Turbulensi di Pasar Modal Masih Berlanjut

Selasa, 23/12/2014

Pengantar:

Menjelang penutupan akhir tahun 2014, mulai hari ini hingga akhir Desember, Redaksi Neraca menampilkan tulisan berbagai sektor ekonomi mikro dan makro, yang merupakan gambaran selama tahun ini dan prospeknya pada 2015.

Jakarta – Menjelang tutup tahun 2014, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di pasar modal dihantui rumor negatif terkait rencana Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang akan menaikan suku bunga bank sehingga berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang harus bertekuk lutut hingga nyaris tembus Rp 13.000 per dollar AS. Alhasil, keoknya rupiah juga memberikan sentiment negatif terhadap IHSG yang sempat ditutup amblas 82,404 poin (1,61%) ke level 5.026,028.

Koreksi yang terjadi pada IHSG dan nilai tukar rupiah, tidak hanya dialami Indonesia. Namun juga terjadi di negara lainnya, seperti Thailand, Malaysia atau Filipina. Namun demikian, kepanikan investor di pasar modal diyakini tidak akan berlangsung lama lantaran sikap pemerintah yang bereaksi langsung mengintervensi rupiah agar tidak tembus Rp 13.000. Ya bicara pelemahan rupiah, banyak memberikan dampak negatif terhadap performance kinerja emiten yang memiliki utang dalam bentuk dollar AS ataupun biaya operasionalnya menggunakan dollar AS, seperti sektor maskapai penerbangan dan pertambangan.

Ke depan, sebagian ekonom dan analis menyakini IHSG akan tumbuh lebih agresif menembus level 6.350. Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, John Rachmat mengatakan, ada beberapa alasan bila IHSG tahun depan akan tembus 6.350 poin. Pertama didukung indikator pendorong perbaikan ekonomi Indonesia yang sudah ada seperti penghematan anggaran dari pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi sentimen positif di pasar saham,”Tahun depan kita prediksikan IHSG di angka 6.350, ada kenaikan sekitar 24-25%," ujarnya.

John menjelaskan, pemangkasan subsidi BBM ini membuat negara punya ruang fiskal yang lebih lebar untuk pembangunan infrastrktur yang lebih baik. Ini jadi sentimen positif di pasar. Selain itu, kondisi politik dalam negeri tahun depan diperkirakan sudah mulai kondusif. Tahun depan, hal yang jadi perhatian adalah soal persetujuan APBNP 2015. Selama tidak ada tarik-menarik yang alot di DPR, pasar akan kondusif.

Lebih jauh John menjelaskan, partai oposisi di tahun depan juga diperkirakan tidak akan menghambat kinerja pemerintahan saat ini. Bahkan, beberapa di antaranya justru akan merapat ke pemerintah. Hal lain yang juga mendorong sentimen positif di pasar adalah soal peringkat S&P terhadap investasi Indonesia yang diperkirakan akan naik,”Menurut S&P, kebijakan fiskal kita konservatif, infrastruktur sangat under, sekarang presiden baru sudah fokus ke situ, sehingga ada respect dari S&P di bulan April, saat ini peringkat kita stabil dan akan naik," ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan pernah bilang, pergerakan positif seluruh indikator makro ekonomi di 2015 diperkirakan akan mendongkrak IHSG menembus level 6300 tahun depan,”Pasca dikeluarkannya kebijakan fiskal maupun moneter yang dikeluarkan pemerintah dan Bank Indonesia, diyakini akan memperbaiki fundamental ekonomi yang lebih menyeluruh," katanya.

Dia mengatakan, perbaikan di hampir seluruh indikator makroekonomi domestik diperkirakan akan melambungkan laju IHSG di 2015 hingga menembus level 6.300. "Kalau sampai akhir 2014 ini, IHSG akan berada di 5.100. Sehingga, di sisa tahun ini indeks akan berfluktuasi pada range 5.050-5.100," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sejauh ini pasar sudah mengapresiasi positif kebijakan fiskal berupa kenaikan harga BBM bersubsidi maupun kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) ke level 7,75%. "Memang di akhir tahun ini inflasinya akan meninggi, pasca kenaikan BBM," imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan jumlah emiten yang bakal listing, masih disikapi BEI secara konservatif lantaran tahun depan menjadi tahun terberat. Pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menurukan target IPO tahun 2015 dari 35 menjadi 32 calon emiten.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Ito Warsito mengatakan, target IPO tahun depan dipangkas karena dinilai terlalu tinggi, sehingga ada potensi untuk kembali tidak tercapai. Tahun ini target IPO sebesar 30 emiten baru meleset dari target dan hanya terealisasi 20 emiten baru karena alasan kondisi politik seiring perhelatan pemilihan umum (pemilu). bani