dari penjualan SUN dan utang dari ADB malah untuk hal yang konsumtif, bukan yang produktif, itu yang sangat kita khawatirkan,” ujarnya.

Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi global berjalan melambat, perekonomian pada 2015 ini akan semakin membaik. Dengan neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang diprediksikan juga akan membaik yang akan berdampak positif pada nilai tukar rupiah maupun pasar modal. Sebelumnya, permintaan domestik yang kuat telah memicu penaikan impor, sedangkan kondisi global yang lesu membuat ekspor Indonesia tertekan. Akibatnya, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan. Namun kondisi defisit neraca perdagangan saat ini cenderung menurun.

Purbaya pun mengungkapkan fundamental ekonomi akan membaik dengan adanya penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan keadaan politik yang sudah stabil. Kinerja perekonomian Indonesia relatif cukup bagus di tengah tantangan ekonomi global dan domestik. Hal tersebut dilakukan dengan menjaga stabilitas makroekonomi dan proses penyesuaian ke arah yang lebih sehat.

"Ke depan, perekonomian Indonesia diperkirakan semakin baik ditopang oleh ekonomi global dan kuatnya reformasi struktural dalam fundamental ekonomi nasional," tandas dia.

Meski demikian, Purbaya menilai, meski The Fed akan menaikkan suku bunganya, hal tersebut tidak perlu dibalas dengan menaikkan BI Rate mengingat kondisi perekonomian di Indonesia dan Amerika Serikat jauh berbeda, jadinya tidak perlu serta-merta menaikkan suku bunga. Bahkan, perekonomian Indonesia yang tengah melambat justru harus direspon oleh BI dengan menurunkan suku bunga acuannya.

“Harus cerdas dalam mengambil tindakan ke depan. Kalau sampai bunga dinaikkan, justru pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah bakal semakin terganggu," kata dia.

Menurut dia, Indonesia yang masih punya problem inflasi, defisit transaksi berjalan dan utang luar negeri, Bank Indonesia (BI) harusnya secara aktif hadir di pasar valas dan pasar surat berharga negara (SBN) untuk stabilisasi nilai rupiah. Kemudian pemerintah harus mengutamakan penerbitan surat utang negara (SUN) berdenominasi mata uang asing di awal tahun sebagai antisipasi kebijakan normalisasi ekonomi AS.

Purbaya menjelaskan krisis global tidak memicu penjualan surat utang besar-besaran. Aksi jual surat utang negara tersebut diyakini tidak sampai membebani bunga pemerintah. Apalagi sampai mengganggu batas toleransi defisit produk domestik bruto (PDB).

"Bunga yang ditanggung pemerintah jika terjadi pelepasan di pasar sekunder dinilai masih lebih rendah dibanding pemerintah menerbitkan perdana di pasar primer. Melihat kondisi tersebut kata dia, sudah selayaknya BI melakukan fungsi stabilisasi bonds, seperti yang dilakukan bank sentral di AS dan Jepang," ujarnya. bari/iwan/agus/mohar

Related posts