Perbaiki Kapasitas Nasional! - DUKUNG EKONOMI INDONESIA STABIL

Jakarta – Meski harga minyak mentah dunia yang saat ini turun di bawah US$ 55 per barel ikut memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia, pemerintah harus terus konsisten membenahi birokrasi perizinan dan pembangunan infrastruktur di tengah sejumlah negara tetangga berlomba meningkatkan daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 .

NERACA

Menurut guru besar ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika, prospek ekonomi Indonesia pada 2015 adalah biasa saja dan belum mengalami perubahan, yaitu bercirikan dominasi kontribusi sektor konsumsi dari sisi penggunaan. Sedangkan, dari lapangan usaha, pertumbuhan sektor non-tradeable masih dominan dibandingkan sektor tradeable.

"Dominasi sektor konsumsi bukan merupakan kondisi ideal, karena apabila tidak diimbangi dengan kapasitas produksi nasional akan membuat kebutuhan permintaan bergantung pada impor, padahal itu bertentangan dengan cita-cita pemerintahan baru yaitu kemandirian ekonomi," ujarnya saat dihubungi Neraca, Senin (5/12).

Erani mengatakan, berbagai proyeksi maupun saran tersebut, memperlihatkan masa depan pertumbuhan ekonomi bisa sedikit lebih cerah, setelah dalam beberapa tahun terakhir turun dari kisaran enam persen, meskipun banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

"Tentunya upaya tersebut tidak bisa dilalui dengan mudah, karena meskipun fundamental ekonomi relatif stabil, pemerintah masih menghadapi ketidakpastian perekonomian global serta gejolak perpolitikan nasional yang berpotensi mengganggu momentum pertumbuhan,"paparnya.

Namun, menurut dia, dengan upaya kerja keras, maupun konsisten melaksanakan reformasi struktural, sangat mungkin target pertumbuhan 7% bisa tercapai lebih cepat, apalagi tim ekonomi dalam kabinet kerja memiliki semangat dalam membangun negeri

Erani juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2015 hanya berada pada kisaran 5,3 -5,6 % atau lebih rendah dari perkiraan pemerintah 5,8 % "Pertimbangan ini karena ada faktor-faktor yang menjadi penekan, seperti ekspor yang masih belum bisa didorong bukan karena semata kondisi global, tapi struktur industri kita yang rentan," katanya.

Erani mengatakan pemerintah bisa saja optimistis angka 5,8% dapat tercapai, karena telah tersedia ruang fiskal untuk pembangunan ekonomi melalui pembenahan infrastruktur dan perlindungan sosial, namun dampaknya belum terasa pada tahun 2015.

"Masih ada time lag (jeda waktu) ekonomi, misalnya, infrastruktur dibangun Januari, baru selesai pada akhir tahun, dan awal tahun 2016 baru bisa dinikmati, jadi faktor penyumbat ekonomi belum bisa diperbaiki hingga tahun depan," ujarnya.

Hambatan Suku Bunga

Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, prospek ekonomi Indonesia di tahun ini akan mengalami banyak tantangan baik itu internal maupun eksternal. Faktor eksternal, kata dia, masih akan banyak mempengaruhi perekonomian Indonesia salah satunya adalah isu penundaan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk melakukan tappering off-nya. Tentunya, kondisi ini masih akan membuat ekonomi Indonesia tidak stabil.

“Seharusnya Oktober 2014 sudah terjadi tappering off. Namun, masih terjadi penunda-nundaan. Diperkirakan, tappering off akan mulai diberlakukan pada Juni 2015 maka konsekuensinya akan diterima oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sehingga diperkirakan ekonomi Indonesia akan kembali stabil pasca kebijakan tersebut,” jelasnya.

Hal lainnya yang akan memengaruhi ekonomi Indonesia tahun depan, menurut dia, adalah suku bunga. Pemerintah dan BI perlu mewaspadai apabila dalam jangka waktu tertentu The Fed melakukan tappering off-nya. “Jadi, langkah BI menaikkan suku bunganya terlalu cepat, karena begitu tappering off dilakukan, BI kembali menaikkan suku bunga juga. Maka hal itu akan membuat sektor riil semakin terpukul,” tambahnya.

Selain itu, ada potensi gonjangan inflasi. Menurut Avi, belajar dari tahun 2005, 2008, dan 2013 tren inflasi akan meningkat dalam tiga bulan awal setiap tahun. Setelah itu, baru akan normal lagi. Untuk itu, ia menilai keputusan Presiden Joko Widodo menaikkan BBM saat ini sudah tepat. “Kenaikan dimulai pada November dan pada 1 Januari pemerintah kembali menurunkan. Maka saya perkirakan pada bulan Maret, inflasi akan stabil,” jelasnya.

Guru besar ekonomi Unpad Prof Dr Ina Primianamengatakan, tantangan ekonomi Indonesia di 2015 sangat berat baik dari sisi eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal adanya perbaikan ekonomi negara maju, serta rencana The Fed menaikkan suku bunga pada April tahun ini akan mengakibatkan aliran dana asing bakal banyak keluar dari dalam negeri sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia.

Dari sisi internal, seperti minimnya infrastruktur akan masih menjadi kendala investor masuk menanamkan investasinya, “2015 Indonesia di hadapi tantangan berat, akan sangat sulit mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi,” katanya.

Di sisi lain, pada akhir 2015 akan diberlakukan adanya pasar bebas ASEAN (MEA) namun demikian secara kesiapan masih sangat minim, namun begitu konsekuensinya Indonesia siap tidak siap harus siap menghadapi perdagangan bebas di tingkat ASEAN. “Meski harus di hadapai, namun secara keseluruhan Indonesia masih sangat belum siap menghadapi MEA akhir 2015, Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk menyiapkannya kurang dari satu tahun ini,” ujarnya.

Oleh karenanya, dengan pekerjaan rumah (PR) yang banyak ini akan sangat menyulitkan negeri ini bisa mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi di tahun 2015. Dia memproyeksikan pertumbuhan hanya berkisar di level 5,3%. “Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8%, dengan segudang permasalahan yang ada masih akan terasa sulit bisa mengejar sebesar itu,” tegasnya.

Pengamat ekonomi UI Eugenia Mardanugraha mengatakan, perekonomian Indonesia di tahun 2015 akan menghadapi berbagai tantangan, khususnya menghadapi MEA. Dalam sisi makro ekonomi, nilai cadangan devisa Indonesia sangat tipis sehingga mengakibatkan fluktuasi nilai tukar rupiah yang dinilai tidak bagus untuk bisnis, apalagi menjalankan bisnis menghadapi MEA nanti.

“Saya memandang MEA lebih sebagai ancaman dan bukanlah peluang bagi Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia sangat rentan atau belum siap menghadapi MEA ini, namun dalih ini dipatahkan dengan anggapan bahwa Indonesia mempunyai penduduk terbesar di ASEAN sehingga mempunyai ekonomi yang kuat, padahal Indonesia masih menghadapi kerentanan ekonomi,” kata dia.

Menurut dia, Indonesia belum siap menghadapi MEA ini dikarenakan belum adanya tindakan yang nyata dalam menumbuhkan perekonomian di dalam negeri. Memang benar selama ini banyak pertemuan antara negara ASEAN, namun hal itu hanya sekedar pertemuan sedangkan Indonesia belum memperbaiki perekonomian dalam negeri.

“Menghadapi MEA ini, didalam negeri belum dibenahi, seperti contoh kecil yaitu pembenahan sumber daya manusia (SDM) tenaga kerja Indonesia yang belum memiliki standarisasi yang mencukupi dalam mengahdapi MEA ini,” ujar Eugenia. iwan/bari/agus/mohar

Related posts