Berbagai Jurus Stabilisasi Harga Kebutuhan Pokok - Perdagangan Produk Pangan

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, menyatakan bahwa stabilitas harga bahan kebutuhan pokok (bapok) pada 2014 merupakan yang paling baik sejak 2010, di mana angka koefisien variasi kebutuhan pokok nasional tercatat sebesar 2,7%.

"Mengenai stabiliasai harga bahan pokok, pada 2014 merupakan yang paling baik sejak 2010, hal itu diindikasikan oleh angka koefisien variasi harga barang kebutuhan pokok secara nasional hanya sebesar 2,7 persen," kata Rachmat, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, dikutip dari laman Antara, Rabu (7/1).

Rachmat mengatakan, namun stabilitas harga tersebut tidak termasuk komoditi cabai di mana harganya mengalami kenaikan sangat signifikan akibat menurunnya pasokan ke pasar dan berkurangnya panen lebih dari 60 persen.

"Namun harga cabai saat ini sudah mulai turun 10-12 persen karena adanya peningkatan pasokan dari sentra produksi seperti Tasikmalaya, Sukabumi, Magelang, Wates, Muntilan dan Banyuwangi," kata Rachmat.

Terkait faktor yang mempengaruhi dan mendorong stabilitas harga pada 2014, Rachmat menyatakan ada faktor yang mendorongnya yakni suplai yang cukup ke pasar, iklim yang cukup berpihak, distribusi yang terkelola dengan baik terutama pada bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri dan terutama pengelolaan baik terkait pembatasan subsidi bahan bakar minyak.

"Kementerian Perdagangan telah melakukan upaya stabilisasi dengan monitoring harga secara berkala, intervensi pasar melalui operasi pasar, pengelolaan impor pangan, serta menjaga pasokan dan distribusi bahan pangan pokok," kata Rachmat.

Pada 2015, lanjut Rachmat, stabilitas harga pangan akan terjaga pada tingkat koefisien variasi harga komoditi tidak lebih dari 3,5 persen, didukung dari sisi pasokan atau hulu pada tahun 2015 yang diperkirakan akan cukup baik.

"Kementerian Pertanian punya sasaran pertumbuhan produksi tanaman pangan sekitar 2,5 persen. Dalam analisis neraca pangan tahunan beberapa bahan pangan dapat dipenuhi dari dalam negeri seperti beras, jagung, cabai, minyak goreng, dan telur ayam," kata Rachmat.

Selain itu, lanjut Rachmat, kebijakan pemerintah terkait pengembangan sarana perdagngan di tahun 2015 akan sangat berperan dalam kelancaran distribusi dan stabilisatsi harga pangan, termasuk pembangunan dan revitalisasi pasar rakyat.

Di pihak lain, rencana pemerintah untuk mengembalikan fungsi Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan membeli hasil produksi petani diharapkan bisa mendorong stabilisasi harga pangan pokok. “Presiden berharap peran Bulog (sebagai-red) penyangga disamping fungsi komersial, (ketika ada-red) penghapusan subsidi pupuk (ke petani -red) tapi pada akhirnya pemerintah beli ke petani,” kata ekonom Aviliani, seperti dikutip Antara, Selasa (6/1).

Aviliani mengatakan dengan peran Bulog untuk menjaga stabilitas harga pangan pokok, bila fungsi itu bisa dilakukan dengan baik, maka harga pangan pokok dan barang keutuhan lainnya tidak akan terlalu terpengaruh bila harga bahan bakar minyak turun atau naik.

“(Harga-red) premium ikuti pasar. Yang harus dijaga pemerintah ketika harga bbm naik, harga lain naik, ketika turun tidak turun, dengan fungsi Bulog menjaga pangan pokok, maka pangan pokok aman ketika naik turun harga bbm sudah biasa. Pembangunan infrastruktur perlu dilakukan karena setiap daerah mempunyai permasalahan inflasi yang beda terkait konektivitas,” katanya.

Sementara itu, ekonom Sri Adiningsih, mengatakan ide pemerintah untuk mendorong BUMN dan menjadikannya motor penggerak perekonomian cukup baik, mengingat Indonesia memiliki ratusan BUMN dan bila berkaca ke Tiongkok, salah satu penopang pertumbuhan ekonomi dan pembangunannya ada BUMN Tiongkok.

“Penghematan APBN, subsidi BBM terutama membangun sektor ekonomi yang produktif, yang menarik adalah keinginan presiden gunakan BUMN sebagai motor pembangunan Indonesia, kita punya ratusan BUMN, Indonesia bisa lakukan itu, antara lain kurangi deviden dan menambah penyertaan modal pemerintah,” kata Sri Adiningsih.

Ia menambahkan, hal yang terpenting adalah menjaga harga kebutuhan pokok volatilitasnya tidak tinggi, ini kemudian presiden mendorong Bulog ke fungsi menjaga barang kebutuhan pokok. “Memang kalau minyak mentah naik sampai 100 dolar, saya kira pemerintah perlu evaluasi kebijakan,” ucapnya.

Sementara itu Ketua ISEI Muliaman Hadad mengatakan dalam pertemuan dengan Presiden, pengurus ISEI berdiskusi dan menyampaikan sejumlah pandangan mengenai berbagai sektor ekonomi.

Related posts