Asosiasi Konsumen Indonesia

Kamis, 11/12/2014

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Para produsen di Indonesia memiliki Asosiasi Produsen. Para gubernur/bupati/walikota juga berhimpun dalam asosiasi. Himpunan-himpunan profesi, paguyuban dan bahkan relawanpun saat ini tumbuh subur dan berkembang di Indonesia untuk menunjukkan bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk membangun negeri ini sebagai bukti rasa cinta tanah air mereka.

Kekuatan mereka tidak boleh dinafikkan, bahkan harus diberikan ruang dan akses untuk memberikan kontribusi yang positif bagi kemajuan bangsanya. Melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa kecuali untuk membuat "Asosiasi Konsumen Indonesia".

Misi utamanya adalah membangkitkan kesadaran 240 juta penduduk Indonesia yang notabene adalah para konsumen potensial yang akan mampu menjadi katalis berputarnya mesin produksi di dalam negeri. Asosiasi Konsumen Indonesia adalah mitra strategis para Asosiasi Produsen Indonesia.

Hubungan mereka bersifat "take and give" dalam rangka membangun kekuatan ekkonomi nasional di era gobalisasi dan perdagangan bebas. Pemerintah sebaiknya dapat memberikan dukungan untuk lahirnya asosiasi Konsumen ini karena peran mereka sangat penting dan sepenting adanya Asosiasi Produsen. Keduanya adalah penggerak perekonomian, dan keduanya harus ditempatkan di garda paling depan untuk menggerakkan ekonomi nasional, dan menghidupkan pasar dalam negeri agar tidak dibanjiri oleh barang impor.

Progam P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri) yang dijalankan oleh pemerintah selama ini hanya berjalan dengan baik jika Asosiasi Konsumen dapat bekerjasama dengan pemerintah dan dunia usaha karena memang progam tersebut harus digerakkan oleh tiga poros penggerak ekonomi domestik tersebut. Asosiasi ini sifatnya voluntir, dimulai dari model-model semacam komunitas yang mampu membangun komunitasnya sendiri untuk menggunakan produk dalam negeri.

Kegiatan mereka harus diberikan akses oleh para produsen melihat pusat-pusat produksi, inovasi yang sedang tumbuh agar antara produsen dan konsumen saling bisa memahami kulturnya masing-masing. Intensitas hubungan mereka harus sedemikian rupa, dan pemerintah harus memberikan dukungannya secara seimbang.

Mewujudkan perekonomian domestik yang berdaya saing dan berkelanjutan selalu memerlukan hadirnya produsen dan konsumen yang loyal. Harmonisasi hubungan di antara keduanya nyaris sulit digugat oleh WTO karena mereka dinilai melakukan proteksi pasar dalam negeri. Paling tidak mereka akan sulit mendapatkan bukti material karena apa yang mereka lakukan adalah merupakan bagian dari membangun kedaulatan, ketahanan dan kemandirian ekonomi bangsanya.

WTO tidak bisa serta merta menuduh bahwa apa yang produsen dan konsumen lakukan bersama adalah sebuah praktek oligarki ekonomi untuk mengamankan pasar dalam negerinya karena kerjasama yang dibangun tidak bersifat mandatory. Mereka hanya membangun sebuah kesadaran nasional bersama bahwa ekonomi Indonesia hanya akan bisa maju dan tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang besar di kawasan jika para produsen dan konsumennya terbentuk semangat mutual benefit, dan mutual recognaize yang bersifat alami.