2015, Kemiskinan Jadi Ancaman

PERTUMBUHAN EKONOMI TETAP LOYO

Rabu, 10/12/2014

Jakarta – Kalangan pengamat menilai Indonesia akan menghadapi tekanan berat terutama dalam merealisasikan target pertumbuhan ekonomi 7% pada 2015, setelah tiga lembaga keuangan internasional (Bank Dunia, IMF, ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 di kisaran 5,1%-5,3% dan pada 2015 di level 5,2%-5,8%. Ini sekaligus menunjukkan rendahnya pertumbuhan berdampak pada upaya pengentasan kemiskinan di negeri ini.

NERACA

Guru besar ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengatakan, agak sulit mendorong pertumbuhan ekonomi dengan kondisi tingkat BI Rate yang cukup tinggi saat ini 7,75%. Namun, yang terpenting pemerintah harus menerapkan reformasi kebijakan struktural. Pasalnya, sejauh ini pertumbuhan ekonomi hanya didorong oleh konsumsi. Padahal, pertumbuhan ekonomi yang didorong lewat konsumsi akan bersifat jangka pendek sehingga kurang baik bagi pertumbuhan secara keseluruhan.

Dia memberi contoh, jika pemerintah menggenjot sektor investasi untuk diandalkan bagi pertumbuhan ekonomi, akan jauh lebih baik karena jangka panjang dan berpengaruh positif terhadap pembukaan lapangan kerja baru, dan menggerakkan kinerja ekspor dengan meningkatkan produk buatan dalam negeri.

“Pemerintah harus berani melakukan sejumlah gebrakan untuk membalikkan defisit menjadi surplus, prioritas adalah memperkuat fondasi ekonomi. Struktur ekonomi kita 55% mengandalkan pada konsumsi, lalu sekitar 26% mengandalkan investasi,"ujarnya kepada Neraca, Selasa (9/12).

Menurut pengamat ekonomi LIPI Latief Adam, dari konteks inflasi, upaya stabilisasi harga yang dilakukan pemerintah dan BI selama ini sudah berhasil. Tetapi, dari konteks peningkatan kesejahteraan warga, pemerintah masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan dalam mengelola perekonomian sesuai dengan kebutuhan. Bank Indonesia sudah seharusnya mulai mengkaji ulang kebijakan moneter ketat guna mendorong investasi dan sektor riil lebih besar. Alhasil, pertumbuhan ekonomi kian meningkat, sekaligus menciptakan kesempatan kerja formal.

"Oleh karenanya, diharapkan pemerintah fokus ke peningkatan sektor riil guna menggenjot pertumbuhan ekonomi, antara lain meningkatkan investasi, perbaikan infrastruktur dan lain sebagainya," kata dia.

Menurut dia, BI memang berpeluang menaikkan suku bunga acuan semester I-2015 demi mengantisipasi kebijakan AS. Kebijakan ini akan semakin menekan sektor riil. Kenaikan suku bunga berdampak pada perekonomian, investasi, penciptaan lapangan kerja serta sektor riil secara keseluruhan.

"Pertumbuhan ekonomi bisa tertekan karena konsumsi rumah tangga ikut meloyo. Jika ini terjadi, keinginan mendongkrak pertumbuhan lebih tinggi jelas akan terhambat," ujarnya.

Kaji Asumsi APBN

Latief mengungkapkan pemerintah seharusnya tetap optimis bahwa kondisi perekonomian akan terus membaik di tahun mendatang. Namun, dia juga menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan hal-hal yang mungkin bisa menjadi hambatan dan kendala dalam menjalankan APBN 2015. Pemerintah haruslah mengantisipasi asumsi dasar ekonomi yang terkait dengan kurs rupiah pada APBN 2015 yang telah disepakati dalam pembahasan antara pemerintah dan DPR bahwa nilai tukar rata-rata rupiah adalah Rp11.900 per US$.

Dia menambahkan melemahnya angka pertumbuhan ekonomi berdampak pada penurunan angka tenaga kerja. Tidak hanya itu, kualitas pertumbuhan yang menurun membuat penyerapan tenaga kerja tidak berjalan optimal.

"Meningkatnya angka pengangguran terbuka tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang melambat. Selalu ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Untuk mengurangi tingkat pengangguran, saya meminta sektor pendidikan memberikan lebih banyak motivasi agar para generasi muda mau berwirausaha sehingga mengurangi angka pengangguran," tutur Latief.

Bagaimanapun, tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah mencerminkan kualitas pembangunan juga rendah, yang tentunya juga mencerminkan ukuran penduduk miskin yang kian meningkat. Jika kualitas pembangunan tinggi, maka standar ukuran kemiskinan juga tinggi. Rendahnya kualitas pembangunan ini terlihat dari akses masyarakat miskin terhadap hasil hasil pembangunan yang juga rendah. Itulah sebabnya indeks pembangunan manusia Indonesia yang dilihat dari kualitas kesehatan, pendidikan dan daya beli, juga masih rendah.

Akibat melemahnya pertumbuhan investasi dan ekspor, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 5,2%, sedikit di bawah proyeksi Bank Dunia yang dirilis Juli 2014 lalu, yaitu sebesar 5,6%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diperkirakan mencapai 5,1%, lebih rendah dari 5,2% yang sebelumnya diperkirakan. ADB juga semula memprediksi pertumbuhan 2014 sebesar 5,7% turun menjadi 5,3%, dan proyeksi pertumbuhan 2015 semula 6% menjadi 5,8%.

Pengamat Ekonomi Hendri Saparini memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun depan akan sulit mencapai target yang dipasang oleh pemerintah yaitu diangka 7%. Pasalnya, menurut dia, ada beberapa faktor baik dari internal maupun eksternal yang berpotensi akan terjadi pada tahun depan. “Pada tahun depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai angka 5,6%. Angka ini muncul setelah mempertimbangkan kebijakan moneter yang akan diambil bank sentral AS (The Fed) pada awal tahun depan,” ujarnya.

Dia menambahkan naiknya harga BBM bersubsidi diproyeksi tidak akan begitu memengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, namun akan berdampak besar pada kenaikan tingkat inflasi dan penentuan suku bunga BI Rate. “Kenaikan BBM bersubsidi juga akan terasa efeknya pada 2015. Hal ini akan menyebabkan inflasi sebesar 8%-9% dan BI Rate diprediksi mencapai 8% tahun depan. Kenaikan BI rate tentunya bisa mempengaruhi daya beli masyarakat. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh konsumsi masyarakat, tahun depan akan terasa semakin berat,” jelas Hendri.

Pengamat ekonomi UI Telisa Aulia Felianty mengatakan, ekspektasi pemerintah baru Jokowi – JK untuk mendorong pertumbuhan tinggi pada 2015 yang ditargetkan sebesar 5,8% akan sulit tercapai mengingat kondisi ekonomi global yang membaik maka akan banyak investor asing yang menarik dananya keluar. “Sangat pesimis bisa mengejar pertumbuhan tinggi di tahun 2015 paling mentok pertumbuhan hanya dikisaran 5,5%,” ujarnya. .

Selain itu juga, ada kecenderungan sisi internal bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, itu pun jika memang Jokowi benar-benar merealisasikan programnya seperti pengembangan maritim, pembangunan infrastruktur, pengelolaan energi yang lebih baik itu sedikit dapat membantu ekonomi nasional itu pun tidak langsung di awal tahun 2015 bisa di akhir bahkan di 2016 nanti. agus/bari/iwan/mohar