Industri Asuransi Umum Melambat - Serapan Anggaran Pemerintah Ditunda

NERACA

Jakarta - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat pertumbuhan industri asuransi umum pada kuartal III 2014 sebesar 14,8% atau melambat dibanding kuartal kedua dan kuartal pertama tumbuh masing-masing 20% dan 18,9%. Pelambatan itu paling banyak dipengaruhi oleh adanya transisi pemerintahan yang mengerem realisasi penyerapan anggaran pemerintah.

"Berbagai kementerian dan lembaga dalam menggunakan anggaran banyak yang melakukan penundaan karena menunggu kebijakan pemerintahan baru," ujar Direktur Eksekutif AAUI, Julian Noor di Jakarta, Selasa (9/12).

Hingga kuartal ketiga, kata dia, industri asuransi umum membukukan perolehan premi bruto Rp38,97 triliun. Sektor paling banyak yang menopang premi tersebut adalah lini usaha asuransi harta benda dengan premi bruto Rp10,53 triliun, dan kendaraan bermotor sebesar Rp11,82 triliun.

Jika dibandingkan periode yang sama di 2013, industri asuransi umum mencatatkan pertumbuhan 14,8%. Menurut data AAUI, lini usaha asuransi aviasi dan kecelakaan termasuk lini yang mengalami penurunan pendapatan premi. Sektor aviasi yang kini digabung dengan asuransi satelit mencatatkan penurunan premi bruto menjadi Rp515,1 miliar dibanding periode yang sama di 2013 sebesar Rp610,5 miliar.

Sedangkan, asuransi kecelakaan turun preminya menjadi Rp1,13 triliun dari Rp1,7 triliun dari periode yang sama di 2013. Julian juga mengatakan penurunan drastis premi kecelakaan karena usainya momentum Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014. "Naiknya saat Pemilu saja, dan setelah usai akhirnya turun preminya," jelas dia.

Didominasi kendaraan bermotor

Sementara itu, pertumbuhan klaim bruto asuransi umum malah lebih tinggi dibanding perolehan premi pada kuartal III 2014, dibandngkan periode sama 2013. Pertumbuhan klaim bruto mencapai 18,6% atau sebesar Rp16,42 triliun.

Klaim yang tinggi tercatat pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor sebesar Rp5,4 triliun atau tumbuh 16,4% dibanding periode sama di 2013. Kemudian, lini usaha asuransi harta benda pun mencatatkan peningkatan klaim yang tinggi sebesar Rp4,04 triliun atau tumbuh 20,6%.

Ketua Umum AAUI, Ahmad Fauzi Darwis, yakin pertumbuhan klaim yang tinggi tersebut tidak akan menekan laba industri secara signifikan. Jika pendapatan operasional tertekan, Fauzi mengatakan, pendapatan industri masih tertolong dari pendapatan investasi.

"Jadi kalo klaim naik, pendapatan operasional memang turun, tapi bunga bank ikut naik juga. Artinya pendapatan non-operasional kita naik," katanya. AAUI optimis hingga akhir tahun industri asuransi umum akan tumbuh mencapai 19% atau dengan premi bruto sekitar Rp46 triliun, salah satunya karena sudah menggeliatnya kembali belanja pemerintah.

Reasuransi tumbuh

Namun, premi bruto reasuransi umum hingga triwulan III-2014 mengalami kenaikan 29,2% atau mencapai Rp2,91 triliun, dibandingkan dengan triwulan III-2013. “Pertumbuhan terbesar pada premi bruto secara nominal dicapai oleh lini usaha Asuransi Energi dengan kenaikan sebesar Rp126 miliar,” paparnya.

Dia menjelaskan, pertumbuhan terbesar setelah lini usaha asuransi energi diikuti oleh lini usaha Asuransi Harta Benda yang pada kuartal III-2014 tercatat sebesar Rp1,1 triliun, mengalami peningkatan sebanyak 17,8% bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat Rp984 miliar.

Sementara itu, untuk klaim bruto sampai dengan triwulan III-2014 tercatat sebesar Rp1,35 triliun, mengalami peningkatan sebanyak 60,1% bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013, yang tercatat sebesar Rp843 miliar.

Peningkatan klaim tertinggi tercatat pada lini usaha Asuransi Harta Benda yang mencatatkan peningkatan klaim bruto sebesar Rp140 miliar, diikuti dengan lini Asuransi Rangka Kapal yang mencatatkan peningkatan klaim sebesar Rp102 miliar. [ardi]

BERITA TERKAIT

Mendongkrak Literasi dan Inklusi Keuangan dengan "Membumikan" Asuransi

Mendongkrak Literasi dan Inklusi Keuangan dengan "Membumikan" Asuransi NERACA Jakarta - Hasil riset Otoritas Jasa Keuangan pada 2016 menyebut bahwa…

Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri - Jelang 60 Tahun RI-Jepang

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Regulator Tidak Akan Beratkan Pelaku Industri

Regulator Tidak Akan Beratkan Pelaku Industri Pangsa pasar IoT di Indonesia diprediksi mencapai Rp444 triliun pada tahun 2022 dengan lebih…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Ancaman Serangan Siber ke Industri Keuangan Meningkat

    NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengingatkan ancaman serangan siber terhadap sistem…

BTN Siapkan 2.000 Unit Apartemen di Kawasan Undip

      NERACA   Semarang - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggelar kemitraan dengan Ikatan Keluarga Alumni Universitas…

Bank Mandiri Incar Fintech Potensial

      NERACA   Jakarta - Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mengembangan industri kreatif di tanah air untuk menciptakan…